Daerah

Kecamatan Bayan Catat Jumlah Tertinggi ODGJ

Spesialis kejiwaan RSUD Tjitrowardojo Purworejo yang juga bertugas di UPT Puskemas Kecamatan Bayan, dr Erih Williasari SpKJ, di seminar dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Balai Rakyat Desa Bandungrejo, Kecamatan Bayan/DNL

PURWOREJO – Jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Purworejo, tercatat masih banyak.

Dari 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo, Kecamatan Bayan, menempati urutan teratas dengan jumlah sekitar 384 ODGJ yang tersebar di 26 desa.

Hal itu disampaikan oleh spesialis kejiwaan RSUD Tjitrowardojo Purworejo yang juga bertugas di UPT Puskemas Kecamatan Bayan, dr Erih Williasari SpKJ, saat dikonfirmasi di sela-sela menjadi pembicara seminar dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Balai Rakyat Desa Bandungrejo, Kecamatan Bayan, Kamis (10/10).

Kegiatan digelar oleh UPT Puskesmas Bayan dihadiri Kepala UPT Puskesmas Bayan, Muspicam Bayan, perwakilan care give atau perawat keluarga ODGJ dari 26 desa se-Kecamatan Bayan.

Baca Juga:  GPS Dan ACT Lampung Ringankan Beban Sesama

Dalam kegiatan itu, Puskesmas Bayan juga mengajak sedikitnya 26 ODGJ perwakilan desa untuk terlibat dalam Hari Kesehatan Jiwa Sedunia melalui sejumlah perlombaan, seperti menyanyi ODGJ, lomba makan krupuk, joget balon, dan senam bersama. Tujuannya, menghibur sekaligus memanusiakan.

“Kami berusaha mempromosikan ilmu kedokteran jiwa, terutama mengembangkan ilmu kejiwaan atau psikiatri komunitas. Kami mempromosikan kesehatan jiwa di masyarakat karena di Kecamatan Bayan ini ternyata jumlah ODGJ–nya tertinggi di Kabupaten Purworejo, sekitar 384 ODGJ,” kata dr Erih Williasari.

Tingginya jumlah ODGJ membuat UPT Puskesmas Bayan bekerja keras melakukan berbagai upaya dan terobosan. Program yang telah dilakukan antara lain turun ke desa bersama lintas sektoral setiap hari Selasa. Puskesmas juga membuka pelayanan poliklinik jiwa setiap Rabu.

“Setelah turun ke desa ternyata banyak ODGJ yang belum terdata. Memang yang dipasung tidak ada, tapi ada yang masih diisolasi atau diasingkan. Padahal seharusnya mereka tetap diperlakukan manusiawi selayaknya orang normal,” sebutnya.

Baca Juga:  KOIN Bakal Cetak Enterpreneur Baru di Purworejo dengan Program Ngingu Bareng

Diungkapkan, masih banyak keluarga dari ODGJ yang belum memahami pola perawatan ODGJ. Karena itu, edukasi perlu digencarkan agar mereka paham, termasuk bahwa ODGJ dapat hidup selayaknya orang normal dengan bantuan obat medis dan tindakan khusus secara berkelanjutan.

“Gangguan jiwa jika berobat teratur bisa hidup layaknya orang normal. Karena ODGJ itu macam-macam tingkatanya, ada yang ringan, sedang dan berat. Dan yang menentukan itu adalah dokternya,” jelasnya.

Dalam seminar kali ini dr Erih menyampaikan paparan sesuai tema peringatan yakni, Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri. Hal itu juga sejalan dengan realitas yang ada bahwa ODGJ rentan bunuh diri sehingga keluarga perlu memiliki pengetahuan yang cukup dalam merawatnya.

Baca Juga:  Anggaran Isolasi Mandiri, Apdesi Lampura Minta Kejelasan Anggaran

“Inilah pentingnya kesehatan jiwa, orang dikatakan sehat bukan karena fisiknya saja, tetapi juga mentalnya juga. Sakit fisik juga berpengaruh terhadap gangguan kejiwaan, misal sakit kanker atau tumor, ketika fisik yang sakit, jiwa menjadi terganggu karena cemas dan lainnya, dan ini juga yang perlu pendampingan atau pengobatan agar tidak berlanjut, bahkan bisa ada yang depresi hingga terjadi bunuh diri,” ungkapnya.

Kepala UPT Puskesmas Bayan, Wahyu Handoyo SKM MPH, menyatakan bahwa penanganan ODGJ menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Pihaknya optimistis tingginya jumlah ODGJ di Bayan dapat ditekan dengan adanya kesadaran bersama.(DNL)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top