Iklan
Pendapat

Ruang Ekspresi Budaya Tradisional (Bagian 2-Habis)

Oleh Udo Z Karzi

Sastrawan, Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung

 

YANG paling kaya, Lampung menyimpan tradisi lisan yang diperlihatkan dengan ragam sastra lisan Lampung. Sastra lisan Lampung terdiri dari sesikun/sekiman (peribahasa), seganing/teteduhan (teka-teki), memang (mantra), warahan (cerita rakyat), dan puisi.

Puisi lisan Lampung pun bermacam-macam: (1) paradinei/paghadini (digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat), (2) pepaccur/pepaccogh/wawancan (digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara pemberian gelar adat [adek/adok]), (3) pattun/segata/adi-adi (lazim digunakan dalam acara-acara yang sifatnya untuk bersukaria, misalnya pengisi acara muda-mudi nyambai, miyah damagh, kedayek), (4) bebandung (berisi petuah-petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam), (5) ringget/pisaan (pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai).[1]

 

Ruang-ruang Ekspresi Budaya Tradisional

Di Lampung yang multikultur, agaknya tidak ada persoalan serius dalam ruang ekspresi, yang memungkinkan bagi berkembangnya berbagai aktivitas dan kreativitas berbagai suku, bahasa, dan kultur tradisional. Dalam setiap komunal (Lampung, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dst) berkembang kultur tradisional masing-masing. Kecuali kasus-kasus tertentu, sejauh ini tidak ada gangguan, gesekan, dan konflik akibat ragam budaya tradional tersebut. Aneka upacara, kebiasaan, adat-istiadat,  bahasa, kesenian, dan berbagai budaya tradional berjalan mengikuti penganut kultur masing-masing.

Berbagai sarana prasarana, misalnya Taman Budaya, Gedung Kesenian, Gedung Pertemuan, kampus, kantor pemerintah, dan sebagainya memungkinkan kultur tradisional dari berbagai etnis tampil di ruang publik. Kondisi ini positif bagi pembangunan masyarakat yang toleran, menghormati  perbedaan, dan rasa kebersamaan. Pada gilirannnya, ruang-ruang ekspresi yang demokratsi ini juga menguatkan ketahanan budaya di Bumi Ruwa Jurai ini.

Baca Juga:  Keteladanan Bapak Pendidikan

 

Berbagai Kemungkinan bagi Pengembangan

Sebagaimana dikatakan di atas, batasan budaya tradisional dan budaya modern sangat tipis. Fakta menunjukkan ada modernitas dalam tradisional dan sebaliknya, dalam kultur modern sering pula memuat hal-hal yang tradisional. Maka, demikianlah saya umpanya, merintis penulisan sastra Lampung modern. Namun, sulit bagi saya untuk menghindari ketradisionalan saya dalam bahasa Lampung yang saya pergunakan. Saya menulis:

Sastrawan Lampung tak selalu harus menulis tradisinya semata-mata. Sebab, tradisi toh hanya sebuah nilai saja yang masih debatable. Sebuah nilai dalam karya sastra akan selalu menarik dibicarakan, didiskusikan, didukung, dipertanyakan, dikritik, ditambah, dikurangi, bahkan ditolak sama sekali. Tradisi toh akan memudar atau bahkan musnah sama sekali kalau tidak ada lagi yang mau mendukungnya. Bahasa dan sastra Lampung sebagai suatu tradisi bisa saja benar-benar hilang kalau memang tidak ada lagi orang yang berbicara dan mengerti bahasa-sastra Lampung. Karena bahasa Lampung hanya sebagai medium bagi sastrawan Lampung untuk berekspresi, saya pikir, apa pun yang diucapkan atau ditulis sastrawan Lampung akan menarik didiskusikan.[2]

 

Dengan begitu, ada banyak tari kreasi karya koreogfer diangkat dari khazanah budaya Lampung Barat. Sebut saja Tari Marok yang memenangkan Festival Tari Kreasi Dan Parade Lagu Daerah Lampung, Maret 2017 lalu. Tari Sansayan Sekeghumong, koreografi tarian dari salah satu bagian novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni ini digarap Ayu Endiarti dan Dina Febriani. Beberapa garapan tari kreasi Hari Jayaningrat, Novan Saliwa, dll juga mengambil ruh tari tradisional Lampung

Baca Juga:  Membendung Radikalisme di Kampus

Suatu kali pada November 2012, Komunitas Jazz Lampung memainkan cetik (gamolan) yang dipadu rebana dan alat musik tradisional lain dengan peranti modern dalam Festival Jazz Ngayogjazz di Yogyakarta. Kehadiran cetik di pentas level internasional itu mengundang decak kagum. Musik-musik tradisional Lampung bisa dipentaskan sendiri, dimainkan dengan komposisi musik baru, dan tidak menutup kemungkinan untuk dikolaborasikan dengan alat musik modern seperti gitar, bass, drum, dan lain-lain.

Begitu pula, rumah tradisional Lampung ini bisa jadi inspirasi bagi perupa (arsitek) untuk mengembangkan seni rupa atau seni rupa yang khas Lampung.

Berbagai cabang seni itu, baik seni tradional maupun seni modern, baik secara sendiri-sendiri maupun kolaborasi beberapa seni sangat berpeluang untuk tumbuh-kembang saat ini dan masa depan.

Ada perkembangan menarik dalam perjalanan sastra lisan (sastra tradisional) Lampung seperti terlihat dalam karya ini:

 

Kulo nuwun meriki mas monggo

Kabari peripun suwi temen

Sampean ing teko

Apik mawon kabari podo

 

Sak niki jaman nippon

Ora podo jaman londo

Sopi sing arep mattun

Upahan kalih kulo

Sopo ngejaluk ampun

Kak merikei mas monggo

 

Dolan-dolan neng pasar

Kepettuk sing mbok ayu

Kulo sing arep kenal

Malah dewek-e nesu

 

Nesu awak ken kudu ayem

Intuk perawan ayu awak-e laju marem

Dik bengi nonton film

Awanne numpak sepur

 

Embok yo gunung sugih

Bottem dineh belonjo

Kakangmu dereh mulih

Dereng musim merico

 

Mattur nuwin sing temen

Kalih Presiden Sukarno

Merah putih neng duwur

Niko tondo merdiko

 

Saya langsung senyam-senyum sendiri membaca ini. Bahasa Jawa memang. Tapi bukan geguritan atau sastra Jawa. Karya di atas adalah reringget, salah satu bentuk puisi tradisional Lampung. Reringget berjudul Lappung Pecel (Lappung Pinggir) ini ditulis dan juga dituturkan oleh Sarpuli gelar Sutan Tanggem Sutan, yang tinggal di Desa Negaranabung, Sukadana, Lampung Timur.[3]

Baca Juga:  Rezeki Semanis Madu, Lestari Semakin Dirindu

 

Penutup

Pada akhirnya, peran semua pihak, baik seniman, pemerintah, dunia usaha maupun apreasisi masyarakat sangat penting bagi pemertahanan budaya tradisional dengan membuka segala kemungkinan bagi berkembangnya bersamaan dengan dengan budaya modern dari berbagai subkultur yang hidup secara harmonis di Provinsi Ujung Pulau Sumatera ini.

Terima kasih. Lebih kurang saya mohon maaf. Tabik. []

[1] Sanusi, A. Effendi. 2014. Sastra Lisan Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

[2] Karzi, Udo Z. 2013. “Sastra (Berbahasa) Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan” dalam Feodalisme Modern: Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan. Bandar Lampung: Indepth Publishing.

[3] Selengkapnya bisa dibaca dalam Djafar, Iwan Nurdaya. 2015. Leksikon Sastra Lampung Klasik. Sukadana: Dewan Kesenian Lampung Timur. Hlm. 52-53.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top