Iklan
Pendapat

Ternyata Anak Krakatau Juga Berbahaya

MD Wicaksono. (IST)

Oleh MD Wicaksono

Rimbawan, Ketua DPD Persaki Lampung

 

BENCANA tsunami di Selat Sunda, Sabtu, 22 Desember 2018 malam menjadi sebuah bencana kemanusiaan di akhir pekan menjelang pergantian tahun 2018. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) tercatat 429 orang meninggal dunia, 154 orang hilang, 1.485 orang luka-luka, dan 16.082 orang mengungsi di Provinsi Banten dan Lampung, selain itu mengakibatkan kerusakan rumah, penginapan, warung, dermaga, shelter, perahu, kendaraan roda empat dan  roda dua (Detikcom, 25/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa tsunami yang terjadi di wilayah pesisir barat Provinsi Banten dan Lampung diakibatkan oleh naiknya gelombang akibat bulan purnama dan erupsi gunung Anak Krakatau yang memicu terjadinya longsor tanah bawah laut. Hal inilah yang mengakibatkan tsunami yang berdampak di Kabupaten Pandeglang dan Serang di Banten, serta Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus di Lampung. Korban terbanyak di Kabupaten Pandeglang, namun di Kabupaten Lampung Selatan juga tidak sedikit, 110 korban meninggal yang diekspose Kabid Humas Polda Lampung dari Tim DVI (25/12/2018).

 

Cagar Alam

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dijelaskan, Cagar Alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Keberadaan tumbuhan dan satwa di Cagar Alam merupakan asli daerah tersebut (endemik), tidak didatangkan dari luar. Perkembangannya dibiarkan alami apa adanya, pengelola hanya memastikan hutan tersebut tidak diganggu oleh aktivitas manusia yang dapat mengakibatkan kerusakan.

Indonesia memiliki 219 Cagar Alam dari ujung Barat hingga ujung Timur dan dari Utara hingga Selatan seluas 4.083.414,76 hektar, selain itu juga terdapat Suaka Margasatwa sebanyak 72, Taman Wisata Alam sebanyak 118, Taman Buru sebanyak 11, Taman Hutan Raya (Tahura) sebanyak 28, Taman Nasional sebanyak 54 dan Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam sebanyak 54, secara keseluruhan berjumlah 556 unit dengan luas mencapai 27.257.128,20 hektar (Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam, KLHK, 2017).

Lampung memiliki dua Cagar Alam yaitu Cagar Alam Krakatau dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau, serta Cagar Alam Laut Bukit Barisan Selatan. Cagar Alam Krakatau dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dengan keputusan nomor 85/Kpts-II/1990 tanggal 26 Februari 1990, dengan luas 13.735,10 hektar, terdiri dari 2.535,10 hektar darat dan 11.200 hektar laut. Kewenangan pengelolaan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu sejak tahun 2016, sebelum digabungkannya BKSDA Lampung dengan BKSDA Bengkulu.

Baca Juga:  Dispar Lampung Ajak Masyarakat Kunjungi Gunung Anak Krakatau

 

Keanekaragaman Hayati

Cagar Alam Krakakatau dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi, dengan ekosistem hutan pantai, hutan pedalaman, dan hutan pegunungan. Secara umum flora di Kepulauan Krakatau masih dalam perkembangan dan pengkayaan jenis. Setiap pulau berbeda keragaman dan perkembangannya. Pulau Rakata merupakan pulau dengan perkembangan vegetasi yang paling baik, Pulau Anak Krakatau merupakan pulau termuda dengan aktivitas vulkanik dengan sedikit vegetasi, sedangkan Pulau Sertung dan Pulau Panjang perkembangannya agak terhambat akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Vegetasi dari tingkat semak, tiang hingga pohon dapat dijumpai, beberapa tanaman pantai seperti Cemara, Ketapang, Waru, Pandan, Pinus, Laban, Mengkudu cukup mendominasi, karena mampu beradaptasi dengan kondisi  hutan pantai yang tanahnya berstruktur pasir. Namun juga mengalami kematian karena erupsi dan ada pula yang berhasil melakukan suksesi.

Fauna di Kepulauan Krakatau terdiri dari mamalia, reptil dan aves. Mamalia berupa tikus dan kalong, sedangkan reptil berupa biawak, penyu hijau, penyu sisik, dan ular. Aves menjadi fauna penting dalam penyebaran tumbuhan di wilayah tersebut. Hasil penelitian didapatkan 63 jenis burung, yang mengalami peningkatan setiap tahunnya (Syarifudin, 2018). Elang Laut, Elang Brontok, Kuntul Karang, Alap-Alap Kawah, Tuwur Asia, Pergam Laut, Pergam Hijau menjadi beberapa spesies yang dapat ditemui.

Selain itu juga dapat dijumpai biota laut, diantaranya ikan hias yang mencapai 54 spesies, diantaranya tujuh jenis ikan kepe-kepe yang merupakan merupakan indikator atas keutuhan terumbu karang di perairan setempat. Pulau Anak Krakatau merupakan yang sangat sedikit ikan hias, yang diakibatkan suhu perairan di pulau ini tinggi, sehingga biota lain tidak mampu hidup.

Baca Juga:  Jurus Jitu KPU Sukseskan Pemilihan Walikota Bandar Lampung

 

Wisata Alam

Potensi keindahan dan keunikan Kepulauan Krakatau menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung dan mengunjunginya. Kunjungan wisatawan dapat dilakukan dari Banten dan Lampung, ternyata kunjungan wisatawan dari Banten lebih besar daripada Lampung. Namun demikian Lampung memiliki Festival Krakatau yang digelar setiap tahunnya dalam upaya meningkatkan kepariwisataan di Provinsi Lampung.

Festival Krakatau menjadi salah satu festival besar di Lampung yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Krakatau merupakan ikon yang telah mendunia, oleh karenanya upaya menjadikan Krakatau sebagai destinasi wisata terus dilakukan. Namun dalam status kawasan sebagai cagar alam, maka aktivitas pariwisata tidak dapat dilakukan, yang dimungkinkan adalah kegiatan penelitian dengan izin masuk menggunakan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Simaksi dikeluarkan oleh BKSDA sebagai pengelola kawasan tersebut setelah memenuhi syarat yang ditentukan.

Upaya pemanfaatan kawasan untuk wisata alam di Cagar Alam Krakatau dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau telah dilakukan dengan berbagai diskusi para pemangku kepentingan dan berbagai proses komunikasi, yang pada akhirnya terbit Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor SK.21/Menlhk/KSDAE/KSA.0/2017 tentang Pembentukan Tim Teknis Evaluasi Kesesuaian Fungsi Cagar Alam Krakatau dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau dalam menjawab usulan BKSDA Lampung untuk perubahan fungsi menjadi Taman Wisata Alam. Tim Teknis Evaluasi pada akhirnya memberikan rekomendasi kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan berupa perubahan fungsi Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam seluas 5,13 hektar (darat) dan 16,85 hektar (laut). Tugas Tim seleksi selanjutnya keputusan akhir adalah ditangan Menteri LHK.

 

Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau sesuai namanya merupakan anak dari Gunung Krakatau. Gunung Krakatau sendiri telah ada sejak zaman pra sejarah yang merupakan gunung api besar yang disebut Krakatau Purba, yang telah berulang kali meletus hingga Gunung Krakatau yang kembali meletus pada tahun 1883 dengan letusan yang sangat besar, konon kekuatannya mencapai 10.000 kali lebih besar dari ledakan bom Hiroshima. Letusan ini mengakibatkan tsunami setinggi 30 meter dan menelan korban 36.000 jiwa serta menghancurkan 165 desa di Pesisir Selatan Lampung dan Pesisir Barat Banten. Letusan ini menyebabkan terbentuknya lubang kaldera berdiameter 7 km dan menyisakan tiga pulau Rakata, Panjang dan Sertung.

Baca Juga:  Meski Erupsi, BMKG Lampung Pastikan GAK Aman Bagi Masyarakat

Tahun 1927, dari tengah kaldera terlihat adanya aktivitas dari bawah laut, dan tahun 1928 muncul daratan berpasir yang menjadi cikal bakal gunung berapi Anak Krakatau. Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau dari tahun ke tahun tumbuh signifikan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 4 meter pertahun. Ketinggian saat ini sudah mencapai 305 meter di atas permukaan laut.

Gunung ini merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia, yang sedang tumbuh dan berkembang. Di tahun 2018 ini erupsi hampir terjadi setiap waktu, terlebih sejak Juni 2018 dalam level waspada. Waspada merupakan level kedua dari peringatan dini gunung api, dari normal, waspada, siaga dan awas. Awas merupakan level tertinggi yang ditandai gunung api tersebut terus mengalami peningkatan yang semakin nyata atau terjadi erupsi, sedangkan ancaman bahayanya erupsi dapat meluas dan mengancam pemukiman penduduk. Namun demikian, yang perlu kita ingat bahwa perubahan level bias dalam waktu yang singkat dan drastis.

 

Momentum

Bencana tidak dapat diduga, namun kewaspadaan dan kehati-hatian menjadi keharusan dilakukan. Tsunami 22 Desember 2018 lalu mengingatkan kita semua bahwa Gunung Anak Krakatau perkasa dan tetap berbahaya. Apakah kita tetap memilih dalam resiko yang tinggi, atau memilih resiko yang kecil dengan meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Hal ini juga dapat menjadi momentum Lampung memiliki Pusat Penelitian dan Pengembangan Gunung Anak Krakatau yang berfungsi untuk kemaslahatan bagi masyarakat Indonesia, khususnya Lampung serta kelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayatinya. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top