Modus

Lobi-lobi DAK Lampura, Musa Zainudin Berselisih Paham dengan Desyadi Terkait Jumlah Fee

kemeja biru-Syahbudin selaku eks Kadis PUPR Lampung Utara/FS

BANDAR LAMPUNG – Syahbudin membeberkan sejumlah tugas yang harus ditindaklanjutinya sebagai Kepala Dinas PU-PR non aktif Pemkab Lampung Utara. Tugas ini turun langsung dari pimpinannya Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara alias AIM, kini bersama-sama dengan dirinya menjadi tersangka dalam kasus korupsi yang digarap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)–.

“Bupati minta untuk persoalan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat mendapat atensi,” ujar Syahbudin di Pengadilan Negeri Tanjungkarang saat menjadi saksi dalam sidang terdakwa Chandra Safari, kasus yang menyeretnya menjadi tersangka, pada Senin (13/1)

Singkat cerita, DAK di tahun 2016, 2017 dan 2019 terrealisasi. Menurut penuturannya, keberhasilan itu dicapai berkat komunikasi yang dijalin dengan Samsani Sudrajat yang dia tahu adalah kader PKS dan Musa Zainudin, Ketua PKB Lampung kala itu sekaligus anggota Komisi V DPR RI.

Kini, Musa Zainudin tidak lagi menjabat sebagai Ketua PKB Lampung dan tidak lagi menjadi anggota DPR RI karena harus menjalani vonis atas kasus korupsi di LP Sukamiskin.

Baca Juga:  Ombudsman Tantang Pemkab Lampura untuk Patuh, Wabup: Apa yang dibutuhkan, Akan Disiapkan

Ketika mengurus DAK dari Musa Zainudin, Syahbudin tidak sendiri. Ia mengaku ditemani Desyadi, Plt Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkab Lampung Utara.

“Saya dengan Desyadi diperintah bupati untuk menemui Ketua PKB Lampung Musa Zainudin untuk membicarakan DAK. Kejadian ini terjadi di tahun 2016,” ujar Syahbudin di hadapan majelis hakim yang diketuai Novian Saputra.

Syahbudin kemudian mengatakan besaran nilai DAK dari Musa Zainudin yang nantinya digarap Pemkab Lampung Utara di tahun 2017. Nilai DAK itu sebesar Rp60 miliar. Musa Zainudin dikatakannya meminta sejumlah fee hingga akhirnya disepakati di angka Rp2,5 miliar.

“Kalau tidak begitu (melakukan lobi-lobi), DAK yang turun paling Rp20 miliar saja,” ucapnya.

Kesaksian Syahbudin di atas ini diminimalisir. Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK serta majelis hakim tidak bertanya lebih jauh tentang keterangan Syahbudin ini.

Baca Juga:  Dua Kepala Dinas Lampura Menolak Dicopot Dari Jabatannya

Menurut informasi dari seseorang yang mengetahui kronologis kejadian tersebut, sempat terjadi perselisihan antara Musa Zainudin dengan Desyadi dan Syahbudin. Poin perselisihan ini dikarenakan permintaan Musa Zainudin yang tidak dapat dipenuhi AIM. Kejadian ini terjadi sebelum DAK terrealisasi.

Awalnya, Musa Zainudin meminta fee sebesar 7 persen dengan nilai Rp4,2 miliar. Mendengar itu, Syahbudin dan Desyadi melapor kepada AIM.

Kata AIM, nilai itu terlalu besar dan meminta untuk menurunkan angka. Syahbudin dan Desyadi menyampaikan pesan AIM itu. Musa Zainudin marah. Desyadi dan Syahbudin ditinggal pergi oleh Musa Zainudin saat negosiasi berlangsung.

AIM tidak kalah ide. Syahbudin dan Desyadi kembali diminta untuk bernegosiasi dengan Musa Zainudin. Akhirnya, terciptalah kesepakatan, Musa Zainudin mau mendapat fee sebesar Rp2,5 miliar.

Peran Desyadi masih berlanjut. Dalam proses pemenuhan fee itu, Desyadi dan Syahbudin selalu jalan bersama. Keduanya berkunjung ke Rumah Dinas DPR RI milik Musa Zainudin. Di sana, terjadi proses serah terima uang fee, senilai Rp1 miliar. Selanjutnya, serah terima uang kembali berlangsung. Uang senilai Rp1,5 miliar diserahkan di kediaman Musa Zainudin di Kota Bandar Lampung.

Baca Juga:  2 Februari Zainudin Hasan Bakal Bebas

Dimintai konfirmasinya, Syahbudin tidak membantah kronologis cerita ini. “Semuanya sudah di penyidik,” jawab dia saat berada di dalam mobil yang membawanya kembali ke Kantor KPK di Jakarta. Sebab, Syahbudin masih harus ditahan untuk kepentingan penyidikan hingga nantinya menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang sebagai terdakwa.(RDO/FS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top