Modus

Mantan Ketua AKLI Lampung Dituntut 4 Tahun Bui

Mantan Ketua Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Daerah Lampung, Syamsul Arifin, dituntut pidana penjara selama empat tahun atas pelanggaran pasal ITE/NUS

Suluh.co – Mantan Ketua Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Daerah Lampung, Syamsul Arifin, dituntut pidana penjara selama empat tahun atas pelanggaran pasal ITE, jaksa menilai tuntutan yang dibacakan tersebut sudah sesuai, sebab tidak ada hal yang meringankan dari terdakwa.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Joni Butar – Butar, Senin (30/11), di Pengadilan Negeri Tanjung Karang, jaksa meminta kepada majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman penjara selama empat tahun kepada terdakwa, dan pidana denda sebesar Rp100 juta, dengan subsidair denda yaitu penjara selama tiga bulan.

Baca Juga:  Terdakwa Korupsi Lampura Ajukan Justice Colabollator

Terdakwa Syamsul Arifin, dituntut dengan jeratan dakwaan pasal pertama, yaitu pasal 27 ayat 3 Undang – Undang ITE, junto pasal 45 ayat 1, Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008.

Jaksa menilai bahwa tuntutan yang dibacakan tersebut telah sesuai, lantaran tidak ada hal yang meringankan dari terdakwa, melihat yang bersangkutan merupakan seorang advokat yang seharusnya telah memahami mekanisme hukum.

Sementara untuk barang bukti handphone yang dipermasalahkan, dinyatakan disita dan dipergunakan untuk perkara yang lainnya oleh Pihak Polda Lampung.

“Ya, untuk melihat isi percakapan yang ada di handphone Syamsul Arifin, apakah ada perkara lain. Untuk hukuman sudah sesuai, yang memberatkan bersangkutan seorang advokat yang harusnya memahami aturan hukum,” jelas Jaksa Andrie W Setiawan, usai persidangan.

Baca Juga:  Buruh Simpan Sabu di Kandang Ayam

Sementara menanggapi tuntutan yang dibacakan oleh jaksa hari ini, kuasa hukum terdakwa menilai bahwa tuntutan pasal dari jaksa hanya asal – asalan saja, dengan melihat barang bukti yang ada maka dirinya optimis jeratan pasal tersebut tidak akan terbukti.

“Handphone yang disita oleh polisi itu kan tahun 2017, sementara ini kasus 2013. Apakah ini handphone jaksa atau siapa. Selain itu, kalau ini UU ITE harusnya bisa diakses oleh umum. Jaksa ini hanya asal-asalan saja, sepertinya mereka bingung,” kata David Sihombing, kuasa hukum terdakwa.

Sidang lanjutan perkara ini akan digelar kembali pada Kamis 3 Desember 2020  mendatang, dengan agenda pembacaan nota pembelaan dari terdakwa.(NUS)

Baca Juga:  Kakek Cabuli 14 Bocah Terancam 15 Tahun  
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top