Daerah

Merti Beserta Pawai Desa Kemanukan jadi Rujukan Wisatawan

Metri Desa Kemanukan/MAS

PURWOERJO – Metri Desa Kemanukan, pada tahun ini tampak lebih semarak dengan adanya pawai budaya. Jolen, sebagai tempat untuk membawa makanan terlebih dahulu diarak keliling kampung dilengkapi dengan berbagai atraksi budaya yang ada di desa tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo, Agung Wibowo, yang turut hadir dalam kegiatan itu menyambut baik adanya pengembangan sajian yang dilakukan oleh warga dan desa. Hal itu sekaligus menunjukkan adanya kesiapan masyarakat untuk merealisasikan Romansa Purworejo 2020.

“Tradisi merti desa diperkuat dengan atraksi budaya akan memperkaya khasanah budaya. Masyarakat sudah peduli, selain positif dari sisi pelestarian budaya, di sini juga ada pengembangannya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Satekari Bius Penonton Dengan Kolaborasi Seni

Pihaknya berharap spirit menempatkan budaya sebagai sajian menarik akan mendorong desa-desa yang lain untuk turut melakukannya. Dengan demikian menjadikan Purworejo yang unggul dari sisi pengembangan budaya akan semakin memperkuat keinginan menjadikan Purworejo sebagai tujuan wisata.

“Sepanjang tahun 2019 ini ada banyak atraksi-atraksi budaya di Purworejo. Penyelenggaranya tidak hanya dari pemerintah saja, tapi masyarakat umum juga sudah bergerak,” sebutnya.

Panitia kegiatan, Sugiyatno, menyebut pawai budaya menjadi hajat yang tengah dikembangkan masyarakat yang mengandalkan penghidupan dari hasil pertanian tersebut. Mirip dengan tradisi Jolenan Somongari, kemasannya jauh lebih sederhana tapi tetap memikat.

Menurutnya, merti desa yang ditutup dengan sajian wayang kulit sudah dilakukan turun temurun di desa tersebut. Seiring perkembangan zaman, masyarakat menginginkan adanya perubahan konsep acara, tapi tidak meninggalkan pakem.

Baca Juga:  Kimberlines, Band Indie Rock asal Purworejo Gebrak Dunia Musik

“Kemasan acara bisa ditambah tanpa mengurangi makna mendalam yang sudah ada sejak dulu,” tutur Sugiyatno.

Dijelaskan, ide untuk mengirabkan aneka bentuk selamatan desa itu sebenarnya untuk menjawab keinginan masyarakat. Selama ini mereka hanya menyaksikan arak-arakan pembawa jolen dari pedukuhan ke balai desa.

Dalam perjalannya, jolen lebih banyak diusung oleh kendaraan. Meski masih membawa supitan (orang yang membawa jolen,red), hal itu menjadikan masyarakat sangat terbatas untuk dapat menyaksikan arak-arakkan seperti halnya zaman dahulu.

“Tahun lalu, khusus di pedukuhan kami yakni Krajan Kulon, saya konsep ada sedikit arak-arakkan. Ternyata itu mengundang keinginan warga pedukuhan lain untuk melakukan pula. Atas kesepakatan bersama, akhirnya di tahun ini dilakukan kirab budaya sekalian,” jelasnya.(MAS)

Baca Juga:  3 Dalang Purworejo Bakal Pentas Satu Kelir di Kutoarjo
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top