Bandar Lampung

Angka Pandemi Bikin Tercekat, Pejuang Bravo Lima Ajak Rakyat Teladani Nabi Muhammad

ARY MEIZARI ALFIAN, Ketua DPD Pejuang Bravo Lima (PBL) Lampung, dalam satu kesempatan menyalurkan donasi kemanusiaan kepada warga terdampak terparah imbas sosial ekonomi pandemi COVID-19, pada 13 Mei 2020. | Foto: PBL Lampung

BANDAR LAMPUNG — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Pejuang Bravo Lima Provinsi Lampung, Ary Meizari Alfian kembali mengajak dan mengingatkan kepada 9,45 juta jiwa rakyat Lampung untuk tetap bersemangat jalani hidup ditengah suasana sulit saat ini.

Ary Meizari mengatakan, terus siaga mencari nafkah jadi pahlawan keluarga dan menjaga pola hidup bersih sehat, disiplin mematuhi protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan/berkerumun (3M), demi turut mencegah penularan, mengendalikan persebaran, memutus rantai penularan wabah COVID-19, jadi alarm nyaring kehidupan manusia kini.

Dalam keterangan tertulisnya di Bandarlampung, Rabu (2/12/2020), tokoh Lampung satu ini mengaku sedih setiap kali menyimak kabar penaikan kurva positif terkonfirmasi corona. Alih-alih bertambah korban meninggal dunia.

“Atas nama pribadi dan seluruh jajaran DPD Pejuang Bravo Lima Lampung dan DPC Pejuang Bravo Lima se-Lampung, kami melawat belasungkawa sedalam-dalamnya atas saudara-saudara kita pasien positif corona yang meninggal dunia,” Ary Meizari Alfian, didampingi wakil ketua Yanuar Irawan, dan sekretaris Muhammad Reza Berawi.

“Saudara-saudaraku, minak muakhi, sedhulur sedhoyo, sadulur sadayana, warga masyarakat Lampung dimana pun berada, saat ini tak ada yang bisa larang kita beraktivitas belajar, bekerja, beribadah di luar rumah,” ujarnya.

Akan tetapi, terus dia, “ayo selalu pakai masker, selalu bawa masker cadangan. Ganti masker setiap empat jam sekali. Mari kita menjadi dokter bagi diri kita sendiri. Sayangi diri kita, saudaraku,” Ary meminta.

Pengusaha properti pemilik Emerald Hill Residence Bandarlampung itu menyebut, kematian ialah takdir Allah. “Allah berfirman dalam Surat Al Imran ayat 185, antara lain berbunyi tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati,” kutip dia.

Namun, tandas Ary, bagi mayoritas rakyat Indonesia termasuk Lampung yang notabene mayoritas umat Islam, seperti yang dapat disuriteladani dari Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, besar faedah jika kita mengambil sebanyak mungkin inisiatif pribadi, kelompok, bersama-sama mencegah.

“Menghindari kontak fisik dengan yang diketahui positif corona, tak ikut latah mengucilkannya usai korban wabah diketahui telah benar-benar dinyatakan sembuh 100 persen pulih, bersama berserah total berpasrah diri tawakal pada Allah, bersabar sambil bersama pemerintah berikhtiar sekuat tenaga hentikan penularan persebarannya, merawat optimisme badai ini seizin Allah pasti akan berlalu,” bijak dia.

Referensi Ary, di masa Rasulullah pun, sejatinya yang kini kita kenal deteksi dini, social atau physical distancing, karantina atau isolasi mandiri, PSBB atau kuncitara, seperti diulas oleh para filolog dan ahli hadist, pun dijalankan ketika ada wabah.

Ary mengutip Hadist Riwayat Bukhari. “Rasulullah SAW bersabda, tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya,” kutipnya.

Sembari menanti kepastian vaksinasi COVID-19 benar-benar terlaksana, jelas Ary, yang setiap hari kita dengar soal pentingnya melindungi diri dengan memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan.

Dan, saat yang sama terus meminta perlindungan Allah, terus menjaga pola hidup sehat, serta terus mengajak dan mengingatkan siapapun untuk sama-sama awas, mawas, waspada, siaga, disiplin protokol kesehatan tersebut.

“Itulah menurut kami, sebaik-baiknya perilaku beradab kita menjalani masa-masa sulit ini. Yang masih pada bandel usai kita ingatkan baik-baik atau keras, doakan agar Allah melindunginya,” kata mantan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Bandarlampung satu setengah periode, 2011-2015 dan 2015-2017 itu.

Bendahara Yayasan Alfian Husin, pengampu belasan institusi pendidikan multijenjang, kesehatan, advokasi hukum, pengembang properti, dan start-up itu lugas. Corona, sebut dia, belum pergi, tak pandang bulu siapa yang hendak dijangkiti.

“Dalam setiap kesempatan, kami kerap ingatkan kepada siapapun, corona ini tak pakai permisi, tak pandang bulu. Dari pesinden sampai presiden, mantri sampai perdana menteri, bang jago sampai bang kumis, tukang bakso sampai tukang jual brownis, saya, anda, kita semua bisa kena,” cetus dia.

Sebab itu, bekas sekretaris harian Tim Nasional DKI Lampung –panitia ad hoc pejuang pengusulan Lampung sebagai calon lokasi ibu kota negara (IKN) baru RI medio 2018-2019 itu mengajak lagi. “Mari sayangi diri, keluarga, jangan konyol celakai diri dan orang-orang tercinta. Mari berduyun-duyun teladani adab Nabi Muhammad, kita sungguhi dalam menghadapi wabah ini.”

Usah terpikir barang sekalipun meremehkan wabah, terus bekali diri protokol 3M, senjata utama mencegah penularan, disertai 1×24 jam pinta doa.

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Jangan lupa ngopi,” pungkas Ary mengunci keterangannya, mengutip penggalan Al Baqarah 153, sadar posisi dia warga Lampung, satu dari surga kopi Zamrud Khatulistiwa.

Seperti diketahui, 220 negara masih terjangkit COVID-19. Telah 1,469 juta lebih nyawa melayang sejak kasus positif pertama di Wuhan, Tiongkok, Desember 2019.

Rilis Badan Kesehatan Dunia (WHO), hingga 2 Desember 2020, warga bumi terkonfirmasi positif 63,14 juta jiwa.

Baca Juga:  Pupuk Indonesia: Petani Harus Terdaftar e-RDKK untuk Dapat Pupuk Bersubsidi, PBL Lampung Siap Monitor

Sebaran di Tanah Air, disitat diakses dari laman covid19.go.id, hingga Rabu (2/12/2020) tercatat 458.880 orang telah dinyatakan sembuh. Barakallah!

Tetapi, sejak temuan kasus positif pertama 2 Maret 2020, dari 549.508 saudara-saudara sebangsa setanah air yang terkonfirmasi positif, hingga 2 Desember, yang wafat 17.199 orang.

November, bulan diabetes sedunia, bulan yang salah satu tanggalnya jadi tanggal lahir “monopoli” –permainan yang mengajarkan kita asas ekonomi secara sederhana, diciptakan Charles Darrow dan dibeli-pasarkan Parker tahun 1935, lewat sudah.

Tiga hari awal Desember saat genap setahun jagat planet terdekat ketiga matahari, dihuni 7,8 miliar populasi manusia berlandas data real time Worldometer per 25 Oktober 2020 ini digebyah jajah jamah jarah ini wabah.

Meski jika kita buka lembar sejarah, wabah sejenis cacar pernah melanda sekitar masa Nabi Muhammad SAW, diketahui dari kisah penyerangan Abrahah terhadap Ka’bah di Mekah, yang gagal sebab Jenderal Habasyah dan pasukannya didera wabah, yang baru melandai sekitar abad kedelapan saat dampak wabah laju berkurang. Demikian dilaporkan Republika.

Juga, wabah epidemi pes disebabkan bakteri “yersinia pestis” asal kutu tikus hitam, ditandai menghitamnya kulit jari tangan jari kaki ujung hidung manusia yang terjangkit, hingga “wabah mesiu” ini dijuluki The Black Death, membunuh 50 juta jiwa setara 60 persen populasi Eropa kurun 1346-1353 Masehi.

Lalu, tujuh periode pandemi kolera dua abad terakhir. Terbagi 6 periode kurun 1817-1923, 106 tahun lamanya tak jeda terus mewabah dengan 3 klaster inti penularan –peningkatan aktivitas perdagangan, migrasi, dan ziarah.

Saat Pasteur temukan imunisasi pertama, Filippo Pacini-Robert Koch sukses kembangkan vaksin pertama dan mengidentifikasi Vibrio cholerae bakteri penyebab, 1879-1883, ini ada di akhir enam periode beruntun itu.

Dimulai pertama 1817-1824, pandemi kolera Asiatik pertama (kolera Asiatik), asal Bengal, Kalkuta, India menyebar cepat lewat pintu niaga Asia Tenggara ke Timur Tengah, Afrika timur, dan garis pantai Laut Mediterania.

Hingga 1820, seluruh India tersapu, korban tewas ratusan ribu termasuk 10 ribu tentara Inggris. Meluas ke Cina, Laut Kaspia, Bangkok 30 ribu tewas, pun tiba Indonesia. Di Jawa saja, yang tewas konon 100 ribu.

Pandemi kolera kedua 1826-1837 dari India lintasi Asia barat ke Eropa, Inggris, AS, timur ke Jepang dan Cina. Ber-angka kematian lebih banyak lebih cepat, sebanyak secepat transmisi global sebab pesatnya orang berniaga termasuk migrasi tentara.

Korban tewas, catat Wikipedia, 100 ribu orang di Rusia dari total 250 ribu kasus terkonfirmasi, Hongaria sekitar 100 ribu, Mesir 130 ribu, pada 1832 di Inggris Raya 55 ribu lebih termasuk 6.536 orang di London –kota penyebut ini “King Cholera”, Paris 20 ribu bagian 100 ribu korban di Prancis. Di Meksiko kasus terpantau pada 1833 dan 1850.

Pandemi kolera ketiga 1846-1860, masih dari India, tergolong terbesar abad ke-19, jauh hingga Afrika Utara, Amerika Selatan, diyakini peneliti UCLA kemungkinan merebak 1837 usai 1863. Lebih 1 juta jiwa tewas di Rusia.

Juga tewas, 15 ribu lebih di Mekah pada 1846, Inggris dan Wales 52 ribu pada 1848, 21 ribuan (London 14.137 jiwa, embarkasi imigran Amrik Utara di Liverpool 5.308 jiwa, Hull 1.834 jiwa) pada 1849, merenggut lagi 10.739 jiwa per epidemik di London 1853-1854.

Diprediksi 150 ribu orang di AS tewas kurun pandemi kedua dan ketiga 1832 hingga 1849, antaranya 7.500 orang di St Louis dan ‘jazz mom’ New Orleans, 6-12 ribu di California, Mormon, dan Oregon Trails, ribuan lainnya New York, dan 3.500 di Chicago.

200 ribu tewas di Meksiko, 6 ribu di Pulau Gran Canary Las Palmas, Spanyol musim panas 1851, menyebar ke Asia –Indonesia 1852, Jepang 1854, Filipina 1858, Korea 1859– dengan antara 100-200 ribu kematian di Tokyo, Jepang. Spanyol 236 ribu 1854-1855, dan Puerto Rico 25,8 ribu 1855-1856.

Per kumulatif, India sendiri tiga periode pandemi, angka kematiannya tembus 15 juta, selain Rusia 2 juta jiwa.

Pandemi kolera keempat 1863-1875, mula ditemukenali dari Delta Gangga, Bengal, India dan bertransmisi dengan peziarah muslim ke Mekah, hingga menewaskan 30 ribu dari total 90 ribu jamaah haji, tahun pertama periode.

Mencapai Afrika Utara 1865, tahun 1866 jadi mesin pembunuh tersadis (seiring deru Perang Austro-Prusia di Kekaisaran Austria 165 ribu tewas termasuk 60 ribu di Hongaria dan Belgia, 20 ribu di Belanda), Rusia 90 ribu, Jerman 115 ribu, 5.594 di London.

Di Italia 113 ribu, Aljazair 80 ribu tewas 1867. Menyebar ke sub-Sahara Afrika, 70 ribu tewas di Zanzibar 1869-1870. Di AS 50 ribu, dari New Orleans susuri tepian Mississippi.

Pandemi kolera kelima 1881-1896, wabah kolera global ke-5 terbesar abad 19, Eropa per epidemik menelan 250 ribu jiwa 1883-1887, Amrik 50 ribu, Jepang 90 ribu 1887-1889, Spanyol 120 ribu, Hamburg 8.600 jiwa, Rusia 267.890 jiwa 1892-1894, Persia 60 ribu, Mesir 58 ribu, juga ke Afrika lainnya dan Amerika Selatan.

Baca Juga:  Tingkat Vaksinasi Lampung Terendah se-Indonesia, Taufik Minta Data Valid dari Gubernur

Pandemi kolera keenam 1899-1923, menewaskan lebih dari 1,5 juta orang, terbesar 500 ribu di Rusia 1900-1925, 200 ribu termasuk PM pertama Mabini di Filipina 1902-1904, di India 800 ribu, melanda 27 kali musim haji di Mekah abad ke-19 hingga 1930, 11 tewas di AS 1910-1911.

Setengah abad berhenti, pandemi kolera ketujuh 1961-1975, ternyata bermula dari Indonesia, disebut El Tor, ke Bangladesh 1963, India 1964, Uni Sovyet 1966, Istanbul dan Yerusalem 1970, Italia 1973. Kasus kekinian, di Amerika Selatan 1991-1994 dan Yaman 2016-2020.

Serta, menyusul wabah pes yang juga pernah melanda Jawa pada 1910 dan bikin panik Belanda sampai berlakukan isolasi, vaksinasi massal bahkan bumi hangus desa. Demikian tulis Historia.

Ada pula, nun jarang terdengar, wabah epidemi “ensefalitis lethargica”, antara 1915-1926, menyerang jaringan otak manusia, membunuh 5 juta jiwa sedunia. Diistilahkan penyakit tidur/penyakit mengantuk, merujuk fisik penyintasnya walau kondisi sadar namun tak bisa bergerak dan berkata apapun pasif mematung bak zombie. Demikian direkam-digitalkan Wikipedia.

Hingga, wabah pandemi Flu Spanyol kurun Februari 1918 hingga April 1920, terjadi dua gelombang –gelombang kedua jauh lebih mematikan, data lain bahkan empat gelombang, sejumlah data menyebut dari total 500 juta jiwa yang terinfeksi, korban tewas antara 17-100 juta jiwa, termasuk 4,37 juta dari total 60 juta jiwa populasi Jawa-Madura masa itu berdasar riset Prof Siddharth Candra dari Michigan University, Amrik. Dicuplik dari Detik.

Satu ilustrasi, kasus positif pertama yang terdaftar menimpa Albert Gitchell koki Angkatan Darat Amrik, di kamp Funston, Kansas. Dia terserang demam 104 derajat Celsius, seisi instalasi berdiam 54 ribu tentara tercekat virus, tercatat harus dirawat ada 1.100, 38 tewas akibat didera pneumonia serius.

Bonus satu ilustrasi, beberapa literatur menyebut mengingat masih dalam kecamuk hebat Perang Dunia pertama, hingga ada semacam penenggelaman warta (baca: sensor) seputar wabah, ulah gagah berani jurnalis di Spanyol –yang minim sensor karena negara ini netral saat itu, lantas nama negara letak Barcelona berada ini bak ‘ketiban pulung’ diabadikan nama itu wabah musim semi. Jadilah, Flu Spanyol. Ulala..

Berikut, Flu Asia, pandemi influenza A H2N2, rekombinan flu burung dan flu manusia, mewabah kurun 1957-1958, ditemukan pertama di Singapura Februari 1957, Hong Kong dua bulan berikutnya, rembet saat musim panas 1957 ke kota pesisir Negeri Paman Sam, menewaskan 1 juta jiwa di dunia.

Tahun depannya, pernah dengar, cacar monyet? Virus asal kera lalu menulari manusia, dijumpai pertama di Afrika Barat dan Tengah pada 1958, bernama lain “monkeypox” dilaporkan melanda Kongo dengan seribu kasus hingga 2015, ditemukan pula kasus di AS pada 2003, Inggris, dan Israel, serta Singapura 2019. Ini menukil Kompas.

Lanjut, wabah sirkular antigenik, wabah gegara influenza A H3N2, pandemi influenza 1968, atau Flu Hong Kong, ditemukan pertama 13 Juli 1968 di surga industri film Mandarin itu 15 persen populasinya –sekitar 500 ribu jiwa terinfeksi, hingga berakhir 1969 menewaskan satu juta jiwa sedunia, mendaratkan kisah jasa The Times, koran yang perdana memencet alarm pandemi.

Dari Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat Tiongkok Hong Kong, zona otonom tenggara Tiongkok di estuari Sungai Mutiara dan Laut Tiongkok Selatan, eks koloni Inggris 26 Januari 1841 diserahkan ke RRC 1 Juli 1997, meski mayoritas 94 persen dari 7 juta lebih populasi beretnis Tionghoa siapa sangka ada 2,2 persen lainnya warga RI bahkan Bahasa Indonesia jadi salah satu bahasa daerah disana, wow!, kita ke Kongo, Afrika.

Disana, dari sungai yang namanya lalu dijadikan nama virus pertama ditemui 1976 dan mewabah di dua tempat sekaligus, selang 37 tahun kemudian dilaporkan di belahan Afrika Barat kembali mewabah terluas dalam sejarah sejak 26 Desember 2013 kala pertama ditemukan di area Guinea, merambat terbesar ke Liberia, juga Sierra Leone, negara berpenyintas tertinggi (2.655 jiwa tewas dari 9.203 kasus terinfeksi), menewaskan 11 ribu orang dari total 26 ribu lebih kasus termasuk 365 dari 649 tenaga medis terjangkit seperti dilaporkan Kompas, sampai kemudian dideklarasikan benar-benar usai 9 Juni 2016. Tetapi dilaporkan pula temuan di DRC Timur 2018-2019. Ialah virus Ebola.

Ada pula wabah virus Flu Burung H5N1 penyerang pernapasan burung lalu menulari manusia dengan fatalitas 50 persen, ditemukenali pertama pada angsa di Cina 1996, dicatat WHO menewaskan 455 orang dari total konfirmasi 861 kasus manusia di dunia kurun 2003-2019, termasuk tujuh dari 8 orang asal satu keluarga WNI yang tertular 2006.

Lainnya, Sindrom Pernapasan Akut Berat (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS), infeksi saluran pernapasan menular dan fatal risiko, disebabkan oleh SARS-associated coronavirus (SARS-CoV) gejala mirip influenza, ditemukenali pertama kali di Shunde, Foshan, Guangdong, Tiongkok pada 16 November 2002 dan diidentifikasi Februari 2003.

Baca Juga:  LVRI-Pejuang Bravo Lima Berduka, Selamat Jalan Mayjen Purn Zainal Abidin

Dirangkum dari Kompas dan WHO, dari November 2002 hingga 2003 terdapat 8.098 kasus dunia 774 kematian, catat Wikipedia virus ini usai 19 Mei 2004.

Dari Tiongkok kita terbang ke negeri asal perempuan pelukis realis yang lahir tiga tahun sebelum pecah revolusi 1910, berkaki kanan lebih kecil gegara polio, melukis perdana 1926 setahun usai alami kecelakaan bus oto, didapuk gelar profesor lukisan di La Esmeralda 1943, diabadikan jadi nama museum hikayat karyanya usai wafat 1954 atau setahun lepas pameran tunggal seumur hidupnya, ya, maestro lukis Frida Kahlo, Meksiko. Namun apes, meski pecah di Meksiko tetapi wabah ini lagi-lagi berbau-bau Spanyol.

“Flu Spanyol reborn”, jika boleh diberi istilah, yakni Flu Babi, mula kurun April hingga dinyatakan WHO jadi pandemi global Juni 2009, wabah yang juga asal dari virus influenza A H1N1 seperti Flu Spanyol yang bermutasi, kasus pertama ditemukan di Veracruz, Meksiko, menewaskan 11,5 ribu jiwa di 200 negara terjangkit, dari 491.382 kasus terkonfirmasi hasil uji lab.

Dari Amerika Latin, belahan selatan benua Amrik tempat negara kawasan berebut supremasi kompetisi sepak bola regional Piala Libertadores, kita bertolak ke Timur Tengah, Middle East.

Berasal dari sana, pun wabah menular virus penginfeksi saluran pernapasan bawah disebabkan oleh virus corona –kelompok virus penyebab selesma, awal menginfeksi hewan (unta) lantas bertransmisi menulari manusia yang ditemukenali kasus pertamanya pada pasien di Jeddah, Saudi Arabia, 9 Juni 2012, berskala sporadis kecil besar di 27 negara terdeteksi 400 orang tewas dan 80 persen kasus manusia disebut berasal dari Saudi Arabia ini, dinamai Middle East Respiratory Syndrome (MERS). MERS-CoV kodenya.

Ada lagi, epidemi Virus Zika, flavivirus merebak pertama di Brazil April 2015, menyebar ke Amrik selatan lainnya, Amerika Tengah, dan Karibia, melalui vektor nyamuk tropis-subtropis Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus atau “nyamuk Harimau Asia”, dua spesies penyebab demam berdarah dengue dan chikungunya, rerata tanpa maupun ringan gejala dan menyulitkan para negara kalkulasikan jumlah korban, dinyatakan tuntas November 2016.

Disarikan Alodokter, Virus Zika mula ditemukan pada seekor kera di hutan Zika, Uganda, 1947, kasus pertama manusia disua di Uganda dan Tanzania tahun 1952, ditemukan 5 kasus infeksi kurun 1981 hingga 2016 di Indonesia.

Terkait COVID-19 atau SARS-CoV2 kurun 2019-kini, merujuk kata ahli mikrobiologi Technoe Institute, alumnus Bioteknologi UGM, Nur Hidayah, virus secara alami maupun rekombinan ada di muka bumi. Dari itu, meski dalam suatu daerah atau negara sudah tak ada laporan infeksi atau nol kasus positif, virus tersebut tak hilang dan tetap ada.

“Yang menyebabkan nol kasus tersebut bukan karena ketiadaan virus, tapi kesehatan manusia atau imunitas manusia yang semakin baik dan kuat terhadap serangan penyakit,” pendapat Nur Hidayah satu webinar, bersama jua Direktur Techno Institute, Ardy Maulidy Navastara, disitat dari Republika.

Namun demikian, dari panjang lebar di atas, sekaligus pengingat bahwa wabah tetaplah wabah. Baik sebab bakteri, kuman atau virus.

Sejak Cina abad ke-10, menemukan “variolation”, bentuk pertama vaksinasi dengan memaparkan orang sehat ke jaringan koreng karena penyakit agar kebal, disusul publikasi dokter Inggris Edward Jenner pada 1798 usai sukses uji coba suntikkan nanah dari cacar sapi ke tubuh James Phipps (8 tahun) saat si bocah mulai perlihatkan gejala dua tahun sebelumnya, setelah sehat kembali disuntik dan tetap sehat –cacar sapi buatnya kebal.

Uji coba dokter tak afkir, dari Jenner tercipta lahir istilah vaksin (asal kata Latin “vacca” berarti sapi). Hingga tiba abad kini, data WHO, 2-3 juta orang per tahun terselamatkan berkat imunisasi.

Kini hingga hari H vaksinasi kelak tiba, usai sukses Indonesia gelar imunisasi pertama –imunisasi cacar pada 1956, disusul efektif agenda imunisasi pencegah penyakit menular lainnya.

Ya Allah Yang Maha Perkasa. Ridailah terapi spiritual kami, selama nyawa ini belum Engkau cabut hayat di kandung badan, terus senantiasa memohon perlindungan keselamatan kesehatan lahir batin kepadaMu, sabar tawakal hanya kepadaMu, terus senantiasa berbaik sangka ini takdirMu.

Ya Allah Yang Maha Mendengar. Dengarkanlah pinta kami. Terimalah mereka korban wafat wabah ini di sisi terbaikMu. Segera musnahkan wabah COVID-19 dari muka bumi. Hanya kepadaMu kami menyembah, hanya kepadaMu kami meminta pertolongan. Aamiin. [SUL/Muzzamil]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top