Modus

Anak Tega Habisi Nyawa Orang Tua Gara-gara Sertifikat Tanah

Kediaman rumah korban Ahmad Kasiam, di Pekon Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu/DN

PRINGSEWU – Seorang ayah kandung di Pekon Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, tewas dibunuh oleh anaknya sendiri.

Korban Ahmad Kasiam (72) meregang nyawa usai terkena sabetan sebilah parang berupa sabit (arit) pada Rabu (23/10) kemarin.

Sabetan sabit yang dilakukan oleh Dwi (31) anak kandung korban, mengenai luka menganga dibawah ketiak dan tangan kiri Ahmad Kasiam.

Bermula, Dwi, pria yang baru dua bulan menikah ini, berencana meminjam sertifikat tanah ke Ahmad Kasiam sebagai syarat jaminan pinjaman uang di Bank.

Alasannya, uang pinjaman itu, rencananya untuk dipergunakan membeli motor roda dua. Namun, Pak Kemad (Sapaan akrab korban) tidak mengizinkan, apabila sertifikat tanah tersebut diperuntukkan sebagai jaminan ke bank.

Dugaan sementara, kasus pembunuhan ini berawal korban tidak mau menandatangani pinjaman di salah satu bank yang diajukan pelaku tanpan sepengetahuan orangtuanya.

Menurut keterangan dari Rasman, paman dari keluarga korban di Pekon Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran, sekitar lebih kurang pukul 15.00 WIB, petugas bank datang untuk mengkonfirmasi kebenaran sertifikat kepemilikan tanah.

“Ahmad Kasiam (korban) tidak menghendaki sertifikat tanah miliknya dijadikan jaminan di bank oleh pelaku, dan petugas bank tadi berpamitan pulang, karena, Korban tidak mau menandatangani pinjaman,” kata Rasman menceritakan.

Baca Juga:  Sidang Pembunuhan Politisi PAN, Dokter Pastikan Riki Nelson Tewas Dianiaya

“Mau bayar pake apa, pinjam uang ke bank,” ucap Rasman, seraya menirukan logat korban.

Mendengar orang tuanya seperti itu, pelaku (Dwi) tersulut emosinya saat mendengar informasi orang tuanya enggan menandatangi pinjaman yang diajukannya ke bank dan pelaku langsung menemui korban di dapur rumahnya.

Sebelum kejadian pembunuhan sekitar Pukul 17.30 WIB, menjelang azan salat maghrib, pelaku dengan sengaja mengasah sabit.

Dan adu mulutpun berlangsung, terdengar suara korban Ahmad Kasiam selalu menjawab dengan datar.

“Sudah sertifikat tanah itu bawa aja ke ayu (Kaka perempuan) kamu, sudah bawa aja sana”,kata Ahmad Kasiam yang terdengar oleh Rasman.

Kejadian jelasnya ia kurang tahu, jam persisnya pembacokan tersebut.

“kira-kira kejadiannya sekitar jam enam sore lebih, karena saya tidak lihat jam, dan langsung bawa korban ke RSUD Pringsewu,” jelasnya.

Rasman pun menceritakan lebih lanjut, karena, sudah terbawa emosi, Dwi pun mengalungkan sabit ke leher orang tua lelakinya tersebut.

Rupanya emosi pelaku semakin menjadi-jadi, tanpa rasa kasihan terhadap ayah kandungnya, pelaku menyabetkan sabit di bawah ketiak korban.

Baca Juga:  Dua Pejabat Pesawaran Ditetapkan Polda Lampung Sebagai Tersangka

“Ngerasain itu enak apa tidak? Tanya pelaku ke ayahnya”

Korban pun hanya tertawa biasa dan pelaku dengan kejam mengayunkan sabetan sabit ditangan kiri korban yang akhirnya tersungkur dilantai dapur rumahnya.

Usai membunuh ayah kandungnya sendiri, pelaku diamankan oleh warga disekitar rumahnya.

Dan korban dilarikan ke RSUD Pringsewu, namun saat dalam perjalanan menuju rumah sakit korban meninggal dunia.

Atas peristiwa itu, Kapolsek Pagelaran, Polres Tanggamus, AKP Syafri Lubis, langsung memimpin penangkapan terhadap Dwi saat berada di rumahnya.

Usai menangkap tersangka, Kapolsek juga bergerak menuju rumah sakit guna mengetahui kondisi korban, bahkan setelah dinyatakan meninggal AKP Syafri Lubis mengawal langsung sebagai rasa berduka.

Dari penangkapan tersangka, terungkap sejumlah fakta, muasal percekcokan hingga terjadinya penganiayaan/pembunuhan terhadap pria renta yang tidak lain merupakan orang tua dari pelaku yang seharusnya dijaga dengan baik tersebut.

“Berdasarkan keterangan tersangka, ia melakukan penganiayaan itu setelah ayahnya tidak meminjamkan sertifikat rumah, yang tujuannya akan digunakan untuk dijaminkan di bank,” ungkap AKP Syafri Lubis, dalam keterangannya mewakili Kapolres Tanggamus, Rabu (23/10).

Lanjutnya, sertifikat tersebut dijaminka untuk meminjam uang, karena pelaku akan membayar angsuran sepeda motor yang sudah menunggak satu bulan dan sisanya untuk modal usaha.

Baca Juga:  Warga Pekon Panutan Dihebohkan oleh Penemuan Bayi Dalam Kardus

“Tersangka berprofesi buruh bangunan dan baru dua bulan menikah, namun masih satu rumah dengan ayahnya. Niat tersangka meminjam uang di bank untuk modal usaha,” ujarnya.

“Berdasarkan keterangan medis, korban meninggal dunia dengan luka sobek dibagian lengan kiri bagian belakang dan punggung kiri sepanjang 25 cm dan lebar 5 cm. Ia diduga meninggal saat perjalanan ke rumah sakit,” jelasnya.

Kini anak bungsu dari dua bersaudara itu, telah menghuni sel tahanan Polsek Pagelaran guna prosesnya menuju meja hijau nantinya.

Terhadapnya, dipersangkakan kasus pembunuhan sebagaimana dimaksud pasal 340 KUHPidana Jo Pasal 338 KUHPidana.

“Ancaman maksimal dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup,” pungkasnya.(DN/AGS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top