Iklan
Pendapat

Ruang Ekspresi Budaya Tradisional (Bagian 1)

Udo Z Karzi (IST)

Oleh Udo Z Karzi
Sastrawan, Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung

 

MASUK hingga pelosok-pelosok perdesaan di negeri, tak terhindari modernisasi dan globalisasi telah banyak mengubah kehidupan masyarakat kita pada umumnya.  Umumnya, modernisasi diartikan suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Celakanya, definisi ini menyebutkan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. Akibatnya, cara lama yang yang dianggap tradisional, yang sebenarnya memiliki sistem nilai sendiri dan sumber pengetahuan lokal (local genius) semakin terpinggirkan.

Di Indonesia, bentuk-bentuk modernisasi banyak kita jumpai di berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik dari segi pertanian, industri, perdagangan, maupun sosial budaya. Salah satu bentuk modernisasi di bidang pertanian adalah dengan adanya teknik-teknik pengolahan lahan yang baru dengan menggunakan mesin-mesin, pupuk dan obat-obatan, irigasi teknis, arietas- ariettas unggulan baru, pemanenan serta penanganannya, dan sebagainya. Semua itu merupakan hasil dari adanya modernisasi.

Sebagai suatu bentuk perubahan sosial, modernisasi biasanya merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terencana. Perencanaan sosial (social planning) dewasa ini menjadi ciri umum bagi masyarakat atau negara yang sedang mengalami perkembangan. Suatu perencanaan sosial haruslah didasarkan pada pengertian yang mendalam tentang bagaimana suatu kebudayaan dapat berkembang dari taraf yang lebih rendah ke taraf yang lebih maju atau modern.

Dengan sudut pandang ini, (budaya) tradisional dianggap ketinggalan zaman dan karena itu harus segera ditinggalkan untuk menggantikannya dengan (budaya) yang modern. Padahal dalam beberapa hal (budaya) tradisional memperlihatkan keunggulan yang menunjukkan tingkat peradaban tertentu dalam masyarakat tertentu. Konsep pertanian repong di Pesisir Barat misalnya, justru memperlihatkan konsep kehidupan masyarakat adat yang tradional yang selaras dengan alam. Sistem pertanian repon ini, selain produktif dan memberikan investasi jangka panjang bagi masyarakat, juga sangat ramah dan mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup.[1]

Baca Juga:  Media Sosial, Pilkada Serentak dan Pemilu 2019

Di sisi lain globalisasi membuat perkembangan dunia begitu pesat. Manusia di dunia seakan tanpa sekat, arus informasi dan komunikasi bergerak begitu pesat. Perkembangan teknologi informasi memudahkan manusia untuk mendapatkan informasi dan kebutuhan mereka.

Secara umum permasalahan globalisasi memiliki dua sifat, yaitu unsur interrelasi yang sangat kuat dan keterjangkauan berskala global. Unsur interrelasi yang sangat kuat, artinya permasalahan globalisasi itu, sangat berpautan erat antara satu negara dengan negara lain. Meskipun masalah-masalah itu pada mulanya dijumpai hanya di satu atau beberapa Negara, tetapi lambat laun akan terjadi di seluruh negara di berbagai belahan bumi. Apalagi dengan kemajuan teknologi transportasi dan teknologi telekomunikasi dan informasi yang telah menyebabkan interaksi antar manusia baik secara nyata maupun maya semakin meningkat, maka penyebaran permasalahan globalisasi itu akan semakin cepat.

Keterjangkauan berskala global (global coverage), artinya permasalahan globalisasi itu, dapat menyebar ke seluruh dunia, dan memberikan dampak yang juga berskala dunia/global. Harus diakui bahwa kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi, dan transportasi berperan besar untuk menyebarkan permasalahan globalisasi itu ke berbagai belahan bumi.

Baca Juga:  Koperasi Petani sebagai Jalan Menuju Ekonomi Berkeadilan

Dengan adanya dua sifat itu, maka dapat dikatakan bahwa gejala keterhubungan (interconnectedness) antara berbagai masalah globalisasi dengan hubungan antarbangsa telah semakin meningkat, dan hal itu sebenarnya adalah sebuah konsekuensi logis dari globalisasi yang memang pada akhirnya akan membawa manusia untuk menjadi semakin mudah dan semakin sering berinteraksi. Namun di pihak lain, sifat jangkauan global dan dampak masalah globalnya juga harus diwaspadai.

Dalam dunia yang semakin mengglobal, maka berbagai masalah yang diawali pada suatu lokasi di belahan bumi tertentu dapat memberikan dampaknya ke seluruh planet bumi dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Tanpa disertai dengan filter yang baik, tentunya hal ini akan berdampak besar pada kehidupan individu itu sendiri dan juga di masyarakat.

 

Budaya Tradisional

Pertanyaannya, benarkah semua telah menjadi global dan modern? Jawabnya tidak. Kenyataan hidup dan kehidupan masyarakat memperlihatkan antara tradisional dan modern berbaur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, baik dalam pikiran, sikap maupun perilaku. Beberapa kasus memperlihatkan bagaimana demokrasi yang dianggap modern dalam praktiknya justru menampakkan wajah yang semakin feodal.[2]

Namun, dalam kesempatan ini saya tak hendak membahas masalah ini. Saya ingin memfokuskan diri pada budaya tradisional Lampung dan bagaimana ia mendapatkan ruang ekspresi yang sewajarnya agar ia memiliki ketahanan dalam menghadapi gempuran globalisasi dan modernisasi.

Di tengah manusia yang kian modern, masyarakat adat Lampung misalnya, masih menjalankan berbagai upacara/kegiatan trasional dalam intensitas yang kian menurun dan disesuaikan dengan kondisi kekinian  seperti nayuh (pesta pernikahan), nyambai (acara bujang-gadis dalam rangka resepsi pernikahan), bediom (menempati rumah baru), sunatan, sekura (pesta topeng rakyat), tradisi sastra lisan (seperti segata, wayak, hahiwang, dll), buhimpun (bermusyawarah), butetah (upacara pemberian adok atau gelar adat), bebatok (bergotong-royong), dan ngusi (membuka lahan untuk perladangan/kebun).

Baca Juga:  Konflik Agraria dan Gangguan Psikologis Anak

Beberapa jenis kesenian tradional juga masih hidup, meskipun dalam situasi yang sangat memprihatinkan. Sebut saja tari tradional seperti  tari setangan, tari payung, tari piring, dan tari kipas. Terdapat juga alat-alat musik tradisional Lampung, di antaranya gambus lunik atau gambus anak buha, gamolan (cetik), ompang atau khaddap, kerenceng atau terbangan, sekhdap dan bekhdah, serdam, akordion atau harmonium, membling, dan gendang. Rumah-rumah tradisional Lampung yang tersebagai di 15 kabupaten/kota di Lampung memperlihatkan arsitektur tradisional Lampung yang masih bertahan hingga kini. []

 

[1] Lubis, Zulkifli. 1997. Repong Damar: Kajian Tentang Penganbilan Keputusan dalam Pengelolaan Lahan Hutan di Pesisir Krui, Lampung Barat. Bogor: Center For International Foresty Research. Halaman 6.

[2] Karzi, Udo Z. 2013. Feodalisme Modern: Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan. Bandar Lampung: Indepth Publishing.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top