Panggung

Sadar! Nama Soedirman 47 Lebih Besar Dari Sekadar Nama Ketua dan Carik! 

LAMA tak mengikuti perkembangan Soedirman 47, beredar kabar bahwa iklim di Soedirman 47 sekarang sedang bergejolak. Dinamika dalam tubuh organisasi yang sedang terjadi ternyata bukan soal silang pendapat bagaimana mensiasati kaderisasi di tengah pandemi covid-19. Bukan berdebat soal bagaimana merekrut kader di tengah pembelajaran secara online. Namun, ini urusan proposal sakti yang kabarnya ditandatangani tanpa sepengetahuan Carik Soedirman 47 Wildan.

Kabar berhembus, bahwa disharmonisasi antara para pimpinan Soedirman 47 dimulai sejak Kongres Pengurus Gede di Soerabadja beberapa bulan lalu. Ada konflik kepentingan antara Tum Jafar dan para pasukannya yang mungkin tidak sejalan dengan Tum Jafar.

Berderet juga kabar tidak solidnya Soedirman 47 dalam Musda Bagian Selatan yang malah memunculkan kader Uang Bapak Ludes padahal yang berpotensi menang adalah punggawa Danau Tondano dan terakhir gagalnya suksesi kader Kebanggan Soedirman 47 yakni Cak Imun dalam Munas Kader Pelatih di Bumi Sriwijadja.

Tidur, Kabid Bangun Membangun juga sempat bermanuver untuk mengganggu PDKT Tum Jafar dengan Governor, dengan membuat webinar mengundang Yusdianbro dan Nazar sebagai fasilitator terkait evaluasi kebijakan Provinsi Pabrik Permen.

Baca Juga:  Warga Cangkrep Kidul Kembali Gelar Kirab Reresik Sumur Pitu

Beberapa hari terakhir, media di ramaikan dengan pemberitaan bahwa ketidakharmonisan Tum Jafar dan Carik Wildan semakin terang bebenderang. Sedih sebenarnya. Mau dikata apa, rilis tersebut sudah bertebaran kemana-mana, banyak yang memainkan peran dengan beragam kepentingan. Ada yang bergembira melihat “kepelesetnya” Tum Jafar, seperti gerombolan pasukan Embung, yang memang pada kontestasi terakhir solid mendukung Komisariat Pertanaman.

Berbeda dengan pasukan Embung yang lain, Rycko sabar melihat peluang, memang tipikalnya seperti itu, siapa yang menang, maka untuk menjadi sengkuni pun ia lakukan. Ada juga yang linglung tidak tahu apa yang terjadi dan tidak tahu mau bertindak apa.

Penulis jadi teringat buku karangan pewarta senior di Ujung Sumatera, Bang Juwe, judulnya “Pertengkaran orang baik”, buku tersebut ditulis karena keresahannya melihat orang-orang yang dinilai baik sering bertengkar.

“Bertengkarnya pun kerap dengan sesama orang baik.  Kita pasti punya pemahaman bertengkar itu tidak baik. Tapi kenapa orang baik melakukan hal yang tidak baik, apakah pertengkaran itu baik, apakah mereka benar-benar orang baik atau apakah mereka benar-benar bertengkar?” Tandas pengarang.

Baca Juga:  Hendri Std Luncurkan Novel Kawan Lama

Mengapa Tum Jafar dan Carik Wildan harus bertengkar? Bukankah mereka orang-orang yang baik? Bukankah mereka pernah menjalin romansa perjuangan saat sama-sama menjadi Governor Fakultas Proyek dan Governor Fakultas Pengusaha? Siapa pula kader terbaik yang setelah menjabat Governor, juga mampu memimpin Komisariat. Mereka berdua kader terbaik. Orang-orang baik.

Kita hanya mudah lupa soal apa yang banyak kita lalui. Tum Jafar dan Carik Wildan, sadarlah.. Nama Soedirman 47 lebih besar dari nama seorang Tum Jafar dan Carik Wildan, bahkan nama Soedirman 47 lebih besar dari pengajuan dana proposal itu. Tidak dapat ternilai dengan apapun.

Ada banyak sisi yang semestinya harus kita jaga dan kita kawal, soal bagaimana dampak kaderisasi, hubungan aspiratif junior yang menjaga senior juga sebaliknya, juga hal-hal lain yang sesuai dengan niat tulus ikhlas organisasi ini kedepan.

Betapa terbahak-bahaknya tetangga sebelah melihat kekacauan ini, kekacauan yang tak seharusnya timbul. Tidak ada sekoci penyelamat dalam peristiwa kali ini, jawabannya hanya ada pada Tum Jafar dan Carik Wildan yang mau berdamai atau tidak dengan kekacauan ini.

Baca Juga:  Almisbat Lampung Ingatkan Keterbukaan Persidangan Bagian Reformasi Peradilan (2)

Bagi Tum Jafar yang sudah mengakui kesalahannya, ini sebuah pembelajaran yang berarti, memaknai lebih dalam arti kata ‘partisipasi’. Bagi Carik Wildan, peristiwa ini juga menjadi pelajaran yang berharga, ini soal komunikasi dan mungkin kurang ngopi.

Ini juga pelajaran penting bagi kita semua. Diatas pencapaian dan kesuksesan kita semua, tentu ada peran Soedirman 47 di dalamnya, benda mati yang memberikan dinamika dan pengetahuan yang berharga. Soedirman 47 perlu dibela, kita semua lah yang berhak membelanya.

Kotor baju bisa bersih karena air.
Dosa bisa luntur karena air wudhu.
Namun masalah ini, masalah yang kita hadapi sekarang, semua bisa selesai di meja kopi, bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top