Pendapat

Pesawaran, Surga Tersembunyi yang luput dari Radar Pencarian (I)

Oleh : Wildan Hanafi

Mahasiswa Pertanian Universitas Lampung, Penggiat Literasi

KABUPATEN Pesawaran  adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung Indonesia. Kabupaten ini diresmikan pada tanggal 2 November 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran.

Semula kabupaten ini merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Selatan. Saat ini Bupati Kabupaten Pesawaran H.Dendi Ramadhona S.T, dan wakil  Eriawan, S.H Wilayah ini termasuk kabupaten mendapat sorotan. Setelah beberapa kasus Korupsi terbongkar, kebobrokan demi kebobrokan Dugaan Korupsi Proyek Pembangunan RSUD Pesawaran.

Menurut catatan media, kasus korupsi pada pembangunan gedung rawat inap, lantai II dan lantai III, dengan nilai pagu anggaran Rp33,81 miliar, lelangnya sudah dikondisikan, dan pembangunan tersebut tidak sesuai dengan teknis RAB.

Dari hasil audit BPK RI sebagai keterangan ahli ditemukan kerugian negara RP4,89 miliar. Aparat menyita barang bukti berupa uang tunai sisa kasus tersebut sebesar Rp590 juta, empat HP, dan dokumen yang berkaitan dengan proyek tersebut.

Nepotisme kekuasaan yang melahirkan kolusi di berbagai bidang, pada ujungnya menimbulkan korupsi. Bahkan, Pesawaran  ‘dikuasai’ suatu dinasti. Pemimpin-pemimpin di berbagai instansi di Pesawaran  dan posisi-posisi penting di Instansi serta lembaga lainnya diisi oleh orang-orang yang mempunyai tali kekeluargaan.

Lemahnya penegakan hukum, menambah langgengnya praktik-praktik nista yang menghambat berbagai bidang pembangunan. Sementara kantong-kantong kemiskinan tersebar di kabupaten ini. Berita mengenai masih adanya masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan , infrastruktur jalan dan fasilitas umum yang kurang memadai adalah gambaran nyata daerah ini , satu periode menjabat sebagai Bupati Pesawaran mungkin belum mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di tanah Andan Jejama.

Melihat dan menganalisa nama-nama bakal Calon Bupati yang akan maju dalam Pilkada Pesawaran pada 2020, dimana sebagian besarnya adalah muka-muka lama, tidaklah mudah memprediksi, apakah mereka mampu membawa Pesawaran yang akan membawa masyarakat lebih sejahtera atau sebaliknya.

Demikian juga dengan calon-calon yang akan diusung partai-partai lain, masih sulit memperkirakan kemampuan mereka untuk membawa Pesawaran keluar dari permasalahan yang ada. Tetapi satu hal, bahwa untuk mendapatkan pemimpin terbaik, harus datang dari kesadaran dan kemauan masyarakat lampung barat sendiri.

Baca Juga:  Pandemi Covid-19 : Kemiskinan Petani Tidak Berganti Rupa

Organisasi masyarakat, organisasi pemuda, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat harus  berani bersuara, dan Mahasiswa mengajukan putra-putri terbaik yang kapabilitas dan kredibilitasnya bisa  dipertanggung jawabkan demi Bumi Andan Jejama yang lebih Profesional, dan Berkualitas kedepannya.

Masyarakat Pesawaran seharusnya tidak lagi mau dininabobokkan dengan janji-janji, maupun didoktrin oleh sudut-sudut pandang sempit para calon pemimpin Pesawaran. Bahkan, masyarakat harus menolak Money politik (politik uang) yang terbukti sudah merusak sendi-sendi demokrasi dan kehidupan masyarakat Pesawaran.

Generasi pemuda-pemudi Pesawaran Rindu dengan perubahan, sudah saatnya menunjukkan eksistensi dan berkiprah. Dengan melihat keberanian anakmuda di kabupaten Pesawaran, yang melakukan terobosan untuk menembus kebuntuan dalam menentukan pemimpin,

Benedict Anderson dalambukunya “The Pemoeda Revolution: Indonesian Politics 1944-1946″ Revolusi Tumbuh anak-anak muda yang dibesarkan oleh nilai utopia, hidup sederhana dengan keyakinan religius yang menawan. Biasanya ini anak-anak muda yang besar di Pesantren, dimana nilai-nilai rohani ditanam dengan bimbingan seorang kyai.

Tapi mithos anak muda dalam legenda Jawa memang berunsur pemberontak: mula-mula bandit kemudian mulai melakukan aneka kejahatan hingga semua itu diperbuatnya sebagai bukti kesakten. Simbol anak muda itu ada pada diri Ken Arok, pendiri dinasti Singosari. Setidaknya ini beda dengan anak muda hari ini yang mapan, normal dan suka uang.

Jika membaca dan mendalami sejarah, banyak sekali peran pemuda untuk kemajuan Negri ini. Semua masa pergerakan nasional diperankan oleh kaum pemuda terpelajar yang tetap berpegang teguh pada tradisi bangsanya, bahkan meskipun ada yang berpendidikan Barat mereka tidak justeru ke-Barat-baratan, seperti Wahidin Soedirohusodo, Soetomo, HOS Cokroaminoto, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Semaun, Soekarno, Hatta, Moh Yamin, Soegondo Djojopoespito, Amir Syarifuddin Harahap, Kartosoewirjo, A.K Gani, Soenario, dan masih banyak lagi.

Baca Juga:  Bersama Polres Pesawaran, Aparat TNI dan Masyarakat Gaungkan TSM

Peranan pemuda  menjadi relevan yang diperbincangkan saat ini di tengah situasi Politik daerah yang sering tersekap defisit moralitas, absennya prinsip-prinsip yang dikukuhi, dan selebihnya kerumunan politisi yang dengan kepala kosong dan hanya mengandalkan kepalan tangan, retorika murahan, dan nafsu memburu kekuasaan yang kelewat batas, tanpa solusi yang ada melahirkan kegaduhan.

Saya menyadari sepenuhnya pemuda bukanlah penyelenggara pemerintahan, namun pemuda adalah sebuah entitas sakral yang harus kepadanya bangsa-negara dititipkan, tidak berlebihan jika Pemuda dikatakan pewaris peradaban bangsa. Tidak terbantahkan bahwa rekam jejak yang pernah ditorehkan telah menjadi memory bangsa ini, memory itu kemudian mewujud dalam sebuah imaji-imaji akan perannya yang selalu dirindukan oleh bangsa.

Pemuda dan Mahasiswa  adalah aktor intelektual, yang sadar dan ingin mengabdi kepada masyarakat dengan gagasan yang cemerlang memiliki ideologi yang jelas yang dipilihnya secara sadar dan membimbingnya untuk memimpin gerakan progresif dan menyadarkan umat terhadap kenyataan hidup. Realistasnya memimpin masyarakat bukan hanya dengan janji-janji, tetapi memimpin adalah bagaimana masyarakat menuju perubahan, mendorong perwujudan pembenahan semua strukturtural, memiliki rasa Amanah terhadap masyarakat.

Bukan sekelompok pemuda yang mata duitan, mau bekerja jikalau ada uangnya, bukan pula pemuda yang pasif acuh tak acuh dengan keadaan kabupaten Pesawaran saat ini, bukan pula pemuda yang tuna konsep, dan hanya bias menadahkan tangan pada penguasa, juga yang sering berteriak mengutuk segala bentuk penyelewangan tetapi secara langsung maupun tak langsung mereka melakukannya. Kita juga tidak butuh pemuda yang meletakkan kepentingan subyektif diatas kepentingan bersama.

Sudah saatnya Buruh tani mahasiswa dan rakyat  Pesawaran melakukan konsolidasi untuk memantapkan ikhtiar memerjuangkan keadilan dan etik-moral sosial masyarakat, mengawal dan bersuara lantang terhadap Tirani pemerintahan yang semakin hari semakin tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Baca Juga:  Rakyat Miskin Makin Banyak, Ubah Kriteria dan Garis Kemiskinan Versi BPS

Kenyataan inilah yang Benar-benar kita sadari bersama, sebuah tanggung jawab yang sangat besar yang tidak biasa diabaikan. Kepada siapa lagi bangsa ini dititipkan, entitas yang manalagi yang dapat dipercaya di tengah kondisi bangsa yang krisis kejujuran, minim keiklasan, dari Legislatif, Yudikatif, dan juga Kepala-Kepala Dinas yang ada di bumi Andan Jejama yang sering kebablasan.

Pesawaran memiliki putra dan putri terbaik, dan berprestasi baik tingkat nasional hingga Internasional bahkan akhlak yang baik. Tapi, lagi-lagi tidak berkenan muncul ke permukaan, karena tidak di respon dengan baik atas Kreasi bahkan keilmuan yang dimiliki pemuda pemudi Pesawaran. Sudah saatnya berpegangan tangan, saling membesarkan, bukan saling menjatuhkan.

Tugas semua elemen masyarakat Pesawaran tanpa terkecuali mencari figur-figur emas yang terpendam, sebagai calon pemimpin yang diyakini mampu membawa masyarakat  ke arah yang baik lagi. Karena masyarakat Pesawaran Paling tahu dan berkepentingan, seperti apa pemimpin yang dibutuhkan masyarakat kedepannya.

Hal ini selaras dengan pesan Allah SWT bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum yang berada dalam kenikmatan dan kesejahteraan, sehingga mereka mengubahnya sendiri. Juga tidak mengubah suatu kaum yang hina dan rendah, kecuali mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Yaitu dengan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarnya kepada kemulian dan kejayaan.

Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS Ar-Ra’d : 11].(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top