Daerah

Sumpah Pocong Lamtim Berakhir Damai

Dua keluarga di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, melakukan sumpah pocong/Net

LAMPUNG TIMUR – Kasus sengketa lahan tanah yang melibatkan dua keluarga ahli waris, di Desa Negeri Jemanten, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, berakhir dengan prosesi sumpah pocong.

Kedua belah pihak yang berselisih tentang kepemilikan tanah seluas 1,5 hektare itu, menyepakati hasil mufakat setelah adanya prosesi sumpah pocong.

Seperti diketahui, warga di Desa Negeri Jemanten, Kecamatan Marga Tiga, Selasa kemarin, dihebohkan dengan adanya prosesi sumpah pocong yang dilakukan dua belah pihak keluarga ahli waris, tentang perselisihan lahan tanah seluas 1,5 hektare di desa setempat.

Prosesi sumpah pocong dilaksanakan di dalam sebuah masjid dikawasan Desa Tanjung Harapan, Lampung Timur.

Baca Juga:  Pesawaran Aman dari Virus Cacar Monyet

Masing-masing pihak keluarga yang berselisih tentang kepemilikan hak lahan tanah itu, yakni keluarga ahli waris dari almarhum Muhammad Ali, dengan seorang warga bernama Jaelani.

Keduanya berselisih dan saling mengklaim tentang kepemilikan lahan tanah seluas 1,5 hektare di desa tempat tinggalnya.

Meski sempat diadakan upaya secara kekeluargaan serta mufakat dengan dimediasi aparat pemerintahan setempat. Namun salah satu pihak keluarga meminta diadakannya prosesi sumaph pocong, yang dianggap sebagai jalan tengah untuk menyelesaikan perselisiahan tentang kepemilikan lahan tanah tersebut.

sot i : adam syah efendi/ pelaku sumpah pocong (ahli waris pak kali)

Sementara menurut tokoh adat Desa Negeri Jemanten, Syamsi, mengatakan, kedua belah pihak yang berselisih awalnya merupakan warga desanya.

Baca Juga:  Jajaran TNI Ikut Wujudkan Pembangunan di Daerah

“Tapi saat ini keluarga Jaelani tidak lagi bertempat tinggal di desa tersebut,” kata Syamsi, kemarin.

Pihak keluarga Jaelani mengklaim kepemilikan tanah seluas 1,5 hektare milik keluarga ahli waris almarhum Muhammad Ali, berdasarkan surat bertuliskan aksara Lampung yang dimilikinya.

Namun, pihak keluarga ahli waris Muhammad Ali, memiliki surat tanah yang dikeluarkan oleh pihak desa dan kecamatan yang tertulis sejak tahun 1967.

Kasus perselisihan lahan tanah seluas 1,5 hektare ini akhirnya tercapai mufakat damai, setelah diadakannya prosesi sumpah pocong yang dilakukan kedua belah pihak keluarga yang berselisih.

Mereka juga saling menerima hasil musyawarah serta kesepakatan perjanjian yang telah dibuat oleh aparatur desa, serta dihadiri tokoh adat Lampung di desa setempat.(TS)

Baca Juga:  Oknum Pejabat PU Lampung Timur Bersekongkol Sikat Dana Islamic Center
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top