Bandar Lampung

Riwayat Slamet Riadi Tjan: Kontraktor Asal Lampung, Residivis Tipikor hingga Manipulator Saksi KPK (Bagian I)

Riwayat Slamet Riadi Tjan: Kontraktor Asal Lampung, Residivis Tipikor hingga Manipulator Saksi KPK
Riwayat Slamet Riadi Tjan: Kontraktor Asal Lampung, Residivis Tipikor hingga Manipulator Saksi KPK

Slamet Riadi Tjan, berbaju hitam sedang menyantap hidangan makanan. Foto: Istimewa.

Suluh.co – Namanya Slamet Riadi Tjan. Panggilan akrabnya di Provinsi Lampung ini, Slamet Petok. Rupa-rupanya, sebutan ‘Petok’ itu bukan tak berdasar.

Ia adalah anak dari seorang kontraktor yang dikenal dengan nama ‘Petok’, dikenal sebagai ‘kontraktor berkarakter’.

Slamet Petok mewarisi sejumlah peralatan dari ayahnya. Misalnya Aspalt Mixing Plant (AMP) atau semacam peralatan produksi campuran beraspal panas.

Yang mempunyai fungsi untuk memproduksi bahan pelapisan permukaan jalan lentur yaitu campuran beraspal panas.

Kepemilikan atas peralatan ini, membuatnya juga dikenal bermitra dengan sejumlah kontraktor yang memenangi tender proyek —yang punya kebutuhan terhadap aspal hot-mix.

Ia kerap dikenal adalah orang di balik perusahaan yang memenangkan pengadaan paket proyek pada bidang konstruksi jalan.

Suluh.co melakukan penelusuran dari informasi publik yang tidak dikecualikan. Keberadaan Slamet Petok sebagai sosok ‘a man behind the gun’ terlacak.

Misalnya saat proyek pada Dinas PU-PR Lampung Tahun Anggaran 2018 dimenangi PT Usaha Remaja Mandiri. Tender proyek ini berkaitan dengan pada ruas Jalan Pringsewu-Pardasuka senilai Rp50 miliar.

Di sana, jejak Slamet Petok dilaporkan terindikasi sebagai pihak yang sebenarnya memiliki proyek tersebut. Kendati perusahaan tadi bukan milik Slamet Petok.

Indikasi-indikasi itu setelahnya dibantah oleh anak buah Slamet Petok seperti dilaporkan pada 12 Maret 2019 lalu.

Gindha Ansori Wayka kala itu mengatakan, bahwa ada gambaran proses pengadaan proyek itu semacam motif biasa yang umum terungkap di persidangan kasus korupsi.

“Ketika Bambang mengatakan PT URM hanya dipinjam sebagai perusahaan pendamping, bisa diasumsikan bahwa sudah ada perusahaan “pengantin” alias calon pemenang tender,” kata Ginda.

Slamet Petok diketahui bertempat tinggal di Kota Metro, salah satu wilayah di Provinsi Lampung.

Ia adalah residivis atas kasus Tindak Pidana Korupsi [Tipikor]. Singkatnya, Slamet Riadi Tjan ini merupakan terpidana atas korupsi proyek pembangunan ruas jalan Sentot Alibasya senilai Rp5 miliar lebih di Dinas PU-PR Kota Bandar Lampung tahun anggaran 2014.

Dia dinyatakan bersalah oleh majelis hakim karena merugikan negara sebesar Rp811 juta. Hal itu diperkuat hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan [BPK] RI Perwakilan Lampung Nomor: LAPKKN 501/PW08/5/2017 tertanggal 12 Desember 2017 yang menyebutkan Selamat Petok telah merugikan negara.

Dari nomor perkara: 23/Pid.Sus-TPK/2018/PN Tjk tertanggal 30 Agustus 2018, Slamet Petok terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

Slamet Petok divonis satu tahun kurungan penjara dan denda sebesar Rp50 juta. Selain itu, dia juga wajib membayar uang pengganti sebesar Rp811.006.982 untuk disetorkan ke kas negara.

Lika-liku perjalanan kasus dia ini bisa dikatakan tak mulus. Saat kasusnya ditangani Kejaksaan Negeri Bandar Lampung di tingkat penyidikan, Slamet Petok tercatat pernah tidak hadir.

Alasan ketidakhadirannya itu didasarkan pada kunjungannya ke Singapura, yang disebut untuk menjalani operasi tulang hidung.

2 Tahun kasus ini seperti berjalan di tempat kendati korps adhyaksa saat itu emoh jika penanganan kasusnya disebut mandeg.

Laporan masyarakat masuk ke tangan korps adhyaksa pada pertengahan tahun 2016 dan disidang hingga putusan tertanggal 30 Agustus 2018.

Saat itu Perhitungan Kerugian Negara [PKN] disebut sebagai hal yang mendasari lamanya penanganan kasus tersebut.

Apa yang dialami Slamet Petok tadi tak membuat gairahnya mencari pundi-pundi rupiah surut pada konteks pengadaan tender proyek.

Saat divonis, ia tercatat sebagai Direktur Utama PT Satria Sukarso Waway.

Bersambung…

Baca lanjutannya di sini [Riwayat Slamet Riadi Tjan Bagian II]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top