Iklan
Pendapat

Rezeki Semanis Madu, Lestari Semakin Dirindu

Iqbal Amiruddin Ihsanu. DOKPRI

Oleh Iqbal Amiruddin Ihsanu

Bakti Rimbawan KPH XIII Lampung, Kader Konservasi Lampung

 

MEMPUNYAI sarang lebah madu di rumah sama seperti mempunyai sebuah “puskesmas mini” yang serbaguna. Tentu saja syaratnya sarang lebah madu ini harus kita perlakukan khusus dengan teknik budidaya yang tepat. Dengan berbudidaya lebah madu kita mempunyai potensi untuk mendapatkan beberapa produk kesehatan alami yang bersumber dari si hewan mungil bersayap ini. Sebut saja beberapa produk seperti madu, propolis, serbuk bee pollen, royal jelly dan juga lilin lebah.  Semua produk yang disebutkan tersebut mempunyai manfaat untuk kesehatan kita dan menjadi sebuah obat herbal alami yang sangat ampuh terhadap beberapa penyakit seperti demam, darah tinggi, kolesterol dan bahkan sebagai penurun gula darah alami. Hal ini dikarenakan dari lebah madu menghasilkan berbagai produk turunan yang mengandung berbagai vitamin dan juga antibiotik alami yang sangat penting untuk kesehatan tubuh kita.

Menurut Firman Jaya dalam bukunya Produk-Produk Lebah Madu dan Hasil Olahannya, sedikitnya ada 5 jenis vitamin dan 3 jenis enzim serta antioksidan yang berfungsi memperbaiki secara alami metabolisme tubuh kita yang sedang terganggu.  Manfaat lebah madu untuk kesehatan manusia pun juga tercantum jelas pada kitab suci Alquran dalam Surat An-Nahl ayat 69 yang artinya: “Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”

 

Lebah madu dapat kita temukan di sekitar lingkungan kita di wilayah sekitar hutan, taman ataupun kebun. Wilayah sekitar hutan atau kebun merupakan tempat yang umumnya lebih bisa banyak ditemukan sarang lebah madu. Hal ini dikarenakan wilayah hutan atau perkebunan adalah tempat yang cocok untuk habitat alami mereka yang memang sangat banyak tersedia makanan untuk para lebah madu. Makanan lebah madu  berasal dari bunga-bunga yang ada di berbagai jenis tanaman atau pohon yang ada di sekitar kita seperti bunga matahari, bunga aster bunga dandelion, kaliandra, durian, kopi, randu dan berbagai jenis lainnya.

Potensi lebah madu yang sangat baik untuk kesehatan tentu saja berbanding lurus dengan potensi bisnis yang bisa dikembangkan. Lebah madu sendiri saat ini sudah ditetapkan sebagai komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang bisa dimanfaatkan sebagai penghasilan bagi para masyarakat penggarap sekitar hutan. 

Berbicara tentang hutan di benak kita pasti langsung tergambar tentang rimbunnya pepohonan dan juga banyaknya kicauan burung serta merdunya suara gemericik air dan juga sejuknya semilir angin yang melintas di sela pepohonan. Namun sayangnya, kondisi saat ini di Provinsi Lampung sudah tidak banyak kondisi hutan alami seperti yang terbayang di benak kita tersebut. Pesatnya pertumbuhan populasi manusia memaksa wilayah hutan pun terjamah untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.  Menurut Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dari 1.004.735 hektare kawasan hutan yang ada di Lampung, sebanyak 53,54 % atau sekitar 535.909 Hektar mengalami kerusakan. Salah satu faktor utama penyebab kerusakan hutan adalah manusia sendiri yang juga di dalamnya termasuk masyarakat sekitar hutan yang berusaha mengais rezeki dengan membuka lahan kawasan hutan dan bercocok tanam disana.

Baca Juga:  Menyoal OTT Krimsus Polda dan Penerapan Pasal Pada Pelaku

Kawasan hutan ini sendiri merupakan hutan negara yang sebenarnya tidak diperbolehkan untuk menggarap dan membuka kawasan hutan tersebut tanpa izin pemerintah. Melihat kondisi dimana terjadi benturan kepentingan ekonomi dan kepentingan pelestarian hutan, pemerintah pun membuat kebijakan Perhutanan Sosial yang melegalkan masyarakat untuk mengelola kawasan hutan dengan menerbitkan surat izin sesuai peraturan yang berlaku. Salah satu anjuran yang diberlakukan adalah menanam jenis tanaman kayu-kayuan yang menghasilkan buah seperti durian, petai, dan jengkol. Selain itu juga pemerintah memberi anjuran untuk melakukan pemanfaatan jenis HHBK yang salah satu diantaranya seperti yang sudah kita bahas di atas yaitu lebah madu.

Saat ini Provinsi Lampung sudah mendapatkan izin perhutanan sosial seluas 202.781,61 Hektar yang mewadahi sekitar 84.940 Kepala Keluarga. Izin perhutanan sosial tersebut terbagi menjadi beberapa skema yaitu Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan Kemitraan. Penentuan skemanya pun telah disesuaikan dengan kondisi dan karakter lingkungan masing-masing. (Data Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Tahun 2018).

Kabupaten Lampung Selatan khususnya di wilayah Gunung Rajabasa termasuk yang mendapat izin perhutanan sosial dengan skema Hutan Desa (HD) seluas 2.015 hektar. Salah satu desa pemegang izinnya adalah Desa Totoharjo di Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan. Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Totoharjo yang diberi tanggung jawab untuk mengelola izin hutan desa seluas ± 161 hektar sejauh ini semakin semangat untuk mengelola hutan dengan menerapkan prinsip kelestarian dan kebermanfaatan. Ketua LPHD Totoharjo, Bapak Sapto mewakili seluruh penggarap yang mendapatkan izin kelola sangat bersyukur mendapatkan izin tersebut. Sebagai wujud rasa syukurnya beliau sudah memulai dan menginisiasi anggota kelompok LPHD untuk melakukan anjuran yang disarankan pemerintah. Mereka secara swadaya telah memulai untuk membuat kotak sarang lebah madu untuk dibudidayakan. Saat ini sudah ada sekitar 50 kotak lebah madu yang telah dibuat berkat arahan dan pelatihan dari pendamping KPH.

Baca Juga:  Mengulas Istilah Agraria dari Pernyataan Prabowo Subianto

Dengan target sedikitnya membuat 200 kotak sarang lebah madu, jenis lebah madu yang akan dibudidayakan adalah jenis Apis cerana yang mempunyai rasa madu yang manis alami serta jenis lebah madu Apis trigona atau biasa juga disebut klanceng yang mempunyai ciri khas rasa madu yang agak asam namun kaya multivitamin yang berdasarkan pengalaman pribadi pun sangat berkhasiat cepat untuk penyembuhan dan pemulihan sakit flu serta demam. Bersama pendamping, LPHD Totoharjo sudah melakukan analisis dari 200 kotak sarang lebah madu tersebut dengan per kotak bisa menghasilkan 500-1000 mL madu paling tidak akan menghasilkan sekitar 80 juta rupiah per tahun atau sekitar 6 juta rupiah per bulan. Jumlah ini hanya hitungan dari penjualan produk madunya saja. Saat inipun dengan 50 kotak yang ada sudah mulai terlihat peningkatan pendapatan masyarakat. Madu yang dihasilkan saat ini berhasil dijual kepada masyarakat sekitar maupun wisatawan dari luar yang memang datang ke Desa Totoharjo.  Kebetulan di desa inipun terdapat lokasi wisata pantai Belebuk yang sudah cukup banyak diketahui dan dikunjungi oleh wisatawan dari luar desa.

Melihat semangat dari petani LPHD tersebut pun membuat pendamping juga semakin bergelora untuk mengembangkan pengelolaan lebah madu ini.  Selain penjualan produk dari lebah madu, banyak hal yang bisa diintegrasikan dengan hal tersebut. Contohnya saja dengan membuat paket wisata edukasi lebah dan membuat “Kampung Lebah Lestari”. Bersama dengan masyarakat ke depan akan membuat sebuah areal khusus agar masyarakat bisa mengenal dan berinteraksi langsung dengan lebah. Areal tersebut diarahkan berada di dalam kawasan hutan yang memang diperuntukkan sebagai zona pemanfaatan untuk lebah madu. Nantinya di areal itu pengunjung bisa merasakan wisata menanam bibit pohon, wisata panen madu serta merasakan nikmatnya menghirup cairan madu langsung dari sarangnya. Ataupun bisa juga memicu adrenalin dengan merasakan terapi sengat lebah yang bisa bermanfaat untuk penyembuhan penyakit rematik dan berbagai jenis penyakit lainnya.

Baca Juga:  Gerakan Agraria dan Politik

Selain itu, areal pakan lebah yang berupa kebun bunga juga bisa dijadikan sebagai taman untuk berwisata keluarga ataupun pre wedding. Spot taman bunga matahari contohnya, bisa sangat digemari untuk anak muda millenials yang saat ini selalu hunting spot selfie yang kekinian dan instagramable. Bahkan rencananya akan dibuat setiap halaman rumah warga dan pinggir jalan utama untuk ditanami bunga matahari sehingga menimbulkan kesan pertama yang akan selalu membekas di hati para pengunjung ketika memasuki gerbang masuk Desa Totoharjo. Dengan semua kolaborasi di atas bisa semakin meningkatkan perekonomian tidak hanya anggota LPHD namun juga seluruh warga di desa tersebut.  Masyarakat bisa direkrut sebagai pengelola wisata ataupun bisa juga menjual makanan-makanan khas olahan sendiri dan bahkan bisa pula menyediakan homestay untuk pengunjung dengan harga yang terjangkau namun service yang memuaskan.

Akhirnya dengan semua kolaborasi di atas nantinya akan tercipta sebuah usaha yang tetap memegang teguh pelestarian alam dan hutan (sebagai sumber pakan lebah madu) namun juga membantu peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat dengan konsep wisata “Kampung Lebah Lestari”. Semakin banyak dan sering kita melakukan interaksi dan komunikasi yang baik dengan lingkungan hidup di sekitar kita semakin besar pula tingkat kecintaan kita terhadap alam dan lingkungan hidup serta semakin tinggi juga tingkat keimanan kita terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta ini. Jika kita menjaga alam di sekitar kita, niscaya alam pun juga akan menjaga kita semua.

Salam lestari! []

 

  • Pemenang I Lomba Rimbawan Menulis Opini 2019 yang diselenggarakan Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Lampung

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top