Ekonomi

Nunik Narasumberi Diskusi PKB Soal Embung Resapan, Apakabar Urban Farming?

Poster digital Diskusi Virtual DPP PKB pada Minggu pagi, 14 Februari 2021. | DPP PKB

Suluh.co — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Bidang Lingkungan Hidup dan Pariwisata, diketuai oleh Hajjah Chusnunia Chalim, S.H, M.Si., M.Kn, Ph.D., atau Nunik, menghelat diskusi virtual bertajuk Embung Resapan Keluarga, Penyubur Halaman, pada Minggu (14/2/2021).

Dalam diskusi melalui aplikasi pertemuan Zoom dimoderatori oleh Mulhattulazami ini, selain Nunik turut hadir menarasumberi, dosen periset yang juga dikenal seorang relawan kemanusiaan Dr. dr. Budi Laksono, dan Inisiator Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, Ahmad Bahruddin.

DPP PKB tampak mengunggah poster digital acara ini di beranda ofisial media sosialnya, pada Minggu dini hari, empat jam usai Nunik terpantau mengunggah Sabtu tengah malam, di laman Instagram pribadinya.

“Minggu yang produktif. Yuk besok pagi bergabung. Kita bahas embung pekarangan. Semoga bermanfaat,” info politisi hijabers, Ketua DPW PKB dan Wagub Lampung ini.

Toni Fisher, warganet, salah satu yang menanggapi di kolom komentar. “Wah keren, ada dokter Budi, penggerak sejuta jamban. Salam ya Bu, kemarin bantu kami masker dan hand sanitizer karya beliau,” ujar Toni mengapresiasi, menitip salam pada Dr Budi.

Artikel ini usai disusun pukul 9 pagi WIB, bersamaan waktu diskusi dimulai. Peserta mendapat e-sertifikat.

Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, pernah menyinggung kebermanfaatan embung sebagai wahana resapan air ini sebagai paket komplit yang bermanfaat, pada 2018. Saat itu, dia merujuk infrastruktur yang lebih luas, embung desa. Bagian prioritas program Dana Desa kala itu.

Kepada petani pekebun kopi robusta berikut keluarganya di Lampung Barat, saat kunjung lapang di Pekon/Desa Rigis Jaya Kecamatan Air Hitam, 31 Januari 2018, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (saat itu) Bambang, pernah menyarankan petani juga mengintensifkan pembuatan embung kebun, penadah air hujan, jawaban kebutuhan air tanaman, jadi bagian proses pemeliharaan tanaman, bertujuan hasil kopi jadi lebih baik.

Kala itu, Bambang menjelentrehkan tanaman kopi butuh hara atau kebutuhan pupuk. Bisa dari bahan kimia (anorganik) atau organik.
“Untuk kopi tak mengapa anorganik asal tanamannya belum menghasilkan. Setelah tanaman menghasilkan, baru yang diberikan pupuk organik. Kebutuhan air penting bagi tanaman, salah satu manfaatkan air hujan. Buat embung di kebun kopi. Jangan biarkan air hujan kembali ke laut tanpa memberikan apa-apa,” kata dia, disitat dari Republika.

Mengilustrasikan, embung yang dibuat berukuran sekitar 40×40 cm. Jumlahnya diupayakan mencapai empat embung di setiap pekarangan kebun. “Nanti air itu akan diserap tanah membawa kebaikan bagi kopi. Pada saat memupuk kita juga dimudahkan.”

Terpisah, seperti yang telah jamak dilakukan menjadi praktik baik (best practice) khalayak, Dian Armanda, kandidat doktor Institute of Environmental Science, University of Leiden, Belanda, menyoroti musim hujan di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan menanam tanaman bermanfaat, setidaknya bagi keluarga.

Baca Juga:  Tingkat Kepuasan Publik atas Kinerja Arinal-Nunik Rendah

Selagi orang punya banyak waktu di rumah akibat wabah corona, tren urban farming (pertanian perkotaan) menjadi salah satu kegiatan favorit masyarakat, bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.

“Ini langkah awal yang bagus untuk menciptakan ketahanan pangan masa depan,” sebut Dian, seperti dituliskan oleh D.Dj. Kliwantoro, dalam artikelnya di Antara, edisi 2 Januari 2021.

Dian, dosen peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jawa Tengah, almamater Nunik saat studi S1 ini,
menjelaskan fakta luasan lahan pertanian konvensional di sisi lain secara global terus tergerus. Ditambah lagi, ledakan jumlah penduduk membuat banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi permukiman.

“Hal ini jelas makin menekan jumlah produksi pangan yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu ada terobosan lain untuk pemenuhan pangan masa depan. Jika pada tahun 1960-2000 terobosan itu dilakukan dengan intensifikasi masif pertanian melalui revolusi hijau, saat ini innovative urban farming (pertanian perkotaan inovatif) adalah jawabannya,” besut Dian.

Hasil risetnya dalam jurnal international Global Food Security, September 2019, menunjukkan data urban farming kian menjanjikan. Hal ini ditinjau dari segi aspek potensi produksi global, keragaman pangan yang dihasilkan, potensi luasan lahan, dan jumlah praktisi yang terlibat.

Riset bersampel sejumlah lokasi urban farming komersial di Asia, Amerika, dan Eropa itu memperlihatkan bahwa sistem pertanian perkotaan ini bisa meningkatkan sumber pangan dengan efektif dan efisien.

“Urban farming aerofarm di kawasan kota New Jersey, Amerika Serikat misal, mampu menghasilkan panen sayur hingga 140 kilogram per tahun per meter persegi lahan dengan teknik aeroponik indoor vertikal.”

Bahkan, imbuh Dian, kapasitas produksinya bisa mencapai 100 kali lebih banyak daripada pertanian konvensional dengan konsumsi air cuma sepersepuluhnya.

“Innovative urban farming, cukup ramah lingkungan. Inovasinya membuat aspek perawatan dan sumber daya dipakai menjadi minimalis namun dapat menghasilkan panen yang maksimal,” tuturnya.

Sejak 2010 terobosan teknologi innovative urban farming, seperti hidroponik, akuaponik, aeroponik, vertical farming, indoor farming, dan precision farming makin berkembang secara global.

Gaya hidup baru berkebun urban skala hobi maupun rumahan untuk subsisten (pemenuhan kebutuhan sendiri) makin marak. Demikian pula, dengan kebun urban skala komersial. Banyak bermunculan perusahaan urban farming berupa pabrik sayuran tengah kota berbagai belahan dunia.

Pada bagian lain artikelnya, Kliwantoro juga merangkum kata kunci pelatihan pertanian perkotaan, jadi portofolio resolusi kebajikan.

“Agar pengoptimalan lahan pekarangan efektif dan mencukupi kebutuhan keluarga, masyarakat tampaknya perlu mendapatkan pelatihan pertanian perkotaan. Hal ini telah dilakukan oleh PT Penjaminan Infrastruktur Kreatif (Persero), bagi warga Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada tahun 2020,” tulis dia.

Baca Juga:  Enam Industri di Lampung Terciduk Pakai Elpiji 3 Kilogram

Selain sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan, juga sebagai bentuk kepedulian PT PII terhadap warga yang berada di lingkungan sekitar konstruksi instalasi pengolahan air minum –bagian dari proyek Sistem Penyaluran Air Minum (SPAM) Semarang Barat, salah satu proyek yang diberikan penjaminan oleh PT PII.

Dirut PT PII Wahid Sutopo kepada Kliwantoro menerangkan, hakikat bisnis perusahaan tentu tak lepas dari dukungan masyarakat. Pihaknya sebagai salah satu special mission vehicles (SMV) Kementerian Keuangan berkomitmen untuk senantiasa memberikan manfaat pada masyarakat melalui kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan.

“Program pemberdayaan ekonomi kreatif urban farming ini merupakan salah satu komitmen kami dalam memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar proyek,” lugas Dirut Wahid, menginfokan program ini telah berlangsung sejak November 2020, dengan pendampingan dari Tiga Langkah, mitra pelaksana program yang ditunjuk PII.

Sefrekuensi, Direktur Tiga Langkah, Suharti Sadja mengungkapkan warga sangat senang dan sejak awal antusias mengikuti program pelatihan urban farming secara virtual yang juga disiarkan ANTARA itu. Bahkan, warga berharap program dapat dijadikan sebagai usaha mikro bersama ke depannya sehingga tercipta kemandirian warga secara finansial.
Gubernur Ganjar Pranowo mengapresiasi.

Jauh sebelumnya, per Oktober 2017, sivitas Universitas Negeri Semarang (Unnes) lewat Pusat Kependudukan dan Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M), berkolaborasi dengan PT Indonesia Power telah menggalakkan sistem budidaya hidroponik di Ponpes Sunan Gunung Jati Ba`alawy, Semarang.

Nana Kariada, Kepala Pusat Kependudukan dan Lingkungan Hidup Unnes tempo itu menyebut pihaknya memberikan pelatihan dan pendampingan dalam kegiatan budi daya sistem bercocok tanam tanpa media tumbuh tanah, tetapi menggunakan media air, kerikil, pasir, hingga pecahan batu.

Menjadi tepat target, Unnes-Indonesia Power berjibaku latih dampingi para siswa, santri, pengasuh ponpes yang setahun sebelumnya memiliki SMK Pertanian itu. Program CSR BUMN itupun jadi penguat di tangan dan lapangan yang tepat, disengat pula dengan suntikan lengkap sarana prasarana instalasi hiroponik, media tanam, bibit, benih sayuran, hingga praktik hidroponik.

Kini, buah pengabdian dan jasa dua institusi, berbenih motivasi tinggi warga ponpes dirian 2008 asuhan dari KH Muhammad Masroni –eks dosen IAIN Syarif Hidayatullah, berlokasi di lingkungan asri, bangunannya menyatu dengan alam sesuai salah satu misi sejak mula berdiri, pejuang ketahanan pangan.

Sembilan dasa silam, pada 2012, Ponpes di Jl Malon RT 01 RW 06 Kelurahan Gunungpati Kecamatan Gunungpati Semarang ini pernah jadi tempat pertemuan 11 negara pascateror 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Baca Juga:  Kemenpar Upayakan UMKM di Lampung Selatan Dapat KUR Pariwisata

Jika kurun 1990an, publik Indonesia hingar atas kiprah beda dunia artis Melly Manuhutu yang sukses berbisnis keluarga usai bingar tekuni pertanaman hidroponik ala urban farming. Atau, mantan Dirut KAI, Menhub Ignatius Jonan yang juga awet prima dengan berkesibukan kebun hidroponik pekarangan rumahnya pascapensiun menteri hingga panen selada kesekian kalinya, pada Sabtu kemarin seperti unggahan akun Instagram.

Atau, Maisa (adik) dan ibu dari biduan enerjik pelantun “de javu”, Sheryl Sheinafia, yang 30 November 2020 lalu panen raya serentak perdana se-Jakarta –mencuri pula perhatian Gubernur Jakarta Anies Baswedan hingga Mentan Syahrul Yasin Limpo– buah kerja keras tengah jengah landa pandemi, usaha keluarga urban farming kelolaan mereka.

Bagaimana Lampung? Menggenapi, redaksi cuplikkan kisah sukses (success story) warga ibu kota maupun sub-urban ibu kota provinsi Tanah Lada ini, yang terbilang sukses usai menekuni dunia urban farming.

Satu diantaranya, wartawan Lampung Post, Setiaji Bintang Pamungkas. Pengibar panji
Ingreen Hidroponik, nama brand besutannya sejak memulai usahanya pada Januari 2019.

Aji, demikian warga Perumahan Bataranila, Kelurahan Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan ini acap disapa, sukses menyulap atap loteng lantai dua rumahnya untuk membuat kebun sayuran hidroponik,. Mulai dari kailan, kale, kangkung, pakcoy, sawi caisin, sawi dakota, sawi pagoda, selada, dan banyak lagi, pada ribuan lubang tanam di area seluas 4×7 meter persegi itu.

Aji paripurna membaca peluang pembunuh senggang, jeli menangkap peluang bisnis, sigap menjawab peluang pasar. Seperti telah banyak diliput media massa, pria rendah hati ini mengarusutamakan pemenuhan kawin campur antara kebutuhan primer pangan dan keinginan gaya hidup warga perkotaan akan tanaman sayuran hijau, yang higienis, bermutu, bebas dari pestisida, dan berharga kompetitif. Juga renyah, sayurannya, renyah di kantong, hasilnya. Wow.

Sama sekali bukan endorse, alih-alih iklan, anda yang penasaran bisa kepoin Aji di akun Instagram @ingreen.hidroponik.

Pamungkas, bicara embung, embung resapan keluarga, sumur resapan teknik biopori, tanaman obat keluarga atau toga, hingga urban farming dan bisnis hidroponik memang tak ada matinya. Apalagi disini, di negeri Kolam Susu ini, yang kata Koes Plus, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

 

Reporter : SUL/Muzzamil

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top