Daerah

Junaedi Setiyono Lewat Novel “Tembang dan Perang” Perkaya Khazanah Cerita Panji

Dewan Kesenian Purworejo (DKP) pada Selasa (15/12) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Cerita Panji sebagai Sumber Inspirasi yang Tak Pernah Mati” / Istimewa

Suluh.co – Novel terbitan PT Kanisius berjudul “Tembang dan Perang” (TP) karya sastrawan dan Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), Dr Junaedi Setiyono MPd, dinilai memperluas wawasan tetang sejarah cerita Panji yang telah populer di Indonesia.

Novel ini juga memotivasi generasi muda untuk mendalami sejarah melalui aktivitas literasi.

Terkait hal itu, Dewan Kesenian Purworejo (DKP) pada Selasa (15/12) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Cerita Panji sebagai Sumber Inspirasi yang Tak Pernah Mati”.

Seminar diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan dan daerah di Indonesia. Sejumlah pembicara kelas nasional juga turut hadir secara virtual.

Prof Dr Ir Wardiman Djojonegoro (Mendikbud RI 1993-1998 dan Promotor Mow Unesco untuk Babad Diponegoro, Arsip-arsip Konferensi Asia-Afrika dan Cerita Panji) menjadi pembicara pertama dengan judul materi Mengupas Novel “Tembang dan Perang” dan Serba Serbi Panji.

Dr Ganjar Harimansyah MHum (Kepala Balai Bahasa Jateng) hadir bersama Kustri Sumiyardana SS MHum (Peneliti Muda Balai Bahasa Jateng).

Pembicara berikutnya yakni Dr Sudibyo MHum (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), Dr Junaedi Setiyono MPd, serta Dr Umi Faizah MPd (Ketua Prodi PBSI UMP). Webinar berlangsung interaktif dimoderatori Henri Nurcahyo (Pegiat Literasi Panji).

Dewan Kesenian Purworejo (DKP) pada Selasa (15/12) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Cerita Panji sebagai Sumber Inspirasi yang Tak Pernah Mati” /Istimewa

Dalam paparannya, Prof Wardiman mengapresiasi produktivitas Junaedi Setiyono dalam menulis buku di tengah kondisi Indonesia yang minat baca-tulisnya masih rendah.

Baca Juga:  Jembatan Kaliwayit di Lampung Tengah Ambles

“Untuk menjadikan Panji diterima sebagai kebanggan kita, kita harus bangga dengan produk Pak Junaedi ini karena memperluas sejarah tentang cerita Panji,” katanya.

Disebutkan, Panji sesungguhnya adalah nama kumpulan dari Sastra dan Budaya, yang bermula sebagai cerita rakyat pada tahun 1300-an, pada masa bangkitnya Majapahit.

Cerita-cerita Panji menjadi sangat popular dan menjadi inti dari berbagai pagelaran budaya zaman itu, seperti tarian, berbagai wayang (wayang beber, wayang geletuk, tari topeng, wayang wong), dan juga diabadikan dalam berbagai relief di sedikitnya 20 candi di Jawa Timur.

Menurutnya, masyarakat Indonesia patut berbangga kepada nenek moyang yang berhasil mengembangkan Sastra dan Budaya Panji.

“Banyak hal yang membuat kita kagum dan memberikan apresiasi atas genius lokal nenek moyang kita,” ungkapnya.

Baca Juga:  1 Suro, Ratusan Anak Ikuti Sunat Massal di Perumahan Argopeni

Dr Ganjar Harimansyah sepakat bahwa cerita Panji merupakan sumber inspirasi yang tak pernah mati. Pasalnya, di dalamnya ada potensi kekuatan untuk dimodifikasi dan dialihwahanakan.

Menurutnya, sudah terbukti bahwa cerita Panji tidak sekadar sastra lisan dari tanah jawa, melainkan juga menginspirasi dalam sajian beragam kesenian rakyat di Indonesia hingga ke Mancangeara, seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.

“Dalam perjalanannya, cerita Panji telah dimodifikasi dengan aneka bentuk atau genre sastra dan dialihwahanakan ke dalam bentuk seni lain, seperti seni rupa, musik, dan pertunjukan,” paparnya.

Dr Sudibyo dalam paparannya lebih banyak menyoroti hal-hal dalam TP dibandingkan dengan cerita-cerita Panji yang telah berkembang sebelumnya dalam materi berjudul “Yang Abadi dan Fana dalam Novel Tembang dan Perang”.

Dr Umi Faizah mengupas TP dari sisi nilai dedaktisnya sebagai kontribusi pengajaran sastra di perguruan tinggi berbasis teknik scaffolding.

Sementara Junaedi Setiyono menyatakan bahwa penulisan novel TP merupakan sebuah upaya merawat ingatan.

Dirinya berharap TP dapat dibaca oleh teman-teman yang menyenangi baca-tulis dan menyukai cerita. Mereka sebagian besar bukanlah sastrawan, akademisi sastra, atau orang yang pekerjaannya erat kaitannyadengan keduanya.

Baca Juga:  Bripka Masruri Rahman & Evi Surahmawati Kembali Diganjar Penghargaan

“Itulah yang saya upayakan dalam penulisan Tembang dan Perang. Saya sengaja menjauhi untuk berkhotbah, tidak ingin bertele-tele, dan mengupayakan masuk akal. Semoga Tembang dan Perang tidak jauh panggang dari api dari apa yang saya upayakan, yakni menjadikan ragam Cerita Panji bagian dari sastra Indonesia modern,” bebernya.

Ketua DKP, Angko Setiyarso Widodo menyebut Webinar terselenggara atas dukungan dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dinparbud serta Dinas Dinkominfo Kabupaten Purworejo, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan UMP.

Event ini sebagai bentuk apresiasi kepada penulis dan pegiat seni asal Purworejo yakni Junaedi Setiyono yang cukup produktif menelurkan karya-karya monumental serta mengangkat nama Purworejo di kancah nasional hingga internasional.

Lebih dari itu, menjadi bagian dari upaya nyata pelestarian Cerita Panji sekaligus mendorong generasi muda Indonesia untuk lebih gemar membaca, bangga pada budayanya, dan mencintai karya-karya anak bangsa.

“Mudah mudahan,ini menggugah kita, generasi sekarang dan yang akan datang,” tandasnya.(Mahestya Andi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top