Ekonomi

Menelisik Kolaborasi Unila-Apindo Taja Program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka dan Agro Eduwisata “Lampung EduFarm”

Rektor Unila, Wakil Rektor IV Unila, Dekan FP Unila, dan Ketua Apindo Lampung beserta jajaran, di teras belakang Rektorat Unila, Bandarlampung, usai rapat tindak lanjut kerja sama Program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka, dan Agro Eduwisata Lampung EduFarm, Senin (21/6/2021). | Apindo/AMA

Suluh.co — Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof Dr Karomani MSi, menjamu Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung, Ary Meizari Alfian SE MBA, di ruang rapat rektor kampus PTN tertua-terbesar kebanggaan pemerintah dan rakyat Lampung itu, Jl Prof Dr Sumantri Brodjonegoro Nomor 1, Gedongmeneng, Bandarlampung, Senin 21 Juni 2021.

Rektor ke-7 Unila itu dan Ary Meizari Alfian membahas tindak lanjut eksekusi penjajakan kerja sama strategis kedua lembaga dalam membumikan program inovasi kurikulum pendidikan tinggi gadangan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset Teknologi (Kemdikbudristek) Kabinet Indonesia Maju, Merdeka Belajar: Kampus Merdeka.

Dalam pertemuan, Karomani didampingi oleh Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Prof Suharso PhD, Dekan Fakultas Pertanian Unila, Prof Dr Irwan Sukri Banuwa MSi.

Sedangkan Ary ditemani calon sekretaris eksekutif, Perial Darma, calon Ketua Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah dan Industri Kecil Menengah (UMKM-IKM) Yayan Sopian, dan Friadi Indrawan, calon Ketua Bidang Pariwisata DPP Apindo Lampung 2021-2026.

“Dalam pembicaraan tadi, ada dua program kerjasama strategis yang telah disepakati dan akan segera dimulai. Merdeka Belajar: Kampus Merdeka dan Lampung EduFarm,” terang Ary dalam siaran pers, Senin siang.

“Inshaallah, kedua program akan di-launch bagian tangkai Pelantikan dan Pengukuhan DPP Apindo Lampung periode 2021-2026 pada pekan kedua Juli mendatang,” ujarnya.

Rektor Karomani menghangat. Menyambut baik rencana, Guru Besar Ilmu Komunikasi Sosial itu menyebut, gagasan sangat tepat, tak lain mengingat bahwa program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka bukan hanya satu arah tetapi dua arah.

Artinya, tidak hanya mahasiswa yang belajar melalui inklusi program pemagangan (link and match) di perusahaan. Tetapi, praktisi bisnis/usaha juga bisa masuk ke kampus untuk memberikan masukan dan wawasan, untuk kepentingan bangsa.

Jangan sampai lugas dia, lulusan universitas menjadi beban negara. “Mari kita pecahkan dengan kolaborasi itu,” ajaknya, impresif.

“Saya kira tujuan besarnya pak (Presiden) Jokowi dan mas Menteri (Nadiem Makarim) adalah supaya antara universitas dan dunia kerja nyambung sehingga tak menjadi beban negara. Dengan demikian pertumbuhan kita akan menjadi bagus juga dan ini butuh kekompakan kita bersama,” dia antusias.

Rektor latar nahdliyin –Wakil Ketua Dewan Tanfidz PW Nahdlatul Ulama (NU) Lampung masa khidmat 2018-2023, juga Sekretaris Dewan Pertimbangan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung itu menginjeksi harapan, agar kelak kolaborasi Unila-Apindo tersebut mampu menjawab beberapa kemuka permasalahan.

“Khususnya terkait program pemagangan mahasiswa yang selama ini belum beri hasil maksimal. Serta, terbatasnya daya tampung program tersebut di dunia industri,” poin dia.

Baca Juga:  Pemisahan Pendidikan Tinggi dari Lembaga Riset Teknologi Maksimalkan Penggunaan Dana

Bagi sektor UMKM-IKM, kolaborasi diharap dapat mendorong cepat pertumbuhan dan pengembangan UMKM-IKM yang lebih baik dan berkemajuan, serta mendekatkan upaya peningkatan kompetensi mahasiswa Unila.

“Kerja sama akan jadi kolaborasi pertama yang dilakukan antara perguruan tinggi dan Apindo Lampung, kemudian diimplementasi melalui program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka,” bunyi terangkum, reportase Angel dan Gigih, reporter Unila, disitat dan diakses di Bandarlampung, Senin.

Dilaporkan, selain bincang program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka, kesempatan itu Ary memaparkan rencana kolaboratif Unila-Apindo berikut: pengembangan program agro-eduwisata, kegiatan kepariwisataan berbasis ekosistem agrobisnis/agroindustri/agrokultur yang kaya wawasan lingkungan, mengarus-utamakan aspek perkuatan konservasi, pemberdayaan sosial budaya ekonomi lokal, pembelajaran, pendidikan, dan hiburan (rekreasi pertanian).

Jenama program ini, Agrowisata Edukasi “Lampung EduFarm”, agrowisata edukasi berbentuk kegiatan kepariwisataan yang memanfaatkan multipotensi usaha produktif pertanian, untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha bidang pertanian sebagai atraksi wisatanya.

Dijelaskan, program inspiratif ini nantinya berlokasi di Laboratorium Lapang Terpadu, area lahan seluas sekitar 6,2 hektar kelolaan FP Unila sejak tahun 2009, yang terletak di sekitar kompleks Masjid Al Wasi’i Unila.

Hingga kini Laboratorium Lapang Terpadu ini dioptimalkan sebagai area praktikum/riset dosen-mahasiswa sekaligus diefektifkan jadi etalase atau show window dan early agro education bagi fakultas, bahkan Unila.

Laboratorium telah digenapi ragam fasilitas: jalan paving blok; kavling lahan praktikum dan penelitian, instalasi air bersih, kolam ikan, sawah, kandang ternak, stasiun klimatologi; gudang peralatan pertanian, saung permanen; kantor, dan lainnya. Ciamik.

Terungkap, gagasan/ide kreatif program agro eduwisata Lampung EduFarm Unila-Apindo dimaksud, per kini hingga realisasinya kelak, dibaluti pula empat harapan.

Pertama, dapat menciptakan wahana belajar untuk meningkatkan kepedulian terhadap produk komoditas lokal Lampung, terutama produk pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Kedua, agar cipta-kondisi purwarupanya dapat memulihkan sektor kepariwisataan di Lampung.

Ketiga, skema kolaborasi terintegrasinya dapat didorong pemajuannya mendukung ejawantah Tri Dharma Perguruan Tinggi. Keempat, secara forecasting bisa memantik kolaborasi lebih luas dengan kalangan dunia usaha dan industri di Lampung.

Untuk pengingat, agrowisata edukasi ini notabene hasil penajaman beberapa kali interaksi penjajakan digagas kedua pihak. Sebelumnya, bertempat di ruang Dekanat, Selasa 25 Mei 2021 lalu, Dekan FP Unila Irwan Sukri Banuwa, didampingi jajaran lengkap dekanat bersemangat memaparkan sebagian dari hasil inovasi fakultas kepada Ary Meizari dan jajaran Apindo Lampung yang beranjangsana ke kampus.

Dekan jebolan S1 Unila dan S2-S3 IPB itu, didampingi Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja Sama, Prof Dr Dermiyati, MAgr.Sc, Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan, Dr Abdullah Aman Damai, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr Kuswanta Futas Hidayat, para Ketua dan Sekretaris Jurusan (Kajur/Sekjur), sedikitnya merincikan 10 inovasi.

Baca Juga:  Unila Bangun Sinergi Inovasi Kekayaan Intelektual

Meliputi, produksi etanol dari tanaman ubikayu (singkong) menjadi penyanitasi tangan, proses singkong menjadi tepung Mocaf, proses pati singkong menjadi gula cair alias Gulakong, proses limbah batang singkong menjadi pakan ternak, Ruminansia.

Lalu, inovasi teknologi pengolahan bahan baku pakan ternak/pakan ternak dari limbah batang singkong dengan alat perajang batang singkong berjenama Rabakong, yang dapat menghasilkan pakan ternak, briket arang, dan papan komposit. (Rabakong telah ber-hak paten Kemkumham, peraih Rekor MURI ke-5 atas rekor penemu pakan ternak berbasis batang singkong).

Menyelia, beda kesempatan, saat presentasi di depan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi 7 Januari 2020 lalu, dekan kelahiran Oktober 1961 ini menguak data wow, bahwa jumlah limbah batang singkong di Lampung sangat banyak: mencapai 1.3684 juta ton per tahun!

Dan, limbah ini –kita mengenalnya onggok– bisa diefektifkan untuk mengurai dampak ikutan yang ditimbulkannya. Ingat kisah sukses (dulu) PT Great Giant Livestock Company (GGLC), anak usaha korporat PT Great Giant Pineapple (GGP), Terbanggi Besar, Lampung Tengah memanfaatkannya jadi alternatif pakan ternak sapi sejak 1990?

Berikut, Multi Nutrien Saus (MNS), inovasi untuk meningkatkan efektifitas pencernaan bahan makanan ternak sehingga mampu meningkatkan bobot berat badan ternak, peningkatan average daily gain/ADG (keuntungan harian rata-rata), dan komposisi ransum untuk ternak.

Juga, mesin pemotong batang singkong berjenama Petokong, mampu memotong antara 18-20 ribu batang singkong per jam jadi ukuran 20 sentimeter bibit singkong.

Lalu, pakan ikan terapung, inovasi teknologi pemberian pakan ikan ternak, lada sambung atau Melada –satu proses pendekatan teknik budidaya tanaman lada yang tahan terhadap serangan hama (lada dikenal sangat rentan terhadap penyakit busuk pangkal batang), stimulan/perangsang; tunas/anakan, akar, setek, cangkok/graft, bunga atau Rotemore, Bud Breaker, Shoot More, Flower Inducer.

Tak berhenti di situ, dekan yang merupakan Guru Besar Ilmu Konservasi Tanah dan Air Unila itu kian bersemangat, saat Kamis 27 Mei 2021, mendapati Ary Meizari antusias melakukan kunjung lapang ke laboratorium.

Mengutip istilah Ary Meizari, kedua institusi bersepaham meruwat fakta anugerah Ilahi, limpah ruahnya potensi sumberdaya agraria yang masih dapat terus digali. Kedua pihak, bilang Ary, bersepakat “untuk mengerjakan sesuatu, bersama, dalam waktu segera“.

Sadar potensial, Ary setengah menjanjikan, Apindo Lampung akan terus jajaki peluang kerja sama dengan pemangku kepentingan lainnya demi sukses eksekusi. “Sedang coba kami jajaki, apa yang bisa mereka lakukan agar bisa memaksimalkan potensi yang ada,” tangkap Ary, dinukil dari reportase jurnalis Radar Lampung, Rimadani Eka Marita, saat kunjung lapang 27 Mei itu.

Pun sang dekan sendiri, tempat yang sama, menyebut sebagai pendidik dan akademisi pertanian, sudah barang tentu mengampu misi pertanian dalam arti luas, agar dapat menjadi role model pendidikan pertanian.

“Bagaimana pertanian bisa diaktualisasikan sebagai show window di berbagai cabang ilmu. Jadi early agro education, bagaimana memperkenalkan bidang pertanian sejak dini,” gamblang dekan mantan dua periode Wakil Dekan II 2008-2012 dan 2012-2016, dua periode pula Dekan FP Unila 2015-2019 dan 2020-2025 ini.

Baca Juga:  Pelabuhan Patimban & Tanjung Priok Tekan Efisiensi Biaya Logistik

Penuh harapan, munajat Irwan saat itu agar dengan adanya kerja sama Unila dan Apindo, “bisa dijadikan (sebagai) program khusus bagi Lampung sebagai lokomotif pertanian nasional, juga Lampung menjadi lumbung ternak nasional”.

Menggenapi informasi, sebagai bakal lokasi agro eduwisata terintegrasi, pengelolaannya sesejatinya destinasi wisata, selain mutlak dikuati peningkatan sumberdaya pariwisata juga dibarengi upaya pengembangan tata kelola destinasi sesuai prinsip pengelolaan pariwisata. Sebut saja mantra sakti 3A, atau atraksi, aksesibilitas, dan amenitas, agar bisa berjalan baik dan banjir pengunjung peminat.

Atraksi, terkait dengan apa yang bisa dilihat-dilakukan pewisata di destinasi, baik alami maupun buatan. Aksesibilitas, mencakup sarana-infrastruktur destinasi. Dan amenitas terkait fasilitas destinasi diluar akomodasi.

Sisi lain, menimbang dapat dikolaborasikan sejalan upaya negara hadir muluskan jalan program korporasi pertanian misal, seperti telah dihela bauran kebijakannya oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian lewat taja Integrated Corporation of Agricultural Research, Development and Empowerment (I-CARE), satu program pemberdayaan guna peningkatan kesejahteraan petani sekaligus diseminasi inovasi teknologi Balitbangtan Kementerian Pertanian, FP Unila juga telah turut serta didalamnya.

Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di tatar ambil bijak, upaya keras Ary dkk pasca-Musprov VII DPP Apindo Lampung 25 Maret 2021 hingga saat ini, sama sebangun dengan arahan direktif Gubernur Lampung Arinal Djunaidi saat dilapori Ary selaku ketua pelaksana, dan Ketua Caretaker DPP Apindo Lampung per 20 Juli 2020-25 Maret 2021, Adi Mahfudz Wuhadji SE MBA, H-1 musprov.

Dimana, Gubernur Lampung pertama latar alumnus Fakultas Pertanian Unila 1981 itu
mewanti, agar secara terukur jajaran Apindo Lampung 2021-2026 memfokusi pemajuan dan juga pengusahaan kredit poin pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, selain sektor energi, kepariwisataan dan ekonomi kreatif, serta UMKM, dapat beragregat demi peningkatan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan rakyat Lampung.

Makin kesini makin tereksekusi, tersirat nukil pengharapan, agar program kerja bersama ini terwujud dan bersumbangsih, bagi proses pembuktian, bahwa bersinergi-berkolaborasi sama sekali bualan pepesan kosong.

Namun lebih sahih, jadi sebuah keniscayaan sebagaimana isyarat ketauladanan mewaris, salah satu bagian tradisi niai dasar kesatuan falsafah adat Lampung, Piil Pesenggiri, yakni Sakai Sambayan.

Yang kita kenal sebagai gotong-royong, sejak masih di rahim ibu.

 

 

Sumber : SUL/Muzzamil/Unila/FP Unila/Kementan/Radar Lampung

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top