Iklan
Modus

Upaya Pembunuhan Direktur WALHI NTB, Negara Gagal Lindungi Pejuang Lingkungan Hidup

Pembakaran rumah Murdani, Direktur WALHI NTB pada 28 Januari 2019, sekitar pada Pukul 03.00 WITA/Istimewa

BANDAR LAMPUNG -Pembakaran rumah Murdani, Direktur WALHI NTB pada 28 Januari 2019, sekitar pada Pukul 03.00 WITA merupakan bentuk nyata kegagalan negara memberikan jaminan dan perlindungan kepada Pejuang Lingkungan Hidup.

Peristiwa ini patut diduga terencana dan ditujukan untuk membunuh Murdani dan keluarganya.

Hal ini dapat diketahui dari hasil investigasi dan temuan Tim WALHI yang mencatat bahwa ada empat titik pembakaran, yang dua diantaranya merupakan di akses penting untuk keluar masuk rumah, yaitu di pintu utama dan pintu dapur.

Temuan di dua titik ini memperkuat dugaan WALHI, agar Murdani dan keluarganya tidak dapat keluar dari rumah. Sedangkan dua kobaran api lainnya didapatkan ditemukan di depan mobil Avanza dan titik ke-empat ada di bagian depan mobil dum truk di halaman rumahnya.

Dum truk yang berjarak sekitar 7 meter dari mobil avanza. Selain itu, kejadian ini diduga juga dilakukan secara terencana dan oleh orang yang terlatih, karena ditemukan topi yang menutup CCTV yang dipasang yang berada di bagian luar pintu dapur.

Kejadian pembakaran rumah yang bertujuan menghilangkan nyawa Murdani dan keluarganya patut diduga berelasi dengan perlawanan dan kritik WALHI NTB terhadap aktivitas indutri pertambangan pasir dan pembangunan yang abai terhadap kondisi lingkungan hidup di Provinsi tersebut.

Baca Juga:  3 Kurir Narkoba Diamankan Polres Metro saat Transaksi

Dugaan ini semakin kuat, karena sejak 2016, Murdani telah beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan. Sebelumnya sudah ada beberapa ancaman kepada Murdani yang sudah berlangsung sejak 2016, bahkan ancaman tersebut memuat pesan ia akan dihabisi. Terhadap ancaman tersebut, sebenarnya Murdani sudah melaporkannya secara resmi kepada Polda NTB.

Namun tidak ada tindakan dan penanganan yang serius oleh Polda NTB, tegas dan jelas. Dengan kondisi demikian, sudah seharusnya Polda NTB memberikan perhatian dan perlindungan khusus kepada Murdani pasca ancaman yang dialami keluarganya dan WALHI NTB.

Kejadian pembakaran rumah dan upaya pembunuhan yang dialami Murdani sebenarnya bukan merupakan kejadian pertama yang dialami oleh Pejuang Lingkungan Hidup, berbagai tindak kekerasan, intimidasi, ancaman bahkan kehilangan nyawa sekalipun sudah menjadi cerita panjang dalam perjuangan menolak aktivitas industri ekstraktif.

Perampasan tanah rakyat dan pembelaan terhadap isu kemanusiaan lainnya. Berbagai catatan ini, sayangnya tidak pernah mendapat respon negara secara serius, seperti sasus Salim Kancil yang hanya dituntaskan pada pelaku dan perencana lapangan.

Namun tidak menyasar pada penikmat-penikmat kekayaan dari aktivitas pengrusakan alam yang sekalipun dilakukan secara illegal.

Baca Juga:  Walhi Lampung Laporkan Thomas Aziz Riska ke Polda Lampung

20 tahun usia Deklarasi Pembela HAM dan menjelang 10 tahun usia, Pasal 66 UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) dan ditambah UN Environment Defender Policy tidak membuat negara merubah haluan kebijakannya menjadi pelayan investasi dan membiarkan rakyat tidak aman tanpa perlindungan dan kebijakan yang jelas mengenai operasionalisasi pelaksanaan ketentuan perlindungan yang diamanatkan UU PPLH.

WALHI-Ammesty Internasional-YLBHI-HRW-KIARA-ICEL-YLBHI-YPII-HuMA Lampungm bersama dengan 14 Organisasi Anggota WALHI Lampung (LBH Bandar Lampung, PBHI Lampung, KBH Lampung, MitraBentala, WANCALA, KawanTani, PKBI Lampung, ELSAPA, YASADHANA, SP Sebay Lampung, Matala Lampung, PoltapalaPolinela, MapalaArdenaswari, Masapala AKL) secara tegas menuntut negara dalam hal ini presiden untuk menjadikan pembakaran yang diduga sebagai upaya  terencana untuk menghilangkan nyawa Murdani dan keluarganya.

Sebagai tindak peristiwa ini, sebagai kekerasan terakhir yang terjadi kepada Pejuang Lingkungan Hidup dan Pembela HAM lainnya.

Merujuk pada informasi dan temuan yang telah dikumpulkan di atas, maka WALHI bersama Ammesty Internasional, HRW, KIARA, ICEL, YLBHI, YPII, bersepakat mengecam perbuatan kejadian peristiwa pembakaran rumah sekaligus upaya pembunuhan rumah Murdani.

Terhadap Murdani, Direktur WALHI NTB, selanjutnya, kami dan sekaligus secara tegas menyatakan tuntutan yaitu ;

  1. Meminta kepada Kepolisian Republik Indonesia khususnya Kapolda NTB untuk segera mengusut, menangkap dan mengungkap motif kejadian pembakaran yang patut diduga direncanakan untuk membunuh Murdani dan keluarganya.
  2. Meminta Kepolisian Republik Indonesia dan pihak terkait untuk segera melakukan tindakan perlindungan dan pemulihan atas kerugian materil dan psiskis yang dialami Murdani, keluarganya serta WALHI NTB dari berbagai upaya tindak kekerasan.
  3. Mendesak Presiden untuk segera melakukan tindakan progresif secara menerbitkan kebijakan dan implementasi peraturandan kebijakan khusus yang memberikan jamian dan perlindungan dalam melindungi warga negara yang melakukan perjuangan untuk keselamatan lingkungan hidup kepada Pejuang Lingkungan Hidup dan Pembela HAM lainnya.
  4. Meminta kepada Presiden untuk mengehentikan keseluruhan proses penerbitan izin sekaligus serta meninjau ulang seluruh izin-izin industri ekstraktif skala besar yang ditolak oleh warga dan berpotensi mengakibatkan ancaman kepada kondisi mengancam keselamatan rakyat dan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup.(LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top