Pendidikan

PMI Simulasi Penanganan Bencana di SMPN 4 Purworejo

Simulasi penanganan bencana di SMPN 4 Purworejo/MAS

PURWOREJO – Suara sirene yang meraung keras membuat panik, aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 4 Purworejo yang semula kondusif tiba-tiba terhenti dan berubah tegang, pada Kamis (26/9) siang.

Ratusan siswa bersama warga sekolah langsung berhamburan menyelamatkan diri. Berlindung di tempat aman, lalu segera menuju titik kumpul di halaman sekolah setelah suara sirine berhenti dan situasi dinyatakan aman.

Belasan siswa yang tertimpa reruntuhan bangunan, terluka. Peristiwa menegangkan itu bukanlah kejadian nyata, melainkan hanya skenario kegiatan simulasi penanganan bencana gempa yang berlangsung di SMPN 4 Purworejo.

Simulasi menjadi bagian kegiatan pelatihan siaga bencana berbasis sekolah bagi pembina Palang Merah Remaja (PMR) Madya se-Kabupaten Purworejo, yang difasilitasi oleh Palang Merah Indonesia Kabupaten Purworejo.

Simulasi diawali dengan adanya gempa tektonik berkekuatan sekitar 6 SR.  Sekolah lalu membunyikan sirine sebagai tanda bahaya. Siswa yang masih berada di dalam kelas diarahkan menyelamatkan diri, memanfaatkan benda-benda di sekitarnya untuk berlindung.

Baca Juga:  Upaya Ridho Kembangkan Itera Dapat Perhatian Presiden, Tahun Ini akan Bangun 6 Gedung 

Setelah gempa berhenti, arahan berlanjut untuk menuju titik kumpul. Sekitar 15 siswa yang mengalami luka ringan hingga berat, langsung diberi pertolongan pertama. Pihak sekolah menghubungi PMI untuk memberikan penanganan medis lanjutan dan membawa korban parah menggunakan ambulance ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Simulasi ini merupakan kegiatan akhir, sebelum nanti kita adakan evaluasi dan penutupan. Untuk pelatihan kita laksanakan selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis kemarin,” kata R Samsul Hidayat, Pembina PMR SMPN 27 Purworejo, selaku Ketua Panitia Kegiatan.

Samsul Hidayat menyebut, simulasi diikuti seluruh siswa, guru, dan karyawan SMPN 4, serta sekitar 56 guru Pembina PMR Madya atau SMP/MTs yang menjadi peserta pelatihan. Semua yang terlibat diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh saat benar-benar terjadi bencana. Lebih dari itu, menularkan ilmu di lingkungannya.

Baca Juga:  Disdikbud Lampung Rancang Perda PPDB, 90% Zonasi dan 10% Luar Zonasi

Khusus bagi para peserta, kegiatan yang diikuti selama 3 hari tersebut diharapkan menambah pemahaman dan keterampilan tentang bencana serta mengembangkan ekstra PMR di sekolah masing-masing.

“Ini sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab bersama,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 4 Eko Partono, memberikan apresiasi kepada PMI atas berlangsungnya kegiatan di sekolahnya. Keterlibatan sekitar 760 siswa dan warga sekolah kian meningkatkan kemampuan dalam menyikapi bencana.

“Sebelumnya sudah pernah dan ini semakin memantapkan. Dengan adanya kegiatan seperti ini kompetensi siswa bertambah. Kita harapkan dimana saja berada, jika memang ada bencana, mampu menyelamatkan diri dan orang lain,” ungkapnya.

Pelatihan ditutup oleh Ketua PMI Kabupaten Purworejo, Yuli Hastuti SH. Dalam sambutannya, pihaknya menegaskan bahwa PMR adalah suatu organisasi binaan dari PMI yang berpusat di sekolah-sekolah atau kelompok-kelompok masyarakat yang bertujuan membangun karakter Kepalangmerahan agar siap menjadi Relawan PMI masa depan.

Baca Juga:  UIN Raden Intan Kembangkan Usaha Kafe

Selain itu, untuk memberikan pelayanan yang maksimal dan bermutu baik, anggota PMR harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung pelayanan tersebut. Karena itulah, perekrutan, pelatihan, pembinaan dan mobilisasi anggota PMR maupun Guru Pembina PMR secara kontinyu dilakukan oleh PMI.

“Sesuai dengan tema kegiatan yaitu Kita Tangguh Indonesia Maju, maka anggota PMR harus berkarakter, kompeten, professional, dan siaga,” tegasnya.(MAS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top