Bandar Lampung

Kecurigaan di Balik Proyek Rp50 M KLHK yang Dimenangi PT Krakatau Engineering

Kecurigaan di Balik Proyek Rp50 M KLHK yang Dimenangi PT Krakatau Engineering
Kecurigaan di Balik Proyek Rp50 M KLHK yang Dimenangi PT Krakatau Engineering

Ilusrasi pembangunan laboratorium.

Suluh.co – PT Krakatau Engineering memenangi pengadaan pembangunan laboratorium merkuri dan metrologi lingkungan yang awalnya senilai Rp50 miliar lebih. Lelang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK], tepat 1 Juni 2020 lalu.

Pada akhirnya PT Krakatau Engineering memenangkan lelang tersebut dengan harga negosiasi senilai Rp 47.955.668.000. Perusahaan ini awalnya mengajukan harga penawaran senilai Rp 47.960.000.000.

Dalam perjalanan lelangnya, ada total 54 perusahaan yang ikut.

PT Astoria Perkasa Nusantara, salah satu perusahaan yang ikut lelang, turut andil memberikan penawaran yang nilainya sebesar Rp 47.401.646.996. Namun demikian, PT Astoria Perkasa Nusantara dinyatakan tidak lolos: dengan catatan tidak memiliki persyaratan kualifikasi.

Kondisi di atas tergambar jelas dalam laporan Fajar Sumatera ketika menelisik pelelangan tersebut ke dalam laman resmi LPSE KLHK, Kamis malam, 17 Desember 2020.

Proses lelang ini tidak luput dari pantauan Persatuan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia [PERMAKI] bahkan telah melakukan penjajakan.

Sebab PERMAKI menganggap ada hal yang tak wajar dan bertendensi pada persoalan-persoalan KKN. Ketua Presidium PERMAKI Mustofa Ali membeberkan penjajakannya tersebut seperti dikutip Suluh.co.

Penilaian PERMAKI dalam melihat proses lelang ini didasarkan pada beberapa hal. Pertama, ada dugaan proyek ini telah terkondisikan, seperti gambaran perbuatan korupsi pada PBJ yang telah terbukti dari beberapa putusan pengadilan.

“Dari 54 perusahaan yang ikut lelang, cuma 2 perusahaan yang melakukan penawaran. Gambaran ini agaknya aneh jika dianggap sebuah kewajaran. PERMAKI menduga pola dalam proses pelelangan begini telah diintervensi oleh orang-orang di dalam, bisa jadi pihak itu adalah pihak Pokja ULP sendiri,” tuturnya.

“Kami menduga ada orang-orang yang mengendalikan proses lelang tender proyek tersebut. Semacam orang-orang yang memiliki power di intansi terkait,” timpal dia.

Kedua. PERMAKI melihat, ada indikasi pelanggaran Pokja terhadap aturan yang tertuang di dalam Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan; dan Permen PU-PR Nomor 14 Tahun 2020 dan atau Permen PU-PR Nomor 7 Tahun 2019 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Melalui Penyedia.

Melalui aturan tadi, ada penjelasan secara rinci dan detail perihal mekanisme dan aturan-aturan pemaketan tender untuk pekerjaan kegiatan kontruksi. Yang oleh PERMAKI dinilai tidak berjalan dengan baik.

Ketiga. Berdasarkan hasil perhitungan tim ahli yang dimiliki PERMAKI, harga penawaran hanya turun 4 persen dari HPS: yang sejak awal senilai Rp 50.000.050.570.

Kemudian, merujuk pada harga penawaran yang dilakukan kedua perusahaan tadi, didapati fakta: ada selisih berkisar 0,5 persen [perbandingan harga tawaran antara PT Krakatau Engineering dan PT Astoria Perkasa Nusantara].

Selisih angka atau persentase yang tidak besar ini, harusnya menurut PERMAKI, tidak menjadi beban bagi PT Astoria Perkasa Nusantara untuk tetap berupaya memenangkan proyek tersebut. Bila perusahaan tersebut memang benar sebagai penyedia yang ikut tender.

“Semacam ada ketidakseriusan dari PT Astoria Perkasa Nusantara untuk mengikuti tender. Padahal selisih harga tawar cukup kecil. Poin-poin ini memiliki korelasi dengan adanya dugaan praktik uang mundur yang diberikan kepada PT Astoria Perkasa Nusantara untuk tidak perlu lagi melakukan proses sanggahan,” tegas Mustofa Ali.

“Tidak adanya sanggahan sama sekali dari perusahan tadi, menggambarkan tender ini tidak mencerminkan persaingan yang kompetitif,” tambahnya.

Reporter: Saefudin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top