Panggung

Rambo! Soewandi Pahlawan Asal Loano

Tempat peristirahatan terakhir Purn TNI AD  Letkol Soewandi/MAS

PURWOREJO – Kabupaten Purworejo terkenal dengan kota kelahiran banyak tokoh nasional, diantaranya ialah WR Soepratman, Jendral Ahmad Yani, Sarwo Edhie Wibowo, Jendral Oerip Soemoharjo dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh tesebut menjadi salah satu api yang harus selalu dihidupkan di Kabupaten Purworejo terkait nasionalisme.

Yang tak banyak diketahui oleh masyarakat Purworejo pahlawan Purn TNI AD  Letkol Soewandi yang terlahir di Desa sebelah barat aliran Sungai Bogowonto, yaitu Desa Sejiwan Trirejo pada tahun 1925, anak laki dari Tjokromijojo.

Letkol Soewandi memiliki 6 anak, yakni Tunung Subroto, Sudharmawatiningsih, Krido Suprayitno, Tuhu Sudarmanto, Poerna Sri Oetari, Ripsih Sumartani Lestari, 13 cucu 1 cicit. Wafat tanggal 3 maret 2014, dalam usia hampir 90 tahun di pemakaman Sejiwan Tegal, Desa Trirejo.

Tunung Subroto anak petama, menceritakan sejarah singkat ayahanda, seperti anak pada umumnya, saat kecil beliau habiskan dengan bersekolah di Sekolah Rakyat Loano, dan melanjutkan ke CVO untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi takdir menolaknya dan menakdirkan beliau untuk menjadi pahlawan dengan tanda jasa. Dan akhirnya beliau menjadi anggota PETA.

Baca Juga:  BPJS Kesehatan Turun Kampung

“Awal perjuangan beliau mulai menjadi anggota BKR yang ikut melucuti senjata tentara Jepang di berbagai daerah di Jawa Tengah,” terangnya.

Salah satu kisah heroik yang paling mengesankan adalah ketika beliau menjadi seperti seorang jago tembak, Sang Rambo Purworejo. Dengan gagah berani beliau hanya sendirian menghadang barisan kompeni Belanda yang pergi ke Semarang. Beliau memasang ranjau di Front Geger Menjangan yang tak jauh dari kediaman beliau sendiri. Ternyata hal tersebut berhasil, beliau bisa merubuhkan satu truk barisan Belanda, tetapi baku tembak juga tidak bisa dielakkan kepala beliau nyaris tertembak, tetapi Dewi Fortuna menyertainya sehingga beliau masih sehat wal afiat waktu itu.

Tepat memperingati 17 Agustus 2020, keluarga besar  Soewandi mengadakan ziarah di makam beliau dan syukuran di kediamanya dengan dihadiri langsung oleh tokoh masyarakat Purworejo seperti Purnawirawan Mayjen Pratimun dan Angko Setiyarso Widodo.

Purnawirawan Mayjen Pratimun  menyampaikan, anak muda saat ini harus banyak bersyukur dengan nikmat kemerdekaan yang telah diterimanya sekarang, harus diketahui bahwa berangkat pada era revolusi para pahlawan memberikan hidup mereka untuk merebut kemerdekaan hingga bedarah-darah, bahkan kehilangan nyawa.

Baca Juga:  Penjual Bakso Bakar Purworejo Lamar Mahasiswi Usai Wisuda

“Patut berbangga bahwa negara Indonesia salah satu negara yang mendapatkan kemerdekaan dengan titik darah penghabisannya sendiri. Bukan dari pemberian negara lain, kemerdekaan pejuangan bangsa sendiri itulah yang harus diteladani,” paparnya.

Pada awal kemerdekaan Indonesia menghadapi tantangan cukup banyak, dari dalam negeri maupun luar negeri, pembeontakan dalam negeri yang mendapat sokongan asing, hingga membuat perang adu domba, ada juga Belanda membonceng Inggris, perang 10 Novemve 45, 30S PKI dan masih banyak lagi. Sehingga membuat Indonesia mengalami banyak perubahan dalam sistem pemerintahannya, diantaranya perubahan negara dari kesatuan,  Republik Indonesia Serikat, parlemente, pemilu dan Kembali ke UUD 45.

“Tatangan cukup berat bagi anak muda saat ini, lahir di era yang jauh dari pendahulu, sekarang harus mampu meneruskan pengorbanan yang tanpa pamrih, mampu meneladani pemimpin kita indonesi  yang sejahtera adil, dalam kemajuan teknologi ditambah dengan wawasan yang luas dan ketakwaan kepada Tuhan, harus bisa menjaga idealisem nilai-nilai dengan kejujuran,”

Baca Juga:  Kopdar Safe Food Indonesia (SFI) Lampung bahas Owner Leadership

Semangat berbuat baik memang berat, namun Mutiara dilumpur tetap menjadi mutiara.

Teladan TNI adalah Jendral besar Soederman, generasi muda perlu mengenalnya juga. Selain itu memantapkan Pendidikan kewarganegaraan wawasan kebangsaan dan pejuangan, dari tingkat dasar hingga peguruan tinggi.

“Mencintai tanah air sebenarnya sangat sedehana bemula dari hal kecil, jaga kebesihan, ikuti tata tertib lingkungan dan berkendara, disiplin kerja dan mencintai keluarga di ibangi juga takwa. Tatangan kedepan perang ialah jalan terakhir, dikarnakan saat perang sudah tejadi dalam bebagai bindang seperti ekonomi, media dan banyak lagi,” terangnya.

Sebagai bangsa yang mandiri idialis untuk Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan dibangun sejak kecil.(Mahesta Andi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top