Pendapat

HPSN, Bangun Budaya Peduli Sampah

Hari Peduli Sampah Nasional/Flayer

Oleh : M.D Wicaksono
Widyaiswara Ahli Madya, BPSDM Provinsi Lampung

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap tanggal 21 Februari harus menjadi momentum bangun budaya peduli sampah. Siapa yang harus melalukan, maka jawabannya seluruh warga bangsa. Sebagai bagian dari warga bangsa ASN patut menjadi tauladan dalam sikap dan tindakan nyata di keseharian.

 

Hari Peduli Sampah

Tragedi longsor di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Leuwigajah, Bandung, 21 Februari 2005 lalu, mengakibatkan tewasnya 143 orang dan sekitar 137 rumah rusak, menjadi bencana lingkungan akibat sampah terbesar di Indonesia. Sejak saat itu setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Sampah dihasilkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Hewan dan tumbuhan hanya menghasilkan sampah organik, hanya manusialah yang menghasilkan berbagai jenis sampah. Setiap tahun, kota-kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton. Bank Dunia memperkirakan pada tahun 2025 jumlah sampah bertambah hingga 2,2 miliar ton.Manajemen sampah buruk terutama di negara berkembang menjadi salah satu pemicunya, seperti Indonesia angka pendaurulangan sampah termasuk rendah di bawah 50 persen (nationalgeographic.co.id, 2015).

Peringatan HPSN 2021 bertema “Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi”. Dalam puncak peringatan HPSN, ada serangkaian kegiatan terkait konten substansi pengelolaan sampah, penyampaian penghargaan kepada tokoh dan peluncuran Sistem Informasi HPSN. “HPSN 2021 harus menjadi babak baru pengelolaan sampah di Indonesia, dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi Indonesia,” ungkap Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Humas KLHK, 2021)

Baca Juga:  Ruang Ekspresi Budaya Tradisional (Bagian 1)

Persoalan sampah harus menjadi perhatian utama yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam pengelolaannya. Persoalan sampah merupakan persoalan serius dan multidimensi, sehingga diperlukan resonansi kepedulian persoalan sampah secara terus menerus.

 

Reduce, Reuse, Recycle

Pengelolaan sampah saat ini dikenal sistem 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle)guna menjaga dan memperbaiki lingkungan hidup. Reducediartikan pengurangan sesuatu berdampak menghasilkan sampah. Reuse diartikanpemanfaatan kembali sampah untuk digunakan sama dengan awal atau berbeda, sedangkan Recycle diartikan pengolahan kembali (daur ulang) sampah menjadi produk baru.

Reduce, berarti juga pencegahan munculnya sampah, keseharian dapat dilakukan saat berbelanja dengan membawa tas belanja. Selain itu reduce dapat diartikan dengan hemat, sesuai dengan takaran dan tidak berlebihan. Air menjadi salah satu hal yang harus dihemat. Seringkali kita lihat berlebihan penggunaan air, sabun, shampo, saat mencuci dan mandi. Penggunaan shower atau ember dan gayung akan mengatur pembatasan penggunaan air. Selain itu penghematan penggunaan kertas secara dua sisi, setelah sisi sebelahnya digunakan.

Baca Juga:  Accountability For All: Realokasi Dana Covid-19 Tepat Sasaran

Reuse, menggunakan ulang barang setelah dipakai. Pemakaian kembali tas plastik belanja untuk keperluan sejenis,penggunaan ulang botol air minum, serta pengisian ulang botol sabun cair dan shampo menjadi bentuk reuse.

Recycle berarti mengolah menjadi produk baru dari sampah. Kertas daur ulang berasal dari sampah kertas kemudian diolah menjadi kertas baru. Kertas daur ulang dapat digunakan sebagai bahan cetak undangan atau lainnya. Daur ulang juga dapat dilakukan pada sampah organik, sampah dari tanaman dan sisa makanan, selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos.

 

Pengolahan Sampah

Langkah awal dari pengolahan adalah pemilahan sampah. Pemilahan diartikan melakukan penyatuan jenis sampah sesuai dengan bahan, bentuk, ukuran, dan indikator lainnya. Di Indonesia paling banyak membedakan sampah dalam tiga kategori sampah basah, sampah kering, sampah logam. Namun ada juga lebih simple dengan dua kategori saja, sampah organik dan anorganik, diartikan bahwa sampah organik adalah dapat diurai (degredale) dan anorganik adalah tidak terurai (undegradable).

Sampah organik menjadi bahan pembuat pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik harus dipilah lagi diantaranya plastik (botol atau gelas plastik), kaleng (minuman, makanan), kertas (karton, koran), kaca (botol kaca), sampah ini memiliki nilai ekonomis karena banyak dicari dan laku jual.

Pemilahan sampah dapat dilakukan dengan memperbanyak tempat sampah berdasar keperluan pengelolaan berikutnya. Hal ini dapat mempermudah dalam pengolahan sampah baik oleh lembaga atau perusahaan swasta, maupun oleh instansi kebersihan pemerintah.

Baca Juga:  Karantina Wilayah Harus Diberlakukan

 

Semua pihak berbuat

Keberhasilan sebuah program ditentukan oleh peran serta dari para pihak terkait. Semua    pihak harus melakukan sesuai dengan kapasitas, tugas dan fungsi. Siapa berbuat apa, siapa melakukan apa. Perubahan akan terjadi apabila semua pihak secara bersama-sama berbuat. Tidak saja satu pihak berbuat sedangkan pihak lain hanya melihat. Bahkan hanya menggantungkan kepada beberapa pihak saja untuk berbuat.

Kedisiplinan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan, melakukan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle)dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini akan lebih mudah apabila diawali dari percontohan yang dilakukan oleh ASN sebagai abdi negara. Baik dilakukan di lingkungan tempat kerja dan tempat tinggal. Mengajak melakukan akan lebih mudah dengan keteladanan. Mari kita manfaatkan momentum hari peduli sampah nasional tahun ini, sebagai upaya terwujudnya budaya peduli sampah dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top