Panggung

Tari Bisa Bentuk Budi Pekerti

Hari Tari Sedunia, di Mini Stage Graha Sema Studio, Kota Bandar Lampung/TS

BANDAR LAMPUNG – Pembentukan sikap sosial melalui seni tari secara langsung diyakini mampu mendidik pelakunya menuju proses penyadaran. Bahwa setiap individu terbentuk atas tiga dimensi, yaitu sebagai sosok ciptaan tuhan, merupakan individu, serta makhluk social. Dengan begitu bisa  menghargai antar sesamanya.

Kesemua hal tersebut  diimplementasikan dalam falsafah tari dengan penggambaran nilai-nilai budi pekerti.

Di Lampung, dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia, para pecintanya menggelar pertunjukan  yang sarat akan pesan moral. Dengan mengugah mata batin para penonton seraya  menyampaikan pesan tentang kesadaran terhadap  dampak kerusakan alam oleh manusia.

Tarian bertajuk “Sekuel Tubuh Tradisi” dan “Garak Jo Garik” ini merupakan sebuah pertunjukan tari  karya koreografer muda Lampung yaitu, Dian Arza Dance Company serta Komunitas Kurenah Dance Theater yang dihelat  di Mini Stage Graha Sema Studio, Kota Bandar Lampung, Minggu malam.

Baca Juga:  Mudah-mudahan Tuhan Mendengar, Lampung Yang Terbaik

Selain memperingati Hari Tari Sedunia yang jatuh tepat pada 29 April hari ini, pentas seni tari ini juga merupakan launching program Lapah Environment Dance Mini Festival, yang merupakan platform tari bertajuk ekologi berbasis lanskap seni tradisi.

Pesannya soal kerusakan alam dan lingkungan akibat ulah manusia ini digambarkan Dian Anggraeni selaku koreografer dalam tarian bertajuk sekuel tubuh tradisi.

Tari ini merupakan gerak yang lahir dari membaca dan memaknai tubuh alam sebagai skenografi yang berkesinambungan dan setara. Bahwa tubuh adalah gerak linear dari kehidupan sehari-hari masyarakat tradisi.

Menjadi proses kerja yang memproduksi gerakan dalam tafsir nilai-nilai kebenaran dan simbol yang terbebas dari pemusatan makna.

Baca Juga:  Gebu Minang Lampung Gelar Forum Diskusi Adat "Duduak Baropok"

Sementara seni tari Garik Jo Garik adalah gerak silek atau seni silat tradisi melayu, yang identik Minangkabau ini sebagai pemaknaan dari beragam konektivitas tanda di bentang alam.

Garak artinya insting, kemampuan membaca sesuatu akan terjadi.

Seorang pesilat bisa merasakan jika ada sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Dan  “Garik” adalah gerakan yang dihasilkan oleh pesilat itu sebagai antisipasi serangan dating.

Penggagas program Lapah Environment Dance Mini Festival, Conie Sema, dari Teater Potlot, mengatakan program ini akan dilaksanakan secara berkala setiap tiga bulan.

“Kami berharap kegiatan ini tidak sekedar ruang pentas, tetapi menjadi netting informasi ide-ide penciptaan, serta membangun jejaring keberlanjutan karya bagi penggiat tari di Lampung. Melalui isu-isu aktual terutama ekologi,” papar Conie.

Baca Juga:  Tsunami Selat Sunda, Pria Ini Bertahan Selama 7 Hari di Pulau Panjang

Gerak, gesture, musik serta mimik wajah dan kostum para penari menyatu dalam satu penampilan yang sangat mengena dan berhasil menggugah mata batin penonton.(TS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top