Panggung

Rikkie: 2019 Tak Mungkin Bisa Dilupakan, Heru Antoni: Maaf Lahir Batin

Heru Antoni dan Memintal Bulan. | Facebook

BANDAR LAMPUNG — Pekerja seni budaya, editor dan produser musik dan film, aktivis perlindungan anak, pengelola Sanggar PAI (Pelangi Anak Indonesia) yang berbasis di Lampung, Rikkie Ramli menyebut tahun 2019 –yang akan segera berakhir sebagai tahun yang tak akan mungkin bisa dia lupakan.

Kesan pribadi itu ia ungkap dalam unggahan di media sosial Facebook miliknya, pada Senin (30/12/2019). Rikkie bilang, “Tak akan mungkin bisa melupakan kejadian di tahun 2019. Banyak sukanya daripada duka,” bunyi unggahan dia, pukul 19.31 WIB.

2019 yang notabene ‘tahun politik’, tak lepas ikut menoreh kesan mendalam bagi Rikkie, produser film Kiyai yang pernah ditayangkan di sekolah-sekolah melalui program bioskop sekolah usai rilis medio 2017 lalu itu.

“Tapi jangan sampe ketemu pilpres yang bikin tahun 2019 itu sangat menegangkan. Hanya orang2 yang dewasa saja yang bisa melewati masa pilpres dengan damai. Ga pake blokir2 medsos, pake emosi apa lagi mencaci,” ungkap vokalis homeband salah satu tempat hiburan tersohor Lampung ini.

Baca Juga:  Dua Penyair Asal Lampung Lolos Seleksi Festival Sastra Asia Tenggara

Kebahagiaan dan kesedihan, sambung dia, pasti kita semua rasakan. “Nikmatilah semua dengan ikhlas,” tandas Rikkie, ayah dua anak ini, bijak.

Salah satu vokalis lagu Saat Kemenangan, theme song olahraga Lampung Berjaya ciptaan musisi Bagus S Pribadi yang dibuat sebagai dedikasi dukungan bagi seluruh atlit Lampung yang akan berlaga di PON 2020 di Bumi Cenderawasih Papua ini, mengakhiri unggahannya dengan doa.

“Smoga tahun 2020 kita semua diberikan kesehatan dari Allah SWT. Amiin. #selamattahunbaru #2020,” pungkas Rikkie.

Beda Rikkie Ramli, beda Heru Antoni. Aktor teater dan sastrawan Lampung kelahiran Telukbetung, Bandarlampung, 15 Oktober 1976 ini mengunggah kalimat penutup tahun yang “tiada” duanya. Penasaran?

“Ketika angka-angka kembali merubah waktu menjadi satu titik pengulangan antara kehadiran dan kepergian, maka hanya ketiadaan menjadi ada dan kembali tiada,” bunyi unggahan Heru, berikut dua tagar, salah satunya tagar #maaflahirbatin, Selasa (31/12/2019) pukul 16.31 WIB.

Lima jam sebelumnya, penulis Antologi Puisi “Anak-Anak Air”, kumpulan 84 puisi tunggal perdananya yang diterbitkan Teras Budaya, Desember 2016 dan diluncurkan di tempat istimewa, Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, (saat itu) Jl Imam Bonjol 544 A Kemiling, Bandarlampung, 25 Februari 2017 silam itu, terpantau memposting pula puisi pendek.

Baca Juga:  Bacaleg Lampung Barat Ini Ingin Mensejahterakan Petani  

Tak Ada Yang Abadi, judul puisi unggahan dia yang terakhir menggeluti mayapada seni peran di Teater Potlot ini, pukul 11.30 WIB.

“Maka datang//akhir dan awal//bertemunya waktu. berharap dan meninggalkan//kisah-kisah di jalan kehidupan//menjadikan warna dalam ingatan//serupa keheningan batu-batu purba,” kutipan lengkapnya.

Penelusuran, aktivitas terakhir pengampu Antologi Puisi “Memintal Bulan” (2019) ini jelang akhir tahun 2019, diantaranya hadir bersama guru dan siswa SMP Negeri 12 Bandarlampung, yang dalam waktu dekat akan meluncurkan Antologi Puisi bertajuk Sahabat Biru terbitan IA Publisher. Heru mempostingnya, Senin (30/12/2019) malam.

Dikutip dari laman Nyiur Melambai, edisi 6 Maret 2019, diketahui Heru remaja (kala itu 16 tahun) mulai ikut berkecimpung sebagai rimba raya pekerja seni saat pertama kali bergabung jadi salah satu anggota Teater Krakatoa Bandarlampung, pada tahun 1992.

Baca Juga:  Fauzi dan Zaiful Bokhari Kompak Paraf Petisi, Dukung Lampung Jadi Ibu Kota Pemerintahan RI

Setahun kemudian, ia mendirikan, terjun jadi aktor, penulis naskah, sekaligus sutradara Teater Karang, bersama sastrawan Budi “Ucok” Hutasuhut dan beberapa seniman di sentra pelaku seni legendaris Kota Tapis, Pasar Seni Enggal, Bandarlampung.

Selain dua antologi di atas, Nyiur Melambai mencatat, puisi Heru telah terserak indah di sedikitnya 16 buku antologi puisi, bareng pesohor penyair Tanah Air hingga belahan tenggara Asia. Dari, Negeri Para Penyair, Jejak di Bumi Rafflesia, Mengeja Kitab (Lampung-Banten), Negeri Bahari, Tanah Air Daun, hingga Cemara Cinta.(LS/Muzzamil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top