Pendidikan

Sekolah Modern Ditengah Desa, SDI MY Habiebie jadi Sekolah Idola

Sekolah Dasar Islam (SDI) Muhammad Yunus (MY) Habiebie Desa Kroyolor, Kecamatan Kemiri, Purworejo/MAS

Suluh.co – Sedikitnya 50 siswa Sekolah Dasar Islam (SDI) Muhammad Yunus (MY) Habiebie Desa Kroyolor, Kecamatan Kemiri Purworejo, mengikuti kegiatan outbond, Sabtu (6/10/21). Menerapkan protokol kesehatan ketat, siswa dan orang tua diajak untuk lebih mengenal lingkungan sekolah.

SDI MY Habibie memang relatif baru di dunia pendidikan Kabupaten Purworejo, namun daya tarik SD ini terkait fasilitas dan kurikulum mampu membius banyak ayah bunda untuk menyekolahkan anaknya di MY Habiebie, terbukti masih 3 tahun berjalan sudah memiliki murid 50 anak. Sekolah ini baru memberikan pendidikan bagi siswa kelas 1, 2 dan 3 saja. Lokasinya juga relatif jauh dari pinggir jalan utama, namun sangat muda di temukan.

Baca Juga:  Soto Pak Tono Legendaris Plaosan Jalan Buntu

Kepala SDI MY Habiebie, Anteng Arsiyati mengatakan jika sudah beberapa waktu anak memang sudah melakukan pembelajaran tatap muka.

“Selama ini kita memang melakukan pendidikan dengan sistem daring dan luring. Namun hari ini, akan kita pertemukan kembali untuk mengikuti outbond ini. Harapannya agar mereka semakin akrab dengan teman ataupun adik kelasnya,” jelas Anteng.

Sebelum ada pandemi, konsep pembelajarann yang diberikan juga tidak sekedar di dalam kelas. Anak kerap diajak mengikuti pendidikan luar kelas. Hal ini amat penting, untuk memberikan pengayaan pengetahuan dan pengalaman bagi anak.

“Dan outbond yang digelar ini untuk lebih memperkuat karakter anak dimana mereka akan lebih mudah bergaul dengan masyarakat,” imbuh Anteng.

Baca Juga:  PPDB 2019 Bandar Lampung, Siswa Baru Tak Lagi Dapat Memilih Sekolah di Luar Wilayah

Dijelaskan jika konsep pendidikan memang bernafaskan Islam. Dimana saban pagi anak diberikan hafalan asmaul husna serta hafalan quran. Ini selaras dengan harapan sekolah dimana saat anak sudah lulus dari sekolah sudah memiliki hafalan Quran walaupun beberapa juz.

“Kami ingin mewarnai dunia pendidikan Islami di sisi barat Purworejo ini,” imuh Anteng.

Arum Wahyu sebagai pihak pendamping outbond mengatakan jika ada beberapa permainan yang diberikan kepada siswa. Game-game itu lebih banyak diarahkan yang mengajak mereka untuk saling bekerjasama.

“Jadi konsepnya adalah mengedepankan silaturahmi antara siswa, orang tua dan sekolah,” kata Arum.

Menurut Arum, anak-anak selama ini sudah bosan harus selalu berada di rumah. Dan permainan yang mengarah kepada kebersamaan akan membuat mereka saling berinteraksi dengan temannya.

Baca Juga:  Ketua Umum UKM-F Mahkamah Dilantik

“Kita memilih konsep yang ada di sekolah saja dan menghadirkan proses pembuatan gerabah agar lebih menarik dan edukatif. Selain hemat, juga menyesuaikan karena adanya pandemi ini,” jelas Arum.

Reporter : Mahestya Andi Sanjaya

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top