Iklan
Pendapat

Rusa Satwa Harapan, Alternatif Ekonomi Produktif Perhutanan Sosial

Helly Fitriyanty. DOKPRI

Oleh Helly Fitriyanty

Analis Perencanaan Kawasan Hutan Pada BPKH Wilayah XX Bandar Lampung,

 

 

SUMBERDAYA hutan dengan keanekaragaman hayatinya baik flora maupun fauna/satwa liar merupakan sumber pangan yang berkualitas dan berpotensi dalam mendukung ketahanan pangan, baik sebagai sumber karbohidrat, vitamin, lemak, mineral, dan protein. Sebagai salah satu zat gizi makro, protein sangat dibutuhkan oleh tubuh. Protein berfungsi untuk membangun sel dan jaringan, berperan dalam sistem imunitas tubuh, dan memperbaiki sel yang rusak, serta juga terdapat di berbagai bagian tubuh seperti kulit, tulang, otot, rambut dan sebagainya. Selain itu protein juga bertanggungjawab atas pembentukan enzim serta hormon yang dipakai untuk menjaga fungsi tubuh.

 

Protein Hewani

Konsumsi protein khususnya protein hewani berbanding lurus terhadap kualitas sumberdaya manusia, oleh karena itu kebutuhan dan konsumsi protein hewani penting untuk diperhatikan.Saat ini pemenuhan protein hewani khususnya daging merah masyarakat Indonesia, umumnya bersumber dari hewan budidaya seperti sapi, kambing, kerbau, domba dan babi. Mengingat akan pentingnya kuantitas dan kualitas sumber protein hewani khususnya daging merah, maka diperlukan pengkayaan dan diversifikasi sumber protein hewani.Salah satu upaya untuk menjawab hal ini adalah melalui pemanfaatan sumberdaya hutan satwaliar dengan beracuan pada kaidah konservasi(pemanfaatan yang lestari).

 

Satwaliar Harapan

Peluang ini dapat diwujudkan melalui pengembangan penangkaran rusa timor (Rusatimorensis),dengan tujuan akhir domestikasi rusa timor sebagai sumber protein hewani. Rusa timor merupakan salah satu sumberdaya hutan yang pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Padahal rusa memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi baik daging maupun hasil ikutan lainnya seperti kulit, dan ranggah (muda dan tua/keras) yang dapat diproduksi tanpa harus menyembelih. Daging rusa (venison) mempunyai tekstur lembut, dan berwarna merah, serta kandungan kolesterolnya rendah. Dalam dunia pengobatan, ranggah muda (velvet) digunakan sebagai ramuan obat-obatan. Produktivitas dan produksi rusa lebih unggul dibandingkan dengan sapi, kambing, dan domba karena prosentase karkas yang dihasilkan relatif lebih tinggi. Karkas adalah berat daging tanpa kepala, kaki, dan jeroan.

Baca Juga:  Pancasila di Era Digital

Rusa timor mudah ditangkarkan atau dipelihara karena daya adaptasi terhadap lingkungan di luar habitatnya cukup tinggi.Selain itu tingkat ketergantungan terhadap ketersediaan air relatif lebih kecil, sehingga lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang kering dibandingkan dengan jenis rusa yang lain. Kemampuan adaptasi yang baik ini, berdampak terhadap kemampuan berkembangbiak yang baik walaupundi bukan habitat aslinya.Dilihat dari segi reproduksi, rusa termasuk satwa liar yang produktif, masa reproduksinya dimulai dari umur 1,5 Р12 tahun, dengan lama bunting antara 7,5 Р8,3 bulandan dapat bertahan hidup antara umur 15-20 tahun. Bila ditangani secara intensif satu bulan setelah melahirkan, rusa sudah dapat bunting lagi terutama bila dilakukan penyapihan dini pada anak yang dilahirkan, sedangkan umur sapih anak rusa secara alami yaitu 4 bulan. Setiap tahun rusa dapat menghasilkan satu ekor anak.

 

Status Konservasi Rusa Timor

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, rusa timor dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi. Lebihlanjut dikukuhkan sebagai satwa dilindungi dalamPeraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Adapun terkait kegiatan penangkaran satwaliar telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.19/Menhut-II/2005 Tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.

Baca Juga:  Perhutanan Sosial Wujudkan Implementasi Nawacita

Konservasi Eksitu

Kegiatankonservasisatwaliar selaindapatdilaksanakan di habitat aslinya (konservasiinsitu), jugadapatdilaksanakan di luarhabitatnya (konservasieksitu).Salah satubentukpelaksanaankonservasieksituadalahpenangkaranyakniusahapemeliharaandanpengembangbiakansatwaliar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya, dengantujuanuntukmenjaminkelestarianpopulasinyadanpengembanganpemanfaatannyasecaraberkelanjutan (sustainable use) baiksebagaisatwakonsumsi, wisatamaupunkepentinganpendidikandanilmupengetahuan.

Implementasi pengembangan pemanfaatan secara berkelanjutan tersebut sudah dipraktekkan di Provinsi Lampung baik oleh Instansi Kehutanan ataupun masyarakat umum, walaupun belum menyentuh manfaat konsumsi.Contohnya UPTDKPHK Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman(Tahura WAR) Lampung yang mengembangkanpenangkaranrusatimor (Rusatimorensis) semi tertutuppada areal seluas2 (dua) ha, yang berlokasi di KelurahanSumberAgungKecamatanKemilingKota Bandar Lampung.

Salah satu tujuan dari pengembangan penangkaran rusa, adalah menyediakan sarana penangkaran percontohan dan pelayanan produksi bagi penangkar dan pengguna lainnya untuk pemenuhan kebutuhan induk atau bibit (parent stock) bersertifikat dan kebutuhan lainnya terhadap anakan hasil penangkaran.Hal ini bersesuaian dengan salah satu tujuan dibuatnya penangkaran rusa Tahura WAR, yaitu memberikanmanfaatekonomidansosialbagimasyarakatsekitarhutanmelaluikaidah-kaidahkonservasi.

 

Rusa Timor, Alternatif Ekonomi Produktif Perhutanan Sosial

Selanjutnya agar pemanfaatan rusa timor dapat berdaya guna dan berhasil guna, perlu dilakukan penangkaran dalam skala komersial di tingkat masyarakat. Dengan harapan selain untuk menjaga kelestariannya, juga dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan, khususnya masyarakat yang memiliki akses kelola terhadap kawasan hutan dengan skema Perhutanan Sosial. Perhutanan sosial merupakan kebijakan nasional yang memberikan akses kelola kawasan hutan kepada masyarakat yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan tenurial dan keadilan bagi masyarakat yang berada di dalam/sekitar kawasan hutan, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di dalam/sekitar kawasan hutan dengan tetap mempertahankan kelestarian fungsi hutan.

Sebagai satwa harapan, rusa timor dapat diintroduksikan dalam rangka pengembangan ekonomi produktif dengan sistem silvopastura, melalui domestikasi rusa timor. Hal ini dilakukan dengan cara pemberian indukan rusa timor hasil penangkaran kepada masyarakat pemegang izin untuk dipelihara di luar kawasan hutanmenggunakan sistem terkurung atau model kandang panggung. Sistem terkurung dilakukan dengan cara pemeliharaan pada suatu areal yang dikelilingi pagar dan pakan diberikan dari luar dengan cara pengaritan (cut and carry). Atau menggunakan model kandang panggung sebagaimana yang digunakan dalam pemeliharaan kambing atau domba dalam skala rumah tangga.

Baca Juga:  Menuju Pilgub Lampung

Pemenuhan akan hijauan pakan rusa timor dapat diintegrasikan denganpola yang dikembangkan dalam sistem silvopastura yaitu mengkombinasikan tanaman kehutanan (tanaman kayu-kayuan/tanaman HHBK) dengan kegiatan penyediaan tanaman hijauan makanan ternak (HMT). HMT yang dikembangkan adalah jenis rumput-rumputan yang produktifdan tahan terhadap kekeringan, seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput BD (Brachiaria decumbens), rumput BH (Brachiaria humidicola), dan rumput pahit (Paspalum notatum). Pengkombinasian tanaman antara strata tajuk rendah, menengah dan tinggi bersesuaian dengan aspek kelestarian kawasan yang harus dipenuhi oleh masyarakat pemegang izin dalam rangka kelola kawasan hutan.

Dengan demikian, domestikasi rusa timor merupakan salah satu upaya pengembalian core business program Perhutanan Sosial yang mengedepankan ruh kehutanan. Dimana selama ini kecenderungan pengembangan ekonomi alternatif yang diterapkan pada program Perhutanan Sosial di Provinsi Lampung didominasi komoditi yang menjadi core business sektor pertanian/perkebunan dan peternakan. []

 

  • Pemenang III Lomba Rimbawan Menulis Opini 2019 yang diselenggarakan Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Lampung

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top