Daerah

Endang Lintang Rubah Lapas Kelas IIA Kalianda jadi Instagramable

Peringatan Hari Dharma Karya Dhika ke-74 tahun 2019, di Lapas Kelas IIA Kalianda/KMF

KALIANDA – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto mengapresiasi kinerja dan terobosan yang dilakukan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kalianda (Kalapas) Kelas IIA Kalianda, Endang Lintang.

Pasalnya, Kalapas yang baru bertugas mulai Januari 2019 ini mampu merubah paradigma tentang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai tempat yang angker menjadi tempat yang asri, nyaman, hits, kekinian atau menjadi tempat yang instagramable.

“Ini luar biasa, saya sangat mengapresiasi langkah pak Endang Lintang yang bisa merubah Lapas menjadi seperti ini,” ujar Nanang saat mengunjungi Lapas Kelas IIA dalam rangka peringatan Hari Dharma Karya Dhika ke-74 tahun 2019, Rabu (30/10) kemarin.

Sementara itu, Kalapas Endang Lintang mengatakan, terobosan yang dilakukannya bertujuan untuk merubah kesan Lapas yang dikenal angker menjadi tempat yang asri sehingga ramah bagi sanak keluarga yang berkunjung maupun bagi warga binaan Lapas itu sendiri.

Pantauan tim ini, suasana asri dan sejuk mulai terasa saat memasuki halaman Lapas dengan suguhan pemandangan taman yang tertata rapi. Demikian juga dinding bagian depan Lapas yang dihiasi mural berkonsep natural.

Baca Juga:  Waspada Hujan Disertai Angin di Bagian Selatan Lampung

Sama halnya seperti diluar Lapas, suasana didalam Lapas pun tak kalah asri dengan deretan bonsai yang mendominasi tanaman hias hasil karya warga binaan. Dinding-dinding ruangan juga dihiasi mural berkonsep hutan pinus, pantai, danau, hingga gedung-gedung pencakar langit.

Menurut Endang Lintang, semua itu tidak luput dari goresan tangan warga binaan dalam menuangkan ide kreatifnya melalui coretan dinding.

“Sebenarnya, semua warga binaan memiliki talenta masing-masing. Ada yang hobi melukis, main band, nukang, dan banyak lagi. Tinggal bagaimana kita mendorong serta memberikan semangat kepada mereka. Karena semua peralatan sudah kita sediakan,” kata Endang Lintang.

Endang Lintang menambahkan, mulai dari pembuatan taman, lukisan dinding maupun karya yang lain, semuanya merupakan hasil karya warga binaan. Termasuk kursi serta lukisan dinding yang berada diruang Kalapas merupakan hasil karya warga binaan.

“Semuanya otodidak. Tinggal bagaimana kita memberikan motivasi untuk mereka berkreasi. Jika apa yang mereka kerjakan itu salah atau kurang bagus, ya biar saja. Kita hanya terus berikan motivasi,” tukasnya.

Baca Juga:  Korban Tenggelam di Pantai Kalianda Ditemukan Warga  

Selain itu, salah satu terobosan yang dilakukan Endang Lintang yang patut diapresiasi adalah dengan diberlakukannya kunjungan diluar ruangan.

Yang mana kata Endang Lintang, jika selama ini keluarga atau pengunjung yang ingin bertemu warga binaan harus berada di ruang khusus dan dibatasi waktu, dirinya melakukan suatu terobosan dengan memberlakukan kunjungan diluar ruangan dengan suasana yang nyaman.

Gebrakan itu diklaim satu-satunya dan yang pertama di Indonesia. Dimana kunjungan berlangsung diluar ruangan dalam suasana ramai karna berbaur dengan warga binaan lain beserta masing-masing keluarganya.

Lebih lanjut Endang menjelaskan, saat ini jumlah warga binaan secara keseluruhan sebanyak 794 orang. Sedangkan pegawai Lapas secara keseluruhan berjumlah 76 orang dengan petugas jaga saat ada kunjungan hanya 9 orang.

“Ada sekitar 30 meja berikut tempat duduk disediakan oleh Lapas saat keluarga atau handai tolan bertemu dengan warga binaan. Sementara petugas yang berjaga hanya 9 orang. Memang tidak sebanding tentunya dengan jumlah warga binaan yang ada,” tuturnya.

Baca Juga:  Korban Tsunami Lamsel Terima Bantuan Hibah 200 Juta dari Pemkab Mesuji

Menurut Endang, meski warga binaan melakukan sebuah kesalahan yang mengharuskan mereka dihukum, tetapi pihaknya selalu berupaya untuk memperlakukan warga binaannya seperti masyarakat biasa.

Meski tampak terlihat begitu bebasnya warga binaan ketika jam kunjungan diluar ruangan, namun tidak sedikitpun terlihat rasa khawatir para tahanan akan kabur dengan longgarnya penjagaan. Terlebih, yang berjaga hanya 9 orang.

“Mereka sebenarnya lebih suka berinteraksi dengan masyarakat. Apalagi dengan kita sediakannya taman kunjungandimana setiap warga binaan yang mendapat kunjungan dari keluarganya, mereka bisa duduk bersama, makan bersama keluarga dengan tidak dibatasi oleh waktu. Kita buat mereka lebih bermartabat, istilahnya memanusiakan manusia,” tandasnya.(EDI/KMF)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top