Panggung

Ada Andil Pastur Keuskupan Tanjungkarang Dalam Berkat Damai Paus untuk Indonesia Jelang Pelantikan Presiden

Paus Fransiskus memaraf kertas sodoran AM Putut Prabantoro bertuliskan “Pace Per Il Popolo Indonesiano – La Mia Benedizione, Papa Francesco” (Damai Untuk Bangsa Indonesia – Berkatku, Paus Fransiskus) di lapangan depan Basilika St Petrus Vatikan, enklave Kepausan di Roma, Italia, Rabu (16/10/2019). | Istimewa

BANDAR LAMPUNG — Pekan ini, tepatnya Rabu (16/10/2019), terdapat peristiwa magis nan langka dalam audiensi umum pemimpin Gereja Katolik sekaligus kepala negara Kota Vatikan, Paus Fransiskus, di Lapangan St Petrus, depan Basilika St Petrus Vatikan, enklave Kepausan di Roma, Italia.

Secara khusus Paus ke-266 yang terpilih jadi Paus pada hari ke-2 Konklaf Kepausan, 13 Maret 2013 ini memberikan berkatnya bagi bangsa Indonesia dan berharap Indonesia hidup dalam damai, ditandai perkenan Paus menandatangani secarik kertas sodoran dua warga negara Indonesia, Rabu itu.

Adalah AM Putut Prabantoro, Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), bersama salah seorang wartawan, Asisten Redaktur Pelaksana (Asredpel) Investor Daily (BeritaSatu Group), L Gora Kunjana, yang berhasil mencuri perhatian Paus, dalam tradisi rutin Vatikan tiap Rabu itu.

Bertuliskan Pace Per Il Popolo Indonesiano – La Mia Benedizione, Papa Francesco (Damai Untuk Bangsa Indonesia – Berkatku, Paus Fransiskus), ide menyodorkannya telah ada sejak keberangkatan mereka dari Tanah Air.

Seperti kisah Putut dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (19/10/2019), meski kesempatan bertemu Paus dalam audiensi umum dihadiri ratusan ribu orang itu amat kecil kemungkinan, gagasan tetap dilakukan. Ia menulisnya pada kertas tebal.

Keterangan Putut menguak fakta lain. Siapa sangka, ada andil warga Lampung, Pastor Antonius Suherman Pr dari Keuskupan Tanjungkarang, Bandarlampung, dalam proses penuangan gagasan berbobot itu.

“Malam sebelumnya, draf berkat itu ditulis bersama Suster Matilda INSC, Suster Maria Matrona Ola INSC dan Pastor Suherman Pr dari Keuskupan Tanjung Karang. Ketiganya sedang studi di Roma, Italia. Suster Matrona Ola diminta menuliskan draf berkat yang sudah disepakati,” kata Putut.

Baca Juga:  Nasir: Lampung Strategis, Tepat Jadi Alternatif Lokasi Ibu Kota Negara RI

Sadar betul akan ada ratusan ribu orang hadirin audiensi umum, dimana tiap peziarah selalu berharap dapat menyentuh atau bisa bersalaman dengan Paus, Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) itu, dan rekannya, Gora Kunjana, kuat tekad.

Sejak Rabu Subuh, keduanya telah berada di luar Lapangan Santo Petrus, yang dibuka untuk publik sejak tahun 1667 itu, meski akses berkontrol baru dibuka pukul 8 pagi.

“Tak seorangpun bisa memperkirakan apakah harapan menyentuh atau bersalaman dengan Paus dapat terwujud. Biasanya yang dihampiri Paus saat berkeliling di tengah peziarah dengan mobil kehormatannya ialah anak-anak kecil. Bahkan ketidakpastian ini juga dialami peziarah yang mendapat tempat khusus sekitar podium,” kata Putut pula.

Kisah berlanjut. Berada pada urutan pertama, hadir lebih dini bikin Putut dan Gora punya kesempatan memilih tempat yang dianggap paling strategis untuk mendapat perhatian Paus 83 tahun kelahiran Flores, Buenos Aires, Argentina, 17 Desember 1936 itu.

Posisi kursi paling depan, berhadapan langsung dengan tribun Paus, jadi tempat terpilih mereka. Kendati sadar, bersalaman dengan Paus adalah persoalan mukjizat mengingat tak seorang pun bisa “menyetir” Paus kepada siapa harus disalami.

“Pengecualian (hanya) terjadi bagi mereka yang sudah direncanakan untuk disalami (Paus) dan berada di tempat yang khusus.”

Selain itu, meski berkesempatan memilih tempat yang dianggap paling strategis, keduanya tetap harus dituntut bersabar, menahan lapar, menunggu kehadiran Paus beberapa jam ke depan.

Mengaku tak berbekal apa-apa, mereka pun ambil risiko untuk bersama-sama dengan ratusan ribu peziarah mengharap terjadinya mukjizat dapat bersalaman dengan Paus.

Dasar wartawan, Gora Kunjana, punya ide unik berbasis kearifan lokal tradisi budaya Nusantara, demi menarik perhatian Paus. Apa itu? Ia mengaku mengenakan busana adat Jawa, yaitu dari Yogyakarta, juga Putut, sebagai salah satu bentuk upaya.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Promo Wisata Lampung di Italia, Targetkan 300 Ribu Wisatawan pada 2019 Tercapai

“Tadinya kami ingin membatalkan karena malam sebelumnya hujan deras mengguyur kota Roma. Namun karena sudah kepalang tanggung, kami tetap mengenakan busana adat Jawa. Jika nanti ada perubahan cuaca dan hujan datang, ya risiko harus ditanggung,” ujar dia.

Sambung Gora, “Saya kira mengenakan busana tradisional dalam audiensi bukan ide yang salah. Namun, tetap saja itu tidak menjamin bahwa Paus akan menengok ke kita. Semua serba tidak pasti, peziarah tetap bahagia sekalipun tidak bersalaman dengan Paus.”

“Tapi yang kami alami adalah suatu mukjizat, Paus menengok ke kami, Paus menghampiri dan kami bersalaman agak lama dan bahkan (Paus) menandatangani kertas yang dibawa Mas Putut Prabantoro,” urai Gora ilustratif, menjelaskan perjuangan luar biasa mereka Rabu bersejarah itu.

Seperti bunyi keterangan tertulisnya, sinyal kuat Paus bakal menghampiri mereka, telah spontan diutarakan Rosa, seorang peziarah asal Italia, yang duduk di samping Putut.

Saat seperti biasa, dengan mengendarai mobil kebesarannya, jalur pertama yang Paus lewati adalah di depan para peziarah yang duduk paling depan termasuk Putut dan Gora.

Kehadiran Paus di publik langsung disambut tepuk tangan dan teriakan “Papa Francesco.” Hal senada juga dilakukan Putut dan Gora. Dan, tetiba Paus menengok agak lama ke arah mereka, seakan memberi tanda.

“Paus mengenal kalian sepertinya. Itu tangannya menunjukkan sesuatu dan matanya terus kepada kalian,” kata Rosa, peziarah Italia tadi.

Paus pemilik nama lengkap Jorge Mario Bergoglio itu terus berkeliling dan teriakan “Papa Francesco” dari ratusan ribu peziarah tidak surut. Yang di duduk baris terdepan tak tahu apa yang sedang terjadi di belakang.

Alhasil, lanjut Gora, “Ketika kendaraan kebesaran berhenti di depan tribun setelah berkeliling, tiba-tiba Paus turun, dan menghampiri kami. Tepat seperti dikatakan Ibu Rosa dari Italia. Sungguh kami merasa jadi perhatian Paus.”

Tanpa menyia-nyiakan waktu, masih lanjut ia, Putut kontan mengeluarkan kertas yang harus ditandatangani Paus. “Dan saya memberikan hadiah batik,” Gora berujar, mengkonfirmasi pemberian baju batik titipan Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI), juga Wasekjen DPP Partai Nasdem, Hermawi Taslim itu.

Baca Juga:  Kampanyekan Sanitasi Melalui Media Seni

Apa reaksi Paus? “Ketika Paus disodori kertas, beliau membaca sesaat dan menandatanganinya dengan spidol hijau yang telah kami siapkan. Dan… Paus memberkati bangsa Indonesia dan berharap bangsa Indonesia damai,” pungkas Gora.

Lantas, apa reaksi balik Gora juga Putut? Mereka mengaku berteriak bahagia setelah Paus yang sejak 1998 hingga terpilih 2013 itu merupakan Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, menandatangani Berkat Damai untuk Bangsa Indonesia, empat hari menjelang pelantikan Presiden RI.

Bagi Putut Prabantoro, pria berdarah Jawa kelahiran Palembang, yang selain sehari-hari berprofesi sebagai konsultan komunikasi publik, aktif pula dalam gerakan toleransi dan pluralisme, momen eksklusif 16 Oktober lalu jadi perjumpaan keduanya dengan Paus Fransiskus menyusul pertemuan pertama alumnus Lemhannas RI-PPSA XXI ini, pada 28 Oktober 2015.

Publik masih ingat, keberhasilan Putut dan Hermawi Taslim saat itu bisa mengajak Paus berswafoto bersama di tempat yang sama, menggunakan alat inovasi putra Indonesia, yakni monopod atau tongkat narsis (tongsis) diantara ratusan ribu orang, viral seketika.

Kehadiran mereka yang berbuah momen langka, usai ia dalam kapasitas selaku Ketua Gerakan Ekayastra Unmada, dan Hermawi selaku Ketum Forkoma PMKRI, memenuhi undangan panitia Konferensi Internasional Peringatan 50 Tahun Ensiklik Nostra Aetate tentang Toleransi, Pluralisme, dan Membangun Kesepahaman Antaragama.

Saat itu, acara yang bertempat di Universitas Gregoriana, Roma itu dihadiri oleh pemuka agama, serta para aktivis gerakan toleransi dan pluralisme dari berbagai negara.(LS/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top