Pendapat

Petani Bersiap & Biaya Pendidikan Harus Dibebaskan

Oleh : Ismi Ramadhoni

Mahasiswa Tingkat Akhir di Universitas Lampung

Virus Covid-19 semakin hari kian mengkhawatirkan, tingkat penularan yang terhitung tinggi hingga gagapnya pemerintah pusat menghadapi wabah pandemi global ini semakin memperburuk kepanikan sosial yang terjadi pada masyarakat.

Beberapa alternatif kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah ternyata belum berhasil menghentikan penyebaran Covid-19 secara signifikan. Hingga wabah ini bukan saja lagi mengancam kesehatan manusia, juga menjadi ancaman serius hampir seluruh negara di dunia.

Desakan lockdown atau apa yang disebut dalam UU No 6 Tahun 2018 dengan karantina wilayah kian santer disuarakan, supaya pemerintah cepat mengambil keputusan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan mengunci akses keluar masuk pada suatu wilayah dan memastikan berhentinya aktivitas masyarakat.

Kemunculan virus corona ini bermula di Provinsi Wuhan, Cina. Bukannya berpikir melakukan mitigasi wabah, pemerintah pusat justru pusing karena menurunnya kunjungan turis mancanegara terutama didominasi oleh warga Cina.

Sehingga Presiden menggelontorkan miliaran rupiah menggaet influencer untuk mempromosikan dan menambah daya pikat wisatawan luar negeri untuk berkunjung ke Indonesia juga dengan cara memberi diskon khusus maskapai penerbangan bebas visa yang hendak melancong ke Indonesia.

Pemerintah sedang bercanda dengan keselamatan rakyat, sehingga pada 2 Maret 2020 Presiden Jokowi mengkonfirmasi dua kasus pertama covid-19 di tanah air. Belum sampai satu bulan, positif covid-19 di Indonesia sudah mencapai 1,285 kasus.

Baca Juga:  Belajar Progresif dari Bumnag (BumDes) Tanjung Baringin

Presiden terutama Menteri Kesehatan dinilai tidak cakap untuk memprediksi penyebaran covid-19 sampai tiba di Indonesia dan kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus covid-19 sebagai pandemi global yang sedang menyerang daya tahan dunia.

Negara mengalami kepanikan, petugas kesehatan satu per satu berguguran, para perantau berbondong-bondong pulang kampung sehingga menimbulkan ketakutan di masyarakat.

Kepanikan negara mulai muncul dari beragam institusi, mulai dari Mendikbud Nadiem Makarim memutuskan untuk meniadakan ujian nasional yang akan diikuti 8,3 juta siswa demi pencegahan covid-19. Kampus-kampus mulai dirumahkan dengan opsi belajar menggunakan sistem online yang ternyata belum efektif.

Bank Indonesia sebagai juru kunci kebijakan moneter negara juga turun gunung untuk menghentikan berkembangnya penularan virus corona, tujuh langkah yang dilakukan Bank Indonesia salah satu diantaranya adalah memperkuat kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung upaya mitigasi penyebaran Covid-19 melalui ketersediaan uang layak edar yang higienis, layanan kas, dan backup layanan kas alternatif, serta mengimbau masyarakat agar lebih banyak menggunakan transaksi pembayaran secara non tunai.

Resesi ekonomi dipastikan terjadi tidak hanya di wilayah Asia Tenggara juga melanda dunia, karena negara-negara maju yang terdampak sebagai kekuatan raksasa ekonomi dunia memilih untuk menghentikan wabah pandemi dengan melakukan kebijakan lockdown, sehingga berdampak pada stagnansi perekonomian dunia.

Baca Juga:  Pendemi Covid-19, UMKM Mesuji Babak Belur

Ghana mulai Senin (30/3) memberlakukan lockdown ke tiga kota yakni Accra, Kumasi, dan Tema. Pemerintah Ghana berani mengambil resiko mengingat ketiga kota tersebut adalah episentrum ekonomi di Negara Ghana.

Presiden Ghana Nana Akufo Addo hadir dan meyakinkan masyarakat dengan pernyataan yang menjanjikan,

“Saya yakinkan Anda bahwa kami tahu apa yang harus dilakukan untuk menghidupkan kembali perekonomian. Apa yang kita tak tahu adalah menghidupkan kembali orang (meninggal),” harapnya. Padahal Ghana baru mengkonfirmasi sebesar 152 kasus covid-19.

Karantina wilayah terutama di daerah yang tingkat penyebarannya sangat tinggi tentu menjadi pilihan terakhir pemerintah. Karena penyebaran covid-19 yang terlalu lama juga berimbas terhadap seluruh sektor penting terutama pertanian dan pendidikan.

Pertanian adalah hal pokok yang harus tetap terjaga dalam situasi terberat seperti ini, agar ketersediaan pangan mencukupi sebagai kesiapan kita menghadapi karantina wilayah. Petani harus tetap ke sawah untuk memastikan nasi tetap tersedia di meja makan.

Usaha-usaha masyarakat yang mati akibat karantina wilayah, terutama daya beli hasil-hasil pertanian harus tetap stabil sehingga sirkulasi ekonomi pendapatan petani tidak lumpuh.

Baca Juga:  Herman HN Imbau Warga Terapkan Protokol Kesehatan

Matinya perekonomian masyarakat harus diberikan keringanan oleh pemerintah terhadap kredit hutang di bank dan biaya UKT semester di kampus. Pemerintah harus memerintahkan institusi pendidikan tinggi untuk membebaskan biaya kuliah selama pandemi global ini berlangsung, karena jelas keterkaitannya dengan matinya perekonomian masyarakat. Sehingga membuat masyarakat tidak semakin stress.

Ini saatnya bagi orang tua untuk memberikan edukasi secara teratur untuk anak-anaknya di rumah agar anak-anak kita terus berpikir dan memahami situasi ini sebagai pelajaran penting dimasa depan.

Pertanian dan pendidikan adalah dua hal penting untuk bersiap menghadapi karantina wilayah di Indonesia. Dua hal penting ini harus tetap terjaga untuk dilaksanakan secara terukur dan efisien.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top