Iklan
Wisata

Stakeholder Atambua dan Kemenpar Kolaborasi di Crossborder 2019

Festival Crossborder Atambua/Net

ATAMBUA – Kabar membahagiakan datang dari Rapat Koordinasi Crossborder Atambua di Hotel Matahari, Atambua, kemarin. Seluruh stakeholder terkait di perbatasan negara Indonesia dengan Timor Leste tersebut, sepakat bergandeng tangan. Tujuannya, untuk merealisasikan target kunjungan wisatawan di perbatasan.

“2019 ini semangat baru. Ide kreatif baru. Harus punya terobosan baru. Terima kasih Kemenpar yang terus mendorong perbatasan sebagai potensi besar dalam program Kemenpar. Kami siap berkolaborasi. Saya bersyukur banyak stakeholder terkait yang hadir.  Dan kami bangga kedatangan Kemenpar ke acara ini sama saja dengan penambah stamina kami untuk terus berkreasi di perbatasan,” kata Bupati Belu, Nusa Tenggara Timur, Willybrodus Lay dalam acara tersebut.

Hadir seluruh pemangku kepentingan. Ada perwakilan Pemda, Kepolisian, TNI, Imigrasi, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Kemenpar, Kemenlu, BPS dan seluruh stakeholder. Acara berjalan dengan hangat. Kemenpar sukses menciptakan interaksi dari peserta dengan narasumber.

Dari Kemenpar, hadir Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Rizki Handayani Mustafa. Wanita yang biasa disapa Bu Kiki itu didampingi Harwan Ekon Cahyo Wirasto, Asdep Pengembangan Destinasi Regional 3.

Dalam paparannya, Rizki menjelaskan jika pengembangan pariwisata Crossborder merupakan instruksi dari Menteri Pariwisata Arief Yahya. Memajukan perbatasan juga merupakan arahan Presiden Joko Widodo. Karenanya, pengembangan pariwisata Crossborder merupakan salah satu cara untuk merealisasikan target kunjungan 20 juta wisman pada tahun 2019.

Dijelaskan Kiki, Kemenpar di bawah pimpinan Arief Yahya terus menjawab tantangan yang diberikan. Untuk tahun 2019, Kemenpar membagi strateginya dalam tiga batasan besar, yakni Ordinary, Extra Ordinary dan Super Extra Ordinary.

Baca Juga:  Revitalisasi PKOR Way Halim, Kado Nyata Gubernur Wujudkan Ruang Publik

Program Ordinary telah dijalankan dibeberapa tahun sebelumnya. Yaitu melalui Branding, Advertising dan Selling. Sementara, program Extra Ordinary dan Super Extra Ordinary sedang dijalankan, yakni Incentive (Airlines), Hot Deals, Competing Destination Model dan Border Tourism dan Low Cost Terminal.

“Salah satu potensi wisata yang terus digarap oleh Kementerian Pariwisata adalah Crossborder. Karena, jenis wisata ini memiliki banyak peminat dari berbagai kalangan. Selain itu, wisata perbatasan menjadi jawaban ketika wisatawan menemui kesulitan dalam melakukan kegiatan wisata. Khususnya yang berada di dalam wilayah Indonesia,” paparnya.

Rizki menambahkan, Kemenpar akan terus menggarap potensi perbatasan atau cross border. Implementasinya melalui program Joint Promotion. Misalnya dengan penyedia transportasi (ferry dan bus), event crossborder, hot deals, destinasi digital, dan mobile positioning data (MPD).

“Tahun 2018, diperkirakan pariwisata perbatasan dapat menyumbang 18 persen dari total kunjungan wisman. Karena itu, tahun depan harus naik menjadi 20 persen atau sekitar 4 juta dari total 20 juta target wisman. Kita butuh kerjasama dan bergandengan tangan. Ayo berkoordinasi dan kita bicara antar pimpinan agar semua program kita ke depan lancar,” kata Kiki yang disambut tepuk tangan meriah.

Dijelaskannya, crossborder tourism strategis untuk menciptakan kantong-kantong destinasi baru yang digerakkan melalui event. Maka wajar bila tren jumlah kunjungan wisman via crossborder terus meningkat.

“Event terdekat bulan Februari nanti. Kami mau setelah event tidak langsung hilang efurorianya, lintas wisatawan terus berjalan, destinasi terus didatangi wisatawan. Makanya kami bersinergi juga di internal dengan membawa Asdep yang membidangi destinasi,” kata Kiki.

Baca Juga:  Tak Hanya Soal Bisnis, Keindahan Alam Lampung Jadi Daya Tarik Negara Timur Tengah

Selain  Atambua,  daerah lain yang dibidik untuk bisa menyumbang banyak wisman lewat cross border adalah Batam Kepri yang bersebalahan dengan Singapura dan  Malaysia.

“Kita sudah siapkan strateginya. Potensi pariwisata perbatasan atau crossborder tourism kita akan terus maksimalkan bersama,” tambah Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional III Kemenpar  Ricky Fauziyani.

Salah satu daerah yang dibidik untuk bisa menyumbang banyak wisatawan mancanegara lewat crossborder ini adalah Atambua, NTT yang bersebelahan dengan negara Timor Leste. Ricky mengatakan Atambua sebagai destinasi utama crossborder tourism setelah Kepulauan Riau.

Keunggulan utama Atambua sebagai kekuatan pariwisata crossborder tourism di Indonesia karena berbatasan darat dengan Timor Leste. Perjalanan wisatawan yang bisa ditempuh melalui melalui darat relatif mudah dilakukan. Terutama jika dibanding dengan perjalanan wisatawan melalui udara atau laut. Untuk itu, sebaiknya pihak-pihak terkait seperti Custom, Immigration, Quarantine and Security (CIQS) dapat mempermudah wisatawan untuk masuk ke Indonesia.

Wisata crossborder juga didukung oleh keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang sudah baik, salah satunya PLBN Mota Ain. Namun demikian, tetap perlu dilakukanan akses transportasi lain seperti Yacht yang menurut Menpar Arief Yahya sangat cocok dikembangkan di Atambua.

Untuk atraksi, Atambua, dan NTT memiliki peluang besar untuk terus menciptakan atraksi yang dapat menarik minat wisatawan baik yang berbasis alam, budaya dan wisata buatan. Termasuk konser musik yang menghadirkan banyak bintang tamu.

Baca Juga:  Kemenpar Ajak Milenial Surabaya "Go Digital" Promosikan Pariwisata

“Untuk amenitas juga sangat berpotensi. Kita dorong di Belu atau Atambua ini mengedepankan konsep nomadic tourism karena relatif murah dan mudah dipindah-pindah,”kata Ricky yang juga diamini Kabid Pemasaran Area II Regional III di Deputi Bidang Pemasaran I, Hendry Noviardi.

Meski demikian, Ricky mengatakan bahwa untuk menampilkan atraksi, tampilannya harus dikurasi dengan baik, yakni dengan melibatkan kurator tingkat nasional mulai dari koreografer atau desainer.

Selain NTT dan Kepri, ada puluhan area perbatasan lain yang juga memiliki daya tarik wisata. Kemenpar berharap agar seluruh wilayah perbatasan yang ada dapat menyumbangkan angka peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, crossborder tourism sangat seksi untuk digarap.

“Mengapa? Karena potensi wismannya sangat besar. Dengan mengedepankan unsur kedekatan dan atraksi yang menarik, kita bisa mendapatkan banyak wisman perbatasan. Oleh karena itu, Kemenpar sangat concern untuk menggarap crossborder tourism di tahun 2019,” paparnya.(LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top