Iklan
Nasional

Tahun 2013 Rupiah 9.700, Sekarang 14.100

Rupiah semakin melemah terhadap dollar/Net

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih mengalami tekanan. Berdasarkan data Bloomberg, perdagangan rupiah kemarin dibuka di level Rp14.165 per dolar AS dan ditutup di level Rp14.142 per dolar AS menguat 48 poin atau 0,34 persen dari penutupan Senin (21/5) di level Rp14.190 per dolar AS.

Sementara, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di Bank Indonesia (BI), kemarin, nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp14.178 per dolar AS. Nilai itu melemah dua poin dibandingkan posisi Senin (21/5) yang tercatat di level Rp14.176 per dolar AS.

Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan, pelemahan rupiah disebabkan sentimen positif dari membaiknya perekonomian di AS. Ia memastikan, dampak dari fenomena penguatan dolar AS tersebut terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara berkembang lainnya

Berbicara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5), Agus menjelaskan, neraca transaksi berjalan Indonesia yang terus mengalami defisit menjadi faktor domestik yang selama ini membuat nilai tukar rupiah terus tergerus, selain karena tekanan ekonomi eksternal.

Agus dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa, mengakui sejak dia menjabat sebagai gubernur BI pada Mei 2013, hingga akan purnatugas pada 23 Mei 2018, nilai rupiah dibanding dolar AS telah melemah dari Rp9.700 per dolar AS menjadi Rp14.100 per dolar AS.

Baca Juga:  Kemen-ATR/BPN Target 3.000 SKB Tahun 2019

“Ini tidak bisa terhindar karena ada faktor kita sejak 2012 transaksi berjalan terus defisit,” kata Agus.

Sejak Agus memimpin Bank Sentral pada 2013, defisit transaksi berjalan menembus 28 miliar dolar AS dengan lonjakan inflasi hingga 8,38 persen. Dua faktor itu pula yang membuat Agus, di awal kariernya sebagai pimpinan Bank Sentral, langsung menerapkan kebijakan moneter ketat.

Tahun ini, Agus memperkirakan, defisit transaksi berjalan Indonesia akan sebesar 23 miliar dolar AS atau 2,3 persen dari PDB. Di sisi lain, inflasi juga masih terkendali di bagian bawah sasaran inflasi BI dalam rentang 2,5-4,5 persen (yoy).

Neraca transaksi berjalan merupakan indikator untuk melihat pasokan dan permintaan valuta asing (valas) dari kegiatan perdagangan internasional (ekspor-impor) dan jasa suatu negara. Jika transaksi berjalan defisit, pasokan valas dari aktivitas tersebut tidak cukup untuk mendanai kebutuhan valasnya.

Pelemahan rupiah yang terus berlangsung tak pelak membawa memori kolektif masyarakat Indonesia ke situasi ekonomi Indonesia pada 1998. Ketika itu, rupiah bahkan melambung hingga melampaui level Rp15 ribu per dolar AS. Apalagi, pada Senin (21/5), masyarakat memperingati 20 tahun reformasi.

Menanggapi hal itu, Agus menilai, kondisi sistem keuangan saat ini lebih baik daripada periode krisis pada 1998. “Kondisi kita sekarang baik dan tidak perlu dikhawatirkan,” kata Agus.

Baca Juga:  Menpar Terima Penghargaan dari Lonely Planet di WTM London

Ia memastikan, fondasi sistem keuangan lebih kuat daripada 20 tahun silam. Salah satunya ditandai oleh tercukupinya cadangan devisa hingga mencapai 124,86 miliar dolar AS per April 2018. Selain itu, kondisi perbankan saat ini juga dalam keadaan terjaga, yang terlihat dari rasio kecukupan modal (CAR) pada kisaran 22 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah tiga persen.

Penguatan sistem perbankan ini, kata Agus, didukung oleh keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mempunyai tugas untuk menjamin dana tabungan milik nasabah. “Jadi, secara umum, indikator ekonomi Indonesia menunjukkan masih baik kalau dibandingkan dengan kondisi 10 atau 20 tahun lalu.”

Terkait pelemahan rupiah, Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed, di Jakarta, kemarin, mengatakan bahwa dolar AS meningkat karena prospek ekonomi yang membaik dan kenaikan suku bunga di AS. “Kelanjutan peningkatan di jangka pendek bergantung pada notulen FOMC yang sedianya akan dirilis dalam waktu dekat,” kata Hussein.

Bisnis melemah

Krisis ekonomi Asia yang mulai berlangsung pada 1997 merupakan titik awal reformasi Indonesia. Tekanan publik ditambah pimpinan MPR/DPR, mendorong Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Ekonom Senior The Institute for Development of Economics and Finance Dradjad Wibowo menjelaskan, dari sisi perbankan, kondisi perekonomian sekarang lebih kuat ketimbang 1998. Akan tetapi, ada perbedaan signifikan dalam konsumsi masyarakat.

Baca Juga:  Presiden Turun Tangan Atasi Sengketa Penguasaan Atas Tanah

“Karena tingkat impor kita tinggi sekali. Mulai dari pangan sampai bahan baku. Dan, yang akan kena nanti justru masyarakat menengah ke bawah terpukul harga pangan. Kalau masyarakat menengah atas terpukul dari sisi kondisi bisnis,” kata Dradjad, Kemarin (22/5).

Ia menambahkan, sebelum nilai tukar rupiah anjlok, kondisi bisnis sudah melemah. Mulai dari pelaku properti sampai ke penjual ritel semua mengeluhkan anjloknya penjualan dan margin. “Kalau rupiah makin melemah, semakin banyak yang terpukul dan bukan tidak mungkin PHK semakin dekat,” ujarnya.

Sebagai solusi jangka pendek, Drajad meminta BI menghentikan penaikan suku bunga acuan. Sedangkan untuk jangka menengah panjang, pemerintah diminta memperbaiki kondisi bisnis. Sebab, kondisi bisnis yang babak belur tidak terlepas dari tidak tepatnya kebijakan tim ekonomi pemerintah.(REp/ANt/LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top