Iklan
Ekonomi

Universitas Muhammadiyah Purworejo, Kembangkan Budidaya Emas Hijau Dengan Brikoka

Universitas Muhammadiyah Purworejo, kembangkan budidaya emas hijau dengan Brikoka/MAS

PURWOREJO – Desa Jelok, yang terletak di Kecamatan Kaligesing, merupakan desa paling rawan longsor di Kabupaten Purworejo.

Longsor parah dan pergerakan tanah secara masif pada akhir 2016 dan pertengahan 2017 mengakibatkan kerugian jiwa dan materi. Struktur lereng yang runtuh akibat longsor juga memporak-porandakan budidaya tanaman Vanili Desa Jelok.

Sementara tanaman Vanili yang masih tersisa rawan dicuri saat musim panen. Lokasi penanaman Vanili yang jauh dari pemukiman dan harga buah Vanili basah sehabis petik yang fantastis, mencapai Rp550 ribu rupiah/kg, menjadi faktor penyebab pencurian Vanili terjadi.

Alhasil budidaya Vanili yang seharusnya sangat menjanjikan menjadi lesu dan mulai ditinggalkan.

Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Universitas Muhammadiyah Purworejo – Kemenristekdikti 2019. Dengan Tema: Brikoka (Briket Kotoran Kambing) Fermentasi Sebagai Isi Pipa Panjat Budidaya Vanili (Vanilla Planifolla) Dalam Planter Bag, menjadi sebuah terobosan baru bagi masyarakat untuk lebih mudah membudidayakan tanaman vanili.

Seperti yang dijelaskan ketua tim PKM Jeki M.W.Wibawanti, S.Pt., M.Eng.,M.Si., program pengabdian ini menjadi solusi permasalahan budidaya Vanili di Desa Jelok.

Baca Juga:  Dalang Perempuan asal Purworejo Bakal Pentaskan "Gathutkaca Winisuda" di Hadapan Presiden Jokowi

Teknik penanaman Vanili dalam planter bag memungkinkan budidaya Vanili dapat dilakukan di sekitar rumah, sehingga mempermudah perawatan, pengawinan, pengawasan, pemanenan dan mengurangi pencurian Vanili, juga tidak terpengaruh oleh longsor tebing maupun pergerakan tanah.

Teknik penanaman tersebut memerlukan pipa panjat sebagai media rambat akar Vanili. Biasanya petani Desa Jelok merambatkan Vanili pada tanaman kayu jenis Albasiah, Sengon, Klorosede atau Kelor.

Teknik tradisional ini menjadikan pertumbuhan Vanili tidak terkendali dan menyulitkan saat pengawinan bunga Vanili karena posisi bunga yang terlalu tinggi. Penggunaan pipa panjat dapat mengontrol ketinggian pertumbuhan Vanili sehingga proses pengawinan bunga dan pemanenan jauh lebih mudah.

“Dengan melihat Kaligesing yang terkenal sebagai sentra kambing di Jawa tengah. Saya dan tim ingin memanfaatkan kotoran kambing secara optimal tidak hanya dijadikan pupuk tanpa pengolahan terlebih dahulu,” ungkap Jeki, Jumat (23/8).

Dengan sumber bahan baku Brikoka yang sangatlah melimpah tersebut di desa-desa Kecamatan Kaligesing sebagai sentra kambing Peranakan Ettawa (PE) Jawa Tengah.

Dijelaskan bahwa, Brikoka Fermentasi, adalah pemadatan kotoran kambing yang telah difermentasi menjadi pupuk organik berbentuk briket keras.

Baca Juga:  Lebaran, PLN Pastikan Listrik Aman

Secara sederhana Brikoka dapat dideskripsikan seperti arang, namun mengandung nutrisi lengkap baik makro maupun mikronutrien.

Pembuatan Brikoka Fermentasi cukup mudah, meliputi, fermentasi kotoran kambing, penepungan, pengadonan dengan tepung kanji, pencetakan, pengepresan dan pengeringan.

Pipa panjat yang diisi dengan Brikoka Fermentasi akan memaksimalkan pertumbuhan Vanili karena akar rambat mendapat pasokan nutrisi yang cukup, disamping penyerapan nutrisi oleh akar utama yang menjalar dalam media tanam.

Selama ini, budidaya Vanili di Desa Jelok dihantui penyakit busuk batang. Penyakit ini menyebabkan batang bawah Vanili putus sehingga suplai nutrisi dari akar utama terhenti.

Selanjutnya pertumbuhan Vanili hanya ditopang oleh akar rambat yang menyerap nutrisi dari tanaman inang.

Ada dua kemungkinan apabila batang bawah Vanili sudah putus akibat penyakit busuk batang, pertama Vanili akan layu kemudian mati. Kedua Vanili akan tetap hidup tapi tidak berbuah dan mengancam kehidupan tanaman inang.

Kebanyakan petani akan memotong-motong batang Vanili kemudian menyeteknya menjadi bibit Vanili baru dan membebaskan tanaman inang dari Vanili yang masih merambat.

Jeki berharap, adanya pipa panjat yang diisi Brikoka Fermentasi mampu menjaga Vanili tetap berbuah, meskipun batang bawah terputus karena terserang penyakit busuk batang.

Baca Juga:  Kurun Waktu 3 Tahun Jatah Pupuk Subsidi Lampung Tertinggi

Kegiatan ini adalah sebagai wujud pemanfaatan limbah peternakan yang berupa kotoran kambing dimana kotoran tersebut dilakukan proses fermentasi sehingga menjadi Briket kotoran kambing serta sebagai pilot project budidaya Vanili dalam planter bag di Desa Jelok.

Program ini juga menginisiasi Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades) berupa Brikoka Fermentasi dalam kemasan yang akan bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Jelok.

Adapun tim program Kemenristek Dikti ini dengan Ketua Jeki M.W.Wibawanti, S.Pt., M.Eng.,M.Si anggota Lukman Fadhiliya, M.Pd dengan Bumdes dan Yayasan Pelatihan Desa Jambe Mule, Atas Jago (Asosiasi Penjaga Sungai Bogowonto).(MAS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top