Bandar Lampung

Bos PT Sinar Jaya Agro Investama di Pusaran Konspirasi Jual Beli Tanah Gunung Kunyit

Bos PT Sinar Jaya Agro Investama di Pusaran Konspirasi Jual Beli Tanah Gunung Kunyit
Bos PT Sinar Jaya Agro Investama di Pusaran Konspirasi Jual Beli Tanah Gunung Kunyit

Ilustrasi.

Suluh.co – Dimulai dengan pelaporan dari Nuryadin, pemilik ‘Si Raja Besi Tua’, Satuan Resere Kriminal Polresta Bandar Lampung menetapkan 2 orang tersangka: M Syaleh dan Darussalam –kader Partai Gerindra Lampung.

Ringkasan isi laporan Nuryadin: tipu gelap yang menyebabkan dirinya merugi Rp500 juta. Di proses penyidikan, 2 orang tersangka itu tidak ditahan.

Kasus ini pun memasuki tahap penuntutan. Yang perlu diketahui, baru M Syaleh yang dituntut. Sedangkan berkas Darussalam dinyatakan Kejaksaan Negeri Bandar Lampung belum lengkap: sudah berulangkali P-19.

Dari surat dakwaan yang dibacakan jaksa untuk M Syaleh, penuntut umum menahan M Syaleh sejak 12 November 2020 sampai 1 Desember 2020. Surat dakwaan ini dibacakan jaksa muda bernama Ali. Di dakwaan, M Syaleh diancam pidana atas Pasal 378 KUHP; dan Pasal 372.

Kasus ini dimulai dan berlangsung di rumah Nuryadin pada Selasa, 9 September 2014 silam, sekitar pukul 09.30 WIB di Perumahan Bukit Kencana 3, Blok Ki, nomor 29, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung.

Di tempat itu, M Syaleh dan Darussalam datang ke sana dengan membawa maksud dan tujuan. “[…] meminta bantuan Nuryadin membiayai pembuatan sporadik tanah seluas 16 Hektare di Gunung Kunyit milik M Syaleh,” ungkap jaksa seperti dituangkan dalam dakwaan yang diperoleh Suluh.co.

Klaim M Syaleh ini turut membawa-bawa nama Sutomo. Sutomo ini bukan orang biasa. Sejauh penelusuran Suluh.co, Sutomo adalah bos dari PT Sinar Jaya Agro Investama. Perusahaan ini bergerak di bidang usaha jual beli Crude Palm Oil atau CPO.

“[…] yang sedang dalam proses jual beli dengan pembeli tanah adalah Sutomo. Dalam proses jual beli tersebut M Syaleh telah menerima uang muka atas jual beli tersebut, dan pihak pembeli akan memberikan pembayaran termin kedua setelah tanah tersebut dibuatkan sporadik,” ungkap jaksa.

Nuryadin disebut dimintai uang Rp 500 juta untuk membuat sporadik karena M Syaleh mengaku tidak punya uang, dan Nuryadin diimingi uang Rp 2,4 miliar apabila tanah itu benar-benar dibeli Sutomo.

“[…] bahwa setelah sporadik tersebut jadi dibuat maka sporadik tersebut akan diserahkan kepada Nuryadin sebagai jaminan, dan menjanjikan akan memberikan kompensasi sebesar Rp 2,4 miliar setelah mendapat pembayaran dari pihak pembeli,” tulis jaksa.

Mendengar cerita itu, Nuryadin pun mau mengamini permintaan M Syaleh. Nuryadin awal-awal memberikan uang muka senilai Rp 125 juta. Uang ini diberikan pada hari dimana pertemuan itu berlangsung berikut dengan tanda terima yang ditandatangani oleh Darussalam dan Sudiono.

“[…] sisanya sebesar Rp 375 juta akan Nuryadin berikan setelah sporadik tersebut jadi dan diberikan kepada saksi Nuryadin,” urai jaksa.

12 September 2014 setelahnya, Nuryadin memberikan Rp 375 juta. Diuraikan jaksa, M Syaleh dan Darussalam kembali datang ke rumah Nuryadin. Penyerahan uang dan kesepakatan yang dibangun oleh M Syaleh dan Nuryadin, dituangkan dalam surat tanda terima. Ditandatangani oleh Darussalam; M Basyarudin; dan Sudiono.

“[…] kemudian Nuryadin dan M Syaleh membuat perjanjian atas kesepakatan tersebut [lewat] berupa surat perjanjian bagi hasil tanggal 12 September 2014.

Namun kenyataannya uang yang M Syaleh terima dari Nuryadin yang diberikan secara bertahap tersebut tidak dipergunakan untuk membuat sporadik. Melainkan hanya akal-akalan terdakwa saja,” terang jaksa.

Jaksa menyatakan, sebenarnya surat sporadik tersebut sudah ada dan telah dibuat pada tanggal 03 Maret 2006. Namun surat tersebut dalam posisi digadaikan M Syaleh kepada Zainal.

Jaksa menguraikan, pada akhirnya tanah seluas 16 Hektare yang diakui milik M Syaleh yang akan dijual kepada Sutomo batal dan tidak berlanjut.

Sutomo sudah 3 kali tidak hadir ke dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua, Jhonny Butar-butar. Terbaru, Sutomo disebut tidak dapat hadir karena sakit: reaktif Covid-19. Sutomo diminta hadir karena ia adalah saksi fakta.

Reporter: Ricardo Hutabarat

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top