Pendapat

Sekolah tapi Tidak Belajar

Oleh : Gilrandi Aristya DP

Guru Praktisi Pendidikan

JELANG pembukaan dibukanya kembali sekolah,  penyebaran covid 19 justru semakin tidak terkendali. Pemerintah dan para pemangku pendidikan akhirnya memutuskan untuk menunda kembali pembukaan sekolah. Dengan adanya penundaan pembukaan sekolah ini, para pendidik harus kembali bergulat dengan pembelajaran online atau belajar dari rumah.

Banyak pihak saat ini sangat berharap jika sekolah dapat kembali dibuka. Pembukaan sekolah kembali dianggap sebagai solusi utama permasalahan belajar online atau dari rumah yang muncul saat ini.

Banyak orangtua merasa tindak sanggup lagi menjadi penanggung jawab belajar di rumah. Para siswa juga banyak mengeluh tentang beban belajar yang lebih berat ketika harus belajar secara online. Beban yang lebih berat lagi harus dirasakan oleh para pembelajar yang tidak memiliki gadget atau jangkuan sinyal internet yang bagus.

Meskipun masih terdapat banyak kendala, pembelajaran online atau belajar di rumah sesunguhnya masih menjadi pilihan paling efektif dan aman bagi anak saat ini. Belum tertanganinya penyebaran covid 19, sangat berisiko apabila sekolah dipaksa untuk tetap dibuka. Sekolah justru dapat menjadi klaster-klaster baru yang dapat menyebarkan covid 19 secara lebih masif.

Baca Juga:  Merawat Pancasila

Kesulitan memastikan setiap siswa melaksanakan protocol kesahatan secara ketat menjadi permasalahan yang muncul saat sekolah kembali di buka. Sampai saat ini masih banyak sekali ditemui anak-anak yang tidak menggunakan masker ketika diluar rumah.

Permasalah utama kurang efektifnya pembelajaran online atau belajar dirumah ini terjadi karena pendidikan gagal bertranformasi dari wajib belajar menjadi gemar belajar. Anak-anak tetap saja “dipaksa” sekolah, bukan menemukan cara belajar yang menyenangkan dan tepat bagi mereka.

Sekolah dianggap satu-satunya solusi pendidikan, meskipun kenyataannya banyak orang dapat bersekolah tapi tidak semua dapat atau mau belajar. Banyak orang sudah terlanjur percaya bahwa sekolah adalah belajar. Padahal esensi belajar sesungguhnya tidak hanya di sekolah saja. Belajar adalah aktivitas yang terus menerus dilakukan oleh manusia, disetiap waktu atau situasi yang dihadapi.

Baca Juga:  Gerakan Agraria dan Politik

Manusia di anugerahi kemampuan belajar yang telah aktif sejak dalam dalam kandungan. Panca indera manusia terus bergerak untuk berusaha mengenali sitausi dan memberi makna terhadap kehidupan. Kodrat sebagai mahluk pembelajar ini merupakan anugerah yang meninggikan derajat manusia dari pada mahluk yang lainnya.

Pendemi yang sedang terjadi saat ini justru menjadi momentum yang sangat penting untuk mengembalikan esesensi belajar yang sesungguhnya. Baik melalui sistem belajar online maupun belajar dirumah, anak-anak harus didorong untuk belajar, bukan sekolah.

Ajak anak-anak melatih kepekaan indra mereka untuk merasakan dan memaknai situasi yang sedang terjadi saat ini. Kita dapat mulai mengajak anak untuk belajar, dimulai dari keunikan yang dia miliki dan lingkungan sosial dimana dia berada.

Materi dan kurikulum yang sudah disiapkan sekolah tidak perlu dihilangkan, melainkan perlu dikontekstulisasi sesuai dunia anak. Dalam hal ini pendidikan tidak fokus lagi pada berapa banyak pengetahuan yang masuk ke otak, melainkan bagaimana menumbuh semangat belajar dari dalam diri anak.

Baca Juga:  Meniru Kampanye Terselubung Jokowi

Mengenalkan anak pada seni, musik, dan budaya dapat menjadi menjadi alternatif untuk menggali potensi dan keunikan yang tersimpan dalam diri anak. Belajar tentu tidak melulu harus menghadap tumpukan soal-soal yang memusingkan. Belajar dapat dilakukan dengan sangat menarik dan menyenangkan melalui seni, musik, maupun kearifan budaya yang ada.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top