Panggung

Serial Dokumenter ‘Tapak Lampung’, Sebuah Ikhtiar Menyigi Lampung Tumbai

Suasana shooting film dokumenter Tapak Lampung di Rumah Ukir Lampung, Bandar Lampung, Januari 2018 lalu.

BANDAR LAMPUNG — Kisah Lampung masa lalu atau ‘Lampung Tumbai’ masih belum banyak dikaji. Minimnya referensi, kajian, maupunaksesterhadapsumber-sumbersejarahmenjadikannarasiakanidentitas Lampung tak banyak bergaung. Karena itu, Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) berikhtiar untuk melakukan kajian narasi sejarah Lampung dan mempopulerkannya melalui medium film dokumenter.

Ketua Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS ) Efin Nurtjahja G. Soehada mengatakan, Wilayah Lampung dikenali sebagai potret multikulturalisme yang mewujud di Indonesia.

“Ia dihuni oleh banyak pendatang, sehingga masyarakatnya akrab dengan kepelbagaian suku dan agama. Dari sudut pandang historis, Lampung juga mencuri perhatian karena berbagai aspek, mulai dari jejak megalitikum, kisah federasi kerajaan Islam yang membentuknya, serta riwayat kolonialisme Eropa,” kata Efin dalam rilisnya yang diterim, Senin (4/6/2018).

Baca Juga:  Bersama Nasdem, Srikandi Hijabers Misgustini Siap Serap Aspirasi

Tak hanya itu, kata Efin, hasil bumi dari negeri di ujung Pulau Sumatera nan subur ini pun membuatnya menjadi magnet tersendiri. “Kesemua itu menjadikan Lampung sebagaiwilayahdenganidentitas kultural yang unik.Dan agaknya, identitaskulturalinibelumsepenuhnyadisadarisebagaimodal sosial pembangunan.”

Efin menjelaskan, pada 2017, Perkumpulan Peduli Nusantara (PINUS) telah mengawali produksi serial dokumenter ini dengan melakukan riset terhadap kajian sosiohistoris Lampung. Riset dilakukan terhadap objek-objekwilayahLampung yang memilikipotensiwisatadanekonomi.

Sejak Januari 2018, tim dokumenter PINUS pun mulai melakukan peliputan ke sekujur wilayah tersebut. Objek peliputan mengerucut pada banyak hal, mulai dari kisah Sekala Bekhak, jejak megalitikum, sastra, kain tapis, hasil bumi (kopi dan lada), ketokohan Radin Inten II, syiar Islam dan pertalian dengan Bugis, hingga refleksi multikulturalisme Lampung dan identitas Lampung Sai Bumi Ruwa Jurai.

Baca Juga:  Lima Kata tentang Hari Pers 2019

“Bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan, sepuluh judul documenter berdurasi 10-12 menit mengenai sejarah Lampung ini pun kini dapat disaksikan di channel youtube “Tapak Lampung.”

Tak hanya menjangkau penonton yang memiliki akses terhadap internet, PINUS juga akan meluncurkan dan melakukan kegiatan nonton bareng bersama komunitas dan masyarakat Lampung secara langsung dalam waktu dekat.

“Film ini harus bebas disaksikan oleh siapa pun. Saya harapkan serial ini akan menjadi medium alternatifpendidikansejarahdankebudayaan Lampung. Upaya mendokumentasikannarasisejarah Lampung semacam ini saya kira bisa membangkitkan kesadaranmengenaiidentitas Lampung kemasyarakatluas. Jika kesadaran sejarah ini sudah meluas, saya yakin akan adamanfaatkonstruktifterhadappembangunanekonomimasyarakat Lampung,” pungkas Efin.  (RL/UZK)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top