Bandar Lampung

YLBHI-LBH Bandar Lampung Kecam Statement Nanang Trenggono

Cik Ali. S.H, Kadiv Sipol YLBHI-LBH Bandar Lampung/Istimewa

BANDAR LAMPUNG – YLBHI-LBH Bandar Lampung menyayangkan statement juru bicara rektor Universitas Lampung, Nanang Trenggono, yang meminta setiap Akademisi Unila tidak kebablasan dalam memberikan pendapat.

Bahwa hal itu artinya ada batasan halus dan ini  tidak sepatutnya ini diungkapkan, karena dalam berpendapat menyampaikan pandangan secara bidang akademis.

Terhadap peristiwa tersebut, maka kami menyatakan sikap tegas dan mengecam dan melawan segala bentuk pembungkaman penyampaian pendapat di muka umum yang di jamin oleh konstitusi di negara Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menganut demokrasi. Dalam negara demokrasi, hak asasi warga negara haruslah dijunjung tinggi.

Salah satunya adalah hak untuk menyampaikan pendapat. Dengan adanya kebebasan berpendapat menunjukkan akan adanya usaha dalam membentuk kehidupan lebih dinamis sesuai dengan perkembangan zaman.

Melalui kebebasan berpendapat, sistem dalam kehidupan mampu menjadi lebih baik. Tentunya dengan kebebasan berpendapat dengan cara yang baik dan benar.

Baca Juga:  SaksiKu, Cara Golkar Kawal Pemilu

Hal ini dengan jelas dan gamblang ternyatakan dalam beberapa rumusan peraturan perundang-undangan seperti: Pasal 28E UUD 1945, mengamanatkan bahwa: Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Di samping itu jaminan kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum juga menjadi hak setiap orang dan diakui keberadaannya.

Hal tersebut sebagaimana dijamin oleh Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menjamin bahwa: Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan, dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan, dan/atau tertulis melalui media cetak maupun elektronik  dengan memperhatikan nilai-nilai agama, keksusilaan, ketertiban, dan kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.

Di samping itu, yang perlu kita perhatikan bersama adalah Kampus memang tempat bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya. Kampus dijadikan wadah bagi mahasiswa dan para akademisi dalam mengembangkan diri dan potensi.

Baca Juga:  Aksi Kawal Pilrek Unila, Jangan Beli Rektor dalam Karung

Tak heran jika kemampuan mahasiswa dan akademisi dalam mengeluarkan ide dan gagasan meningkat. Sehingga kebebasan mimbar akademik adalah ruh dari keberadaan perguruan tinggi itu sendiri.

Hal tersebut pun sebenarnya sejalan dengan ketentuan yang mengatur penyelenngaraan tertib pendidikan di lingkungan Universitas Lampung, dimana dalam Permenristekdikti No.6 Tahun 2015 tentang Statuta Unila, seperti yang dirumuskan pada Pasal 31 poin 1 dan 3, telah diatur bahwa: Rektor menjamin agar setiap anggota sivitas akademika dapat melaksanakan kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi   keilmuan dalam rangka  pelaksanaan tugas dan fungsinya secara bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan dan dilandasi oleh etika dan norma/kaidah keilmuan.

Kebebasan akademik wewenang profesor atau dosen yang memiliki otoritas dan wibawa ilmu untuk menyatakan pendapat secara terbuka. Pasal 31 poin 3, Kebebasan   mimbar   akademik   merupakan   wewenang   professor dan/atau dosen  yang  memiliki  otoritas  dan  wibawa  ilmiah  untuk menyatakan secara terbuka dan bertanggung jawab mengenai sesuatu yang berkenaan dengan rumpun ilmu dan cabang ilmunya

Baca Juga:  ASN Lampung Wajib Gunakan Pakaian Dinas Batik Setiap Tanggal 2 Oktober

Dengan demikian kami sebagai lembaga yang fokus terhadap isu-isu hak asasi manusia sangat memprihatinkan pernyataan juru bicara Universitas Lampung yang mengeyampingkan hak-hak seseorang sebagai warga negara terlebih membatasi ruang gerak akademisi yang dalam pengabdiannya untuk masyarakat Lampung.(LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top