Bandar Lampung

Tagana Harus Menjadi Garis Depan Perlindungan Bencana

Taruna Siaga Bencana (Tagana), yang tergabung dalam ekspedisi Gunung Anak Krakatau (GAK)/HP

BANDARLAMPUNG – Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung, Sumarju Saeni, melepas 50 orang Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang tergabung dalam ekspedisi Gunung Anak Krakatau (GAK), pada (21/3) lalu di Halaman Kantor Dinas Sosial Provinsi Lampung.

Rencananya Tim ekspedisi Tagana itu akan masuk ke GAK selama 3 hari. Tim akan merenungkan kembali kedasyatan bencana alam akibat erupsi Gunung Krakatau belasan abad silam.

“Pada usianya yang masih relatih muda yaitu 14 tahun, Tagana Provinsi Lampung diharapkan memberikan kiprah nyata dalam penanggulangan korban bencana. Mereka bersama masyarakat selalu berada di garda terdepan baik pada saat bencana, tanggap darurat maupun disaat pasca bencana. Maka renungkanlah kekuatan bencana itu dari ekspedisi ini,” ujar Sumarju Saeni saat melepas Tagana tersebut.

Menurut Sumarju, di samping keterlibatan dalam penanggulangan korban bencana tingkat lokal (tingkat Kabupaten/Kota atau Provinsi). Tagana Lampung harus terlibat dalam penanggulangan bencana nasional seperti bencana tsunami di Aceh, gempa bumi di Bantul, Yogyakarta, erupsi Gunung Merapi di Sleman Yogyakarta, dan bencana lainnya.

Baca Juga:  Masyarakat Lampung Bisa Dapat Kepastian Bantuan Hukum

“Keberadaan dan eksistensi Tagana harus dapat menjawab keraguan sebagian pihak dan kini sudah menjadi front liner atau garis depan penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial,” kata Sumarju.

Melalui Peraturan Menteri Sosial RI / Nomor : 28 tahun 2012/ tentang Pedoman Umum Tagana. Keberadaan Tagana, lanjut Kadis Sosial ini, kini lebih jelas eksistensi maupun pembinaan serta pengembangan tugas.

Tugas pokok Tagana adalah di bidang logistik, shelter, dapur umum, pendampingan psikososial dan bahkan advokasi sosial korban bencana. “Provinsi Lampung merupakan daerah yang rawan baik bencana alam maupun bencana sosial,” tambah Sumarjiu.

Keberadaan Tagana Lampung sejak 24 Maret 2004 hingga 24 Maret 2018 ini, Tagana selalu hadir ditengah tengah korban bencana. Kini personil Tagana aktif di Provinsi Lampung sebanyak 508 orang. Untuk Kampung Siaga Bencana (KSB) di lokasi rawan bencana dimana Tagana sebagai fasilitatornya telah menambah jangkauan dalam mengembangkan pendekatan Community Based Disaster Management (CBDM).

Baca Juga:  Polda Lampung Petakan Titik Rawan Jelang Pemilu 2019

KSB di Provinsi Lampung pada tahun 2017 sebanyak 17 Kampung/Desa dengan personil yang telah dilatih pada masing masing Kampung/Desa sebanyak 60 orang, sehingga keseluruhannya sebanyak 1.020 orang.

Aktivitas Tagana Lampung tidak hanya itu. Mereka bekerja sama dengan Kwarda Gerakan Pramuka dan Vertical Rescue secara membuat jembatan darurat. Hal tersebut sebagai salah satu upaya memecahkan permasalahan masyarakat terhadap akses menuju tempat sekolah maupun layanan kesehatan.

“Anak anak tidak bisa masuk sekolah karena sungainya banjir. Ibu hamil menunda memeriksakan kandungannya karena sungainya banjir. Dengan dibangunnya jembatan darurat (jembatan gantung) anak anak akan rajin sekolah; masyarakat dapat menikmati layanan kesehatan tanpa terganggu oleh banjir,” ujar Sumarju.

Pada tahun 2017 telah terbangun 8 unit jembatan sedangkan pada tahun 2018 akan terbangun sebanyak 6 unit.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Maria Tamtina, mengatakan, bahwa dalam rangka HUT ke-14, Tagana Lampung menggelar beberapa kegiatan diantaranya donor darah yang diikuti oleh 20 orang, pemeriksaan kesehatan anggota Tagana bekerjasama dengan Yayasan Generasi Muda Peduli Lampung; Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang dan Exspedisi Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga:  Temuan 1000 Eksemplar Tabloid Indonesia Barokah, Gerindra Lampung Minta Bawaslu Tegas

Exspedisis Gunung Anak Krakatau diikuti 50 orang anggota Tagana selama 3 hari dimaksudkan untuk merenungkan kembali kedasyatan bencana alam akubat erupsi Gunung Krakatau.

“Berdasarkan data kolonial Hindia Belanda, ledakan krakatau tahun 1883 mengakibatkan hancurnya 165 desa dan 132 desa lainnya rusak berat. Awan panas dan tsunami mengakibatkan tewasnya 36.417 jiwa. Sumber lainnya menyatakan bahwa jumlah kematian bahkan mencapai 120.000 jiwa,” kata Maria.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top