Politik

Undangan Untuk Direktur Rakata Institute

Direktur Rakata Institut, Eko Kuswanto/Ist

BANDAR LAMPUNG – Kamis (12/4) malam lalu, menjadi sebuah catatan penting bagi kalangan pers di Provinsi Lampung. Sebagai orang yang hampir separuh umurnya menggeluti media massa, dibuat terkaget-kaget.

Sebuah lembaga riset, Rakata Institute mengeluarkan kesimpulannya terhadap media massa yang layak dijadikan mitra di Bumi Sai Bumi Ruwa Jurai. Hanya ada tujuh media.

Artinya apa? Selebihnya tak layak dijadikan mitra.

Di antara tujuh media itu, Harian Lampung Post masuk dalam kategori Rakata Institute tak layak dijadikan mitra.

Pertanyaannya kemudian, sama dengan pertanyaan banyak pihak atas hasil survei lembaga yang dikomandani oleh Eko Kuswanto, doktor biologi tentang Rayap dari Institut Teknologi Banduang (ITB) terkait elektabilitas kandidat di Pilkada yang ada di Provinsi Lampung.

Bagaimana caranya Rakata Institute menyiimpulkan ketidaklayaan Lampung Post sebagai mitra?

Saya tidak ingin terjebak dalam diskursus tentang hasil survey Rakata terkait elektabiltas paslon di Pilgub, Pilbup dan elektabiltas calon anggota DPD, DPR RI, termasuk soal elektabiltas partai politik. Walau banyak pihak yang mempertanyakannya.

Baca Juga:  Polda Lampung Mulai Lidik Kasus Pencemaran Nama Baik Oleh Rakata Institute

Sebagai salah satu orang yang pernah menjadi karyawan hingga memimpin Lampung Post, saya cukup terkejut dan singut. Bahkan merasa tersinggung.

Tribun Lampung, Radar Lampung adalah pemain baru di bidang media massa di Lampung.

Bahkan, di kedua media itu, ada tangan-tangan yang bekerja, pernah mengenyam rasa bekerja di grup medianya Lampung Post.

Lampung Post, tentu dengan subjektifitas saya, lebih unggul dalam banyak hal, termasuk soal bermitra dengan berbagai pihak.

Sudah cukup banyak alumni Lampung Post yang menjadi pemimpin bahkan jadi pemilik di banyak media massa.

Bisa jadi bukan hanya saya, juga karyawan Lampung Post yang ada saat ini, perlu mengetahui, adakah resep yang salah diramu mereka, sehingga Rakata Instutute menilai jadi tak layak sebagai mitra kerja.

Saya ingin mendiskusikan ini secara terbuka?

Kenapa?

Pertama, saya ingin mengetahui lebih jauh metodologi Rakata Institute dalam memutuskan layak tidak layaknya sebuah media massa untuk dijadikan mitra kerja.

Baca Juga:  Bos Rakata Institute Tantang KPU Lampung

Kedua, implikasi dari penilaian yang dipublikasikan Rakata terhadap media massa, diluar tujuh media yang dinilai layak tadi, sangat negatif, khususnya bagi Lampung Post.

Ini menjadi sebuah kerugian immateriel yang sulit diukur secara finansial. Padahal, sepengetahuan saya, termasuk ketika memimpin Lampung Post, kepercayaan publik merupakan hal yang sangat dipriortitaskan dalam menata program kerja.

Ketiga, langsung atau tidak langsung, apa yang dilakukan Rakata Institute telah memframing pikiran publik, setidaknya di kalangan pekerja pers, bahwa media tempat mereka bekerja (di luar tujuh media tadi_red) menjadi tempat yang tak layak dipercaya sebagai mitra.

Implikasi ini sudah mulai terasa.

Atas dasar tiga hal diatas,  saya berharap, semoga Eko Yuswanto dan keluarga serta pasukan Rakata Institue yang sedang berlibur ke Hongkong, usai mempublikasikan tentang kelayakan media di Lampung, tak lama sudah kembali ke Lampung, bisa menyediakan waktu.

Baca Juga:  Wahrul Fauzi Dampingi Pers Lampung Tuntut Direktur Rakata Institute

Saya mengundang  ahli  “Rayap” dan jajarannya ini secara terbuka untuk hadir berdiskusi tentang kesimpulannya terhadap tujuh media di Lampung yang layak dijadikan mitra kerja.

Soal waktu dan tempat, saya menunggu konfirmasi anda. Tapi saya mengajukan tawaran, tempatnya di lokasi yang sama ketika anda mentasbihkan kelayakan tujuh media itu.

Sembari menunggu kesedian dan jawaban anda, saya menghabiskan kopi dan singkong goreng, menerawang apa yang sedang diperbuat Mbak Pur dan Juned di akhir pekan.(*)

Yusuf Yazid, mantan Karyawan Lampung Post 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top