Daerah

Buntut Kepala Kampung Banting Gelas, Warga  Sambangi Yayasan Hidayatul Muslimin

Kepala Kampung Gunung Tapa Ilir, Normansyah, bersama warga/MUR

Suluh.co – Puluhan warga mendatangi Sekolah Dasar Islam Terpadu Hidayatul Muslimin di Kampung Gunung Tapa Ilir, Kecamatan Gedung Meneng, Tulangbawang, Jumat (30/7).

Mereka mempersoalkan biaya pendidikan dan keberadaan bangunan yang berpotensi menghambat akses berdagang.

Joni Irianto, salah satu wali murid, mengatakan, bangunan yang diletakan disamping bangunan lama, sangat tidak tepat, karena menutupi jalan masuk juga membelakangi rumah kepala kampung.

“Lahan masih banyak kenapa tidak dibangun pada bagian sampingnya lebih pas. Ini lantaran tidak adanya koordinasi pihak sekolah dengan komite serta kakam jadi asal-asalan,” ujarnya.

Keadaan tersebut semakin  diperparah lagi akibat dari bangunan tersebut sangat merugikan warga setempat yang berjualan guna mencari rezeki.

“Karena akibat dari bangunan yang baru ini warga yang biasa berjualan tidak bisa lagi berjualan lantaran ditutup oleh bangunan itu. Karena siswa-siswi yang akan jajan sudah tidak bisa lagi keluar untuk jajan seperti biasanya,” bebernya.

Baca Juga:  Keraton Agung Sejagat jadi Destinasi Wisata Dadakan

Untuk itu dirinya meminta kepada pihak yayasan agar membuatkan gerbang atau pintu masuk tepat ditengah bangunan baru tersebut.

Sementara, Babinsa kampung setempat M. Saleh, meminta warga masyarakat bersabar dan tidak melakukan perusakan terhadap aset yayasan.

“Jangan bertindak anarkis, saat ini pihak sekolah maupun pengurus yayasan tidak berada ditempat. Namun, saya bersama babinkamtibmas akan berkoordinasi dengan pihak yayasan untuk mencari solusi yang terbaik untuk kedua belah pihak,” tegasnya.

Sebelumnya, persoalan ini sempat dibahas  bersama aparat setempat dan pihak terkait, tapi berakhir ricuh setelah salah satu peserta  rapat membanting gelas.

Ketika itu, pihak yayasan sempat menyatakan tak ada persoalan berarti mengenai kebijakannya serta terkesan mencari-cari kesalahan.

Mengenai hal ini, Kepala Kampung Gunung Tapa Ilir, Normansyah mengaku reflek membanting gelas saat pertemuan di Balai Kampung, Rabu 28 Juli 2021.

Baca Juga:  Polres Tuba Pastikan Tindak Pelaku Penimbunan Sembako

Dan, beberapa peserta rapat hanya berinisiatif meredam kericuhan tanpa bermaksud mencederai siapapun.

“Saya reflek banting gelas mendengar bahasa provokatif. Saya kesal, seolah-olah mereka (yayasan) menuduh semua atas keinginan saya, padahal itu murni aspirasi warga. Saya punya bukti surat pernyataan masyarakat, dan gelas yang saya banting dilantai tidak melukai siapapun, karena bukan dilempar tapi dibanding dilantai dekat kaki saya sendiri. Jika persoalan ini dibawa keranah hukum saya siap memberikan keterangan yang sebenar-benarnya,” papar Normansyah, Jumat (30/7).

Terpisah, Sulaiman, salah satu peserta rapat yang hadir waktu itu, mengaku, bahwa dirinya dalam forum musyawarah tersebut datang hanya sebagai warga masyarakat yang diundang oleh aparatur kampung untuk hadir mendengarkan pemaparan pihak yayasan mengenai statusnya sekarang.

Tetapi sebelum dimulainya musyawarah, dirinya yang kebetulan berada dikursi depan melihat ketua yayasan bangun dari tempat duduknya sembari mengangkat sebuah kursi plastik.

“Pas ada suara gelas pecah, Pak Muhammad bangun bawa kursi, perasaan saya dia (Muhamad) mau gebuk kepala kampung, saya bangun dan tarik bajunya kemudian punggungnya saya tekan. Jadi tidak ada sama sekali pencekikan atau tindakan kekerasan fisik seperti yang dituduhkan kepada saya. Niat saya hanya melerai dan pada saat itu bukan saya sendiri tapi ada beberapa orang turut melerai,” jelas Sulaiman, yang juga orangtua dari Kakam Normansyah.

Baca Juga:  Peserta MTQ ke-47 di Input Secara Online

 

Reporter : Murni Aroni Cikmamat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top