Peristiwa

Warga ; Terima Kasih Flyover MBK, Sudah Menambah Kemacetan di Bandarlampung

Suasana kemacetan di flyover/Ist

BANDARLAMPUNG – Baru diresmikan pada awal tahun 2018 ini, flyover (jalan layang) Teuku Umar-ZA Pagar Alam atau biasa disebut dengan flyover MBK (Mall Boemi Kedaton), terus mendapatkan kritik dari banyak kalangan masyarakat di Lampung.

Salah satunya, Zainuddin Helmi, warga Gunung Terang, Langkapura, Bandarlampung. Dirinya menyebut, pembangunan flyover MBK dengan dalih untuk mengurai kemacetan yang digembar-gemborkan oleh pemerintah kota hingga media, justru berbanding terbalik dengan fakta dilapangan yang terjadi hari ini.

“Alhamdulillah, tadi siang dari arah Rajabasa menuju stasiun kereta hampir memakan waktu 40 menit. Sekarang macetnya kendaraan ada di atas dan di bawah flyover. Indah bukan,” sindir Zainuddin, via WhatsApp, Sabtu (6/1).

Baca Juga:  BPN Prabowo-Sandi Temukan Jutaan DPT Ganda, KPU Klaim Provinsi Lampung Steril

Masih katanya, kemacetan tidak berhenti hingga di flyover saja, butuh waktu sekira 30 menit untuk memutar dibawah jembatan layang tersebut.

“Padahal saya cuma ingin memutar, dari rel kereta api (jalan Sultan Agung) ke bawah flyover persis, jarak tempuhnya sangat luar biasa hebat, apalagi kalau malam bada Isya, silahkan coba sendiri,” kesalnya lagi.

Sementara itu, Muhammad Husni, warga Korpri Jaya, Sukarame, menilai, meski ada 1.000 jalan layang dibangun di Bandarlampung, Husni yakin, kota ini tetap saja macet.

“Karakteristik jalan layang malah mengumpulkan kemacetan, bukan menghapus,” katanya saat dihubungi.

Selain itu, fungsi jalan layang dalam mengalihkan kemacetan hanya bersifat jangka pendek. Dalam tiga tahun, kendaraan akan tetap menumpuk di jalan tersebut. “Ini bukanlah suatu solusi dan yang jelas tidak sebanding kemacetan saat pembuatan dan efektivitas jalan layang tersebut,” katanya.

Baca Juga:  Megawati Terkesan Tak Yakin Terhadap Paslon Cagub Herman HN dan Sutono

Seharusnya, Pemerintah Kota Bandarlampung, mengambil langkah yang lebih sederhana dan murah. Misalnya, mengatur parkir yang masih marak dilakukan di badan-badan jalan (on-street), pelebaran jalan, hingga pembatasan kendaraan.

“Jangan bangun macam-macam, selesaikan dari bawah dahulu. Dampak kemacetan akan muncul kembali bahkan bertambah di titik masuk dan keluar jalan layang. Biar waktu yang menjawab,” tandasnya.(AR)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top