Ekonomi

Ridho Bachtiar Sukses Memajukan Desa se Lampung

M Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri/GD

LAMPUNG – Beberapa program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan dimasa kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung (non aktif), M Ridho Ficardo – Bachtiar Basri, sukses menorehkan hasil hingga mendapatkan penghargaan di level Nasional.

Salah satunya, Program Gerakan Membangun Desa (Gerbang Desa Saburai/GDS) Provinsi Lampung. Tujuan utama program ini adalah, mengentaskan desa-desa tertinggal di Provinsi Lampung yang jumlahnya ada 380 desa (menurut data BPS).

Program ini relatif baru diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Dari data Dinas PMD Provinsi Lampung, tahun 2015, GDS baru sebatas pilot project di 30 desa, dengan Aaokasi anggaran yang sangat terbatas Rp100juta per desa.

Tahun 2016 ditingkatkan dengan mentreatmen 100 desa tertinggal dengan alokasi Rp300 juta per desa. Dan Tahun 2017 ditingkatkan jangakauannya ke 250 desa tertinggal, tapi dengan Anggaran yang minim Rp240 juta per desa.

Terkait hal itu, Koordinator Program GDS Provinsi Lampung, Ir. Amir Machmud Hasan, mengungkapkan, jika dilihat dari jumlah bantuan keuangan provinsi yang sangat terbatas dan umurnya yang masih baru, sepertinya program ini diragukan akan mampu mengangkat status desa-desa tertinggal di Provinsi Lampung.

“Tetapi kenyataannya, dalam kurun waktu yang singkat, program ini telah berhasil mengangkat 186 desa menjadi Desa Kurang Berkembang, 70 desa menjadi desa berkembang, dan ada 5 desa yang langsung menjadi desa Maju, sementara 119 desa masih tertinggal dan sebagian baru tahun anggaran 2018 ini akan dilakukan treatment,” papar Amir, Jumat (16/3).

Program GDS sendiri menyasar keseluruhan aspek potensi di masing-masing desa. Seperti aspek sosial ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Gubernur Ridho Pimpin Penerbangan Perdana Internasional Lampung-Malaysia

Pada aspek ini, kata Amir, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di desa, perlu digalakkan kegiatan pengolahan hasil produksi pertanian yang ada di desa tersebut atau memanfaatkan sumber daya alam lain untuk diolah. Jika permodalan menjadi kendala, pemerintah perlu memfasilitasi dengan memberikan kredit kepada masyarakat khususnya untuk usaha.

“Terlebih lagi saat ini ada namanya program distribusi pupuk online. Artinya pemerintah terus berupaya memudahkan langkah para petani. Ini pun masuk dalam faktor aspek pengembangan GDS itu sendiri,” ucapnya.

Lanjut Amir, sedikitnya ada dua alasan mengapa program ini begitu berdampak terhadap peningkatan status desa tertinggal

Pertama, program ini menitikberatkan pada masalah-masalah yang ada pada Indeks Kemajuan Desa (IKD), sebagaimana dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung.

“Apa-apa yang dinilai oleh BPS masih kurang dan menyebabkan desa berstatus desa tertinggal itu yang kita treatment,” katanya.

“Ibarat seseorang yang telah divonis oleh dokter ahli mengidap berbagai macam penyakit. Dengan dana yang sedikit kita berupaya mengobati sesuai dengan penyakitnya, maka hasilnya lebih efektif dan efisien,” timpal Amir.

Kedua, program ini juga menitikberatkan pada peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau SKPD dalam turut aktif mengalokasikan berbagai program kedinasan di Lokus Desa Tertinggal.

“Ibarat mengobati berbagai macam penyakit dengan mengerahkan berbagai dokter ahli secara “keroyokan” dan hasilnya cukup efektif untuk mengangkat status desa yang semula tertinggal, naik menjadi desa kurang berkembang, desa berkembang, dan bahkan menjadi desa maju,” jelas dia.

Meskipun desa juga banyak masalah, tapi juga desa punya modal (Anggaran Dana Desa, Alokasi Dana Desa, PAD, dan sebagainya) dan juga punya tenaga (tenaga kerja melimpah). Sementara pemerintah punya sedikit dana bantuan.

Baca Juga:  Nestle Peduli Kesehatan dan Pendidikan

“Program Gerbang Desa Saburai berupaya mensinergikan kedua potensi tersebut, maka hasilnya cukup memuaskan. Dan diharapkan program semacam ini tetap dilanjutkan guna pengembangan desa-desa yang masih tertinggal maupun desa-desa yang masih kurang berkembang,” ungkap Amir.

Terpisah, Taslim, Kepala Desa Dwikora, Kecamatan Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung Utara, mengatakan, dengan pola yang ada di program GDS seperti saat ini, pembangunan di desa akan maksimal.

Ia mencontohkan, dengan dana Rp240 juta dari alokasi program GDS TA 2017 di Desa Dwikora, bisa di bangun satu unit posyandu berukuran 6 x 7,5 M di atas lahan seluas 15×10 meter milik desa berikut satu unit sumur bor dan perlengkapan pendukung posyandunya.

Dalam bidang pertanian juga begitu, ikut membantu irigasi air guna mengalirkan air ke sawah agar menjadi lebih mudah.

“Belum lagi rencana tambahan mesin pompa air tanpa listrik dari pemerintah provinsi yang turut memudahkan para petani. Semakin dipermudah, semakin baik, petani juga lebih semangat dalam bekerja,” ungkapnya.

Selain itu, hal-hal yang menyebabkan pola yang diterapkan GDS ini jadi maksimal diantaranya adalah keterlibatan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawabannya.

Untuk diketahui, beberapa program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan dimasa kempimpinan M Ridho Ficardo – Bachtiar Basri, telah mendapatkan penghargaan di level nasional.

Dihimpun dari Bagian Perencanaan Dinas PMD Provinsi Lampung, beberapa program pemberdayaan masyarakat yang mendapatkan penghargaan tersebut, diantaranya,

Baca Juga:  TDM Gelar Nobar Moto GP France dan Gathering Komunitas Honda

Juara 3 Tingkat Nasional, penghargaan ini diberikan oleh Menteri Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi tahun 2016, kepada Gubernur Lampung yang diwakili oleh Kepala Dinas PMD Lampung. Karena kepedulian Gubernur Lampung dalam membangun desa yaitu dengan program Gerbang Desa Saburai.

Juara 1 Lomba Desa, penghargaan ini di terima Lampung pada tahun 2016, karena keberhasilan Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, dalam Lomba Desa. Seperti diketahui bahwa finalis lomba desa tingkat nasional sudah barang tentu merupakan binaan pemerintah provinsi dengan melibatkan leading sektor atau stake holder terkait.

Juara I Lomba Teknologi Tepat Guna, penghargaan ini diterima Lampung pada tahun 2016, berkat karya Bapak Tukimin dari Posyantekdes Karya Baru Sekampung, Lampung Timur yaitu Alat Pemipil Jagung Berklobat.

Juara BUMDES Berkembang, penghargaan ini di terima oleh Lampung berkat keberhasilan “Bumdes Mandiri Bersatu” Pekon Gisting Bawah, Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus.

Dari empat penghargaan ini, cukup merupakan bukti bahwa ada upaya yang dilakukan oleh Gubernur Lampung yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas PMD Lampung berupa program untuk memberdayakan masyarakat dan di akui di level nasional.(*/DD)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top