Iklan
Bandar Lampung

Pernah Dekan Termuda UI, Rektor Paramadina Profesor Firmanzah Tiada

Suluh.co — Tak terbantahkan, jodoh, maut, rezeki, kuasa Allah Maha Kuasa. Umur seseorang tiada yang tahu, kecuali Allah Maha Pencipta semata.

Jagat akademika Indonesia kembali berduka. Rektor Universitas Paramadina Jakarta, 15 Januari 2015 hingga akhir hayat, Prof Firmanzah, berpulang ke Rahmatullah. Dia menghembuskan napas terakhirnya di RS EMC Sentul Bogor, Sabtu (6/2/2021) pagi.

“Berita Duka Cita. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Telah meninggal dunia Prof. Firmanzah, Ph.D., Rektor Universitas Paramadina, 6 Februari 2021. Mohon doa agar almarhum husnul khotimah, diampuni dosa-dosanya dan diterima segala amal ibadahnya. Amin YRA,” tulis unggahan akun ofisial Twitter milik Paramadina University, @paramadina, mewartakan kabar duka itu, pukul 9.39 WIB, diakses di Bandarlampung.

Dosen pada Program Pascasarjana Ilmu Manajemen (PPIM), dan Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), yang juga dikenal luas pencatat rekor dekan termuda fakultas bergengsi itu usai terpilih 14 April 2008 –sekaligus dekan termuda UI periode 2009-2013, wafat karena vertigo.

Mencermati dinamika pemberitaan media, diantaranya terpantau sejawat almarhum, akademisi/periset politik Henri Satrio atau Hensat turut membantah almarhum wafat gegara COVID-19. Keluarga menginfokan, Firmanzah memiliki riwayat sakit jantung.

Jenazah pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 itu disemayamkan di rumah duka, Taman Parahyangan Golf, Jl. Situ Indah Golf Nomor 12, Sentul Selatan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Langsung dikebumikan bada Zhuhur.

Pemilik nama gelar lengkap Prof. Firmanzah, S.E., M.M., M.Phil., Ph.D., yang akrab disapa Fiz itu pernah didapuk Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Budiono 2012-2014.

Terlahir sebagai anak ke-8 dari sembilan bersaudara dari pasangan sederhana Abdul Latif dan Kusweni –sang ibu yang buta huruf, Fiz belia harus menerima kenyataan pahit.

Disitat dari Wikipedia, Fiz turut ditinggalkan sang ayah usai kedua orangtuanya bercerai. Dari ibunda, Fiz remaja mendapatkan konsep pembelajaran manajemen berdasar hasil (management by output), diberi kebebasan menentukan cara belajar, tetapi yang penting nilai yang diraih saat sekolah harus baik.

Baca Juga:  Komisi II DPRD Lampung Apresiasi Kinerja PDAM Way Rilau

Saat kuliah di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UI, Fiz pernah bekerja memimpin tim konsultan lnternational Market Research and Strategic Policy pada BPEN dan Change Management Audit pada PT Perkebunan Nusantara III, medio 1996.

Lulus UI pada 1998, dia lalu bekerja sebagai analis pasar perusahaan asuransi, PT Sewu New York Life, Jakarta, hingga 1999. Di sela kesibukan, dia menjadi asisten dosen sambil studi S2 Magister Manajemen FE-UI hingga lulus tahun 2000, dan aktif pula di Lembaga Manajemen UI, 1999-2000.

Sempat jadi Marketing Manager pada PT JASNET Jakarta, 2000-2001, Fiz lanjut S2 bidang strategi organisasi dan manajemen hingga berhak sandang gelar akademik M.Phil of Organization and Management Strategic, University of Lille, Prancis, 2005, berkat beasiswa.

Go ahead, Fiz studi S3 bidang manajemen internasional dan strategis hingga lulus dan berhak sandang gelar Doctor of Strategic and Management International di University Pau and Pays De l’Adour (UPPA), Prancis, dengan Mention: ‘très honorable avec les félicitations du jury’, pun diselesaikan 2005.

Sempat mengajar setahun di Prancis, sang doktor akhirnya kembali ke Tanah Air, tahun itu juga, saat dia sempat mengikuti Visiting Professor di University of Nanchang, Cina, 2005. Dia dipanggil untuk bekerja di UI.

Adalah Dekan FE UI kala itu, eks Wamenkeu Kabinet Indonesia Bersatu/KIB II (3 Oktober 2013-20 Oktober 2014), Menkeu 27 Oktober 2014-27 Juli 2016 dan Menteri PPN/Kepala Bappenas (27 Juli 2016-20 Oktober 2019) Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla 2014-2019, Menristek/Kepala BRIN Kabinet Indonesia Maju Jokowi-Ma’ruf Amin 2019-2024, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.UP., Ph.D. yang memanggilnya pulang.

Doktor Fiz diamanati Sekretaris Departemen Manajemen FEUI (2005-2007), Sekretaris Ketua PPIM FEUI (2007-2008). Sepanjang bertugas, dia pernah jadi pembicara pada ‘Leadership Program Development ‘, Amos Tuck Business School, USA (2006), mengajar dan meneliti di University of Science and Technology of Lille 1, Prancis (2006), University of Pau et Payas de l’Adour, Prancis 2006-2008, IAE de Grenoble, Prancis (2007).

Baca Juga:  Dinas PU Bandar Lampung Tunda Pemagaran Kampung Pasar Griya

Fiz adalah penulis sedikitnya 20-an buku, publikasi jurnal ilmiah, dan artikel media massa, antara lain empat buku berjudul The Spirit of Change yang ditulisnya bareng Soetjipto BW terbitan LM FEUI (2006); buku Globalisasi: Sebuah Proses Dialektika Sistemik, terbitan Yayasan SAD Satria Bhakti, Jakarta (2007); buku Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2007); dan buku Mengelola Partai Politik: Persaingan dan Positioning Ideologi Politik (2008) –dua terakhir terbitan Yayasan Obor Indonesia.

Tiga tahun setelah Bangbro –sapaan Bambang PS Brodjonegoro– memanggilnya, tepatnya 14 April 2008 Firmanzah mengukir sejarah baru di almamater jaket kuning. Dia terpilih jadi Dekan FE UI pengganti Bangbro.

Hingga tunai amanat Dekan FEUI 2009-2012, tunai amanat Stafsus Presiden 2012-2014, puncak karir mendiang profesor, datang dari almamater berbeda, Universitas Paramadina.

Disana, Fiz tercatat sejarah rektor ketiga usai rektor pertama yang menjabat sejak didirikan 10 Januari 1998 hingga wafat saat masih menjabat 29 Agustus 2005, mendiang Prof Nurcholis Madjid atau Cak Nur, dan rektor kedua (usai dua tahun dijabat Pjs Sohibul Iman) periode 15 Mei 2007-6 Januari 2015, eks Mendikbud Kabinet Kerja 27 Oktober 2014 hingga diberhentikan Presiden Jokowi pada 27 Juli 2016, kini Gubernur DKI Jakarta 2017-2022, Prof Dr Anies Rasyid Baswedan.

Harian Kompas merekam apik pendapat Ketua Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Prof Dr Didik Junaidi Rachbini, menyebut Fiz sosok akademisi muda yang memliki energi baru, cara pandang terbuka, visi misi yang dapat memajukan Universitas Paramadina, menjunjung keragaman, dapat berinteraksi dengan berbagai kalangan dengan latar belakang dan kepercayaan yang berbeda.

Demikian Didik kepada Kompas, menilai Fiz, hari Fiz dilantik rektor, 15 Januari 2015.

Salah satu tokoh yang turut melawat pesan belasungkawa, Presiden ke-6 Indonesia, SBY. Pantauan, dia mencuit di Twitter tiga menit berturut-turut, Sabtu.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita kehilangan salah satu tokoh muda sekaligus Rektor Universitas Paramadina Prof. Firmanzah, Ph.D. Saya mengenal kepribadian & pemikiran almarhum ketika bertugas di lembaga kepresidenan sebagai Staf Khusus Presiden bidang ekonomi. SBY,” unggah cuitan pertama SBY, pukul 11.29 WIB.

Baca Juga:  Pemudik Ditemukan Mati Terduduk

“2. (Alm) Prof. Firmanzah adl sosok muda yg punya idealisme tinggi, “positive thinking”, berpaham ekonomi yg berkeadilan & politik yg berkeadaban. Saya tahu passion-nya pada bidang “political economy” & pendidikan. Berpikirnya “clear”, bicaranya runtut & kuat dlm substansi. SBY,” cuitan kedua Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat itu, satu menit berselang.

Menyampaikan selamat jalan, “3. Saya kerap berdiskusi dgn Prof. Firmanzah & para staf khusus presiden. Dlm forum itu saya dapatkan banyak hal, tmsk isu & berita yg tdk menyenangkan utk didengar. Justru pandangan & saran itu sangat berguna dlm pengambilan keputusan & kebijakan saya. Selamat jalan Fiz. SBY,” pungkas cuitannya.

Catatan redaksi, Fiz termasuk diantara ratusan guru besar penolak RUU KPK yang diklaim justru kian melemahkan lembaga antirasuah tersebut, medio 2016.

Dan Sabtu 6 Februari 2021, tepat diusianya ke-44 tahun 5 bulan 6 hari, pengembaraan Fiz harus terhenti. Selamanya. Sebab kali ini, Allah yang memanggilnya.

“Alfatihah,” takzim akun @NU_bersatu, terpantau mengunggah foto lama almarhum berisikan wawancara Harian Republika, di kolom Wawasan bertajuk “Guru Besar Harus Turun ke Bawah”, edisi 7 Desember 2011.

Terungkap, Firmanzah yang teranyar ternyata juga Komisaris pada PT Bakrie & Brothers, ternyata juga salah satu pengagum ajaran ahli strategi perang asal Negeri Tirai Bambu, Sun Tzu. Selamat jalan Profesor. Lejit karir legit karyamu, inspirasi kami.

 

Reporter : SUL/Muzzamil

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top