Iklan
Daerah

Rekomendasi Bravo-5 Lampung untuk Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Tsunami Gunung Anak Krakatau (GAK)

Gunung Anak Krakatau/Net

BANDAR LAMPUNG – Konsistensi dan kedisiplinan dalam menjalankan tahapan kesiapsiagaan darurat bencana tsunami jadi wajib hukumnya, merespons peningkatan status  Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, dari level II Waspada jadi level IIi Siaga terhitung 27 Desember 2018 pukul 06.00 WIB, berdasar hasil pantauan dan analisis data visual serta instrumental hingga pukul 05.00 WIB.

Dimana terungkap, seismiknya terus naik disertai meningginya intensitas letusan, sebagaimana rilis Sekretaris Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Kemen-ESDM), Antonius Ratdomopurbo, di Jakarta, Kamis (27/12).

Disiplin tingkat tinggi, kesabaran ‘tingkat dewa’ dan kekompakan sumber daya penanggulangan dampak bencana tsunami GAK di seluruh jenjang satuan tugas jadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

Mengingat, sejalan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebut sukses aksi penanggulangan bencana tsunami GAK dan ragam dampaknya akan mampu menyelamatkan sedikitnya 3,8 juta jiwa warga pesisir sekelilingnya.

Demikian dikatakan Ketua Bravo-5 Lampung Andi Desfiandi dalam keterangan persnya di Bandar Lampung, Kamis siang.

Doktor ekonomi jebolan Unpad yang bersama sejawatnya di jejaring relawan pemenangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin di Lampung, Relawan Siger Bersatu (RSB-01) menginisiasi penggalangan-distribusi bantuan korban tsunami dengan pendirian Posko Kemanusiaan Darmapala Peduli itu, mengapresiasi positif capaian kerja tanggap darurat bencana seluruh pihak.

Baca Juga:  Masyarakat Tulangbawang Diajak Manfaatkan Lahan Tidur

“Laporan koordinator tim posko kami, Muzzamil, juga assesment pengarah posko, Ary Meizari Alfian, terhadap dinamika situasi lapangan sampai Rabu (26/12) pukul 23.55 WIB, Alhamdulillah ya, kerja-kerja penanggulangan bencana oleh instrumen negara, swadaya relawan dan donatur, serta swadiri warga terdampak-terpapar akibat bencana tsunami GAK Selat Sunda di wilayah Lampung Selatan (Lamsel), Kota Bandarlampung, dan Tanggamus, dapat kami simpulkan luar biasa. Lampung tanggap, Lampung hebat,” kata Andi.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya merekomendasikan sejumlah langkah terpadu kesiapsiagaan tanggap darurat bencana tsunami akibat erupsi GAK di area terdampak dan terpapar pascatsunami di Lampung.

Pertama, pemajuan langkah penetapan percepatan distribusi bantuan logistik dan obat-obatan bagi seluruh korban luka seluruh kategori, warga pengungsi di wilayah terdampak terparah dan warga masyarakat terpapar khususnya di Lampung Selatan.

“Kami mengusulkan Pemkab Lamsel mempertimbangkan desentralisasi fungsional kerja-kerja tanggap darurat dengan memutus rentang kendali jalur koordinasi teknis jadi empat titik berdasar bentang alamnya,” jelas Andi.

Yakni, titik induk kantor Pemkab dan Rumdin Bupati Lamsel, titik Kecamatan Bakauheni, titik Kecamatan Rajabasa, dan titik Kecamatan Kalianda.

Dengan tidak menegasikan skema distribusi berjalan, penambahan titik di lokasi teraman, aksesibilitas terjaga dan tanpa menimbulkan problem baru, diharapkan mampu meng-cover bentang kendala teknis dan nonteknis penanggulangan bencana di lapangan.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Gelar Pasar Murah di Tiga Titik

“Kedua, Bravo-5 Lampung meminta Pemprov Lampung, Pemkab Lamsel dan Pemkot Bandarlampung proaktif mengajukan proposal assesment anggaran taktis penambahan peralatan teknologi penanggulangan, sesuai nomenklatur, atau usulan penambahan titik lokasi penempatannya di masing-masing wilayah dengan koordinasi BNPB, Kementerian Sosial, dan Kementerian Keuangan,” imbuhnya.

Ketiga, imbuh Ketua Yayasan Alfian Husin ini lagi, Bravo-5 Lampung mendorong pemajuan kesiapsiagaan tanggap darurat bencana swadiri oleh warga masyarakat yang sejauh ini telah mewujud jadi gerakan kolektif sadar bencana, atau sahabat bencana.

Yakni, mendorongnya lebih masif ke warga di area terpapar sebagai fungsi deteksi dini (preventif) sebagai buffer warga di wilayah terdampak langsung (pesisir) guna memperkecil risiko dampak bencana pascatsunami.

“Konkritnya, melalui pemanfaatan ragam aplikasi teknologi digital pencegahan dari banyak sumber yang bisa bebas unduh di ponsel Android dan AppStore, seperti Info BMKG, MAGMA Indonesia, detektor suara, aplikasi penunjuk jalan, aplikasi alarm, dan banyak lagi. Ini tak boleh dianggap sepele, karena nyata terbukti amat membantu,” papar Andi.

Terakhir, Ketua Dewan Pembina Yayasan Desapolitan Indonesia (Desindo) itu meminta BNPB, Kemsos, BMKG, PVMBG Kemen-ESDM, TNI, Polri, Basarnas, jejaring BUMN Karya, BUMN Telekomunikasi dan Kelistrikan, Pemprov Lampung dan Banten, Pemkab Lamsel, Pemkot Bandarlampung, Pemkab Tanggamus di Lampung, juga Pemkot Serang, Pemkot Cilegon, Pemkab Pandeglang, dan Serang, di Banten, bahu-membahu bersama Forkopimda dan rakyat Lampung-Banten.

Baca Juga:  Serba-Serbi Nobar Debat Semalam (1)

Disamping, mengenal lebih detail jalur evakuasi bencana termasuk pengungsi, juga menjadikan ini momen pengingat guna menjadikan peta kawasan rawan bencana (KRB) erupsi GAK Selat Sunda dan respons kurikulum pendidikan kebencanaan atas bentang alam ALKI sebagai jalur ring of fire, sebagai bagian wajib penatalaksanaan perencanaan pembangunan wilayah dengan infrastruktur ramah bencana.

“Benar kata Pak Basuki (Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Red), memang berat bagi warga pesisir meninggalkan kampung halaman bagi yang diusulkan wajib direlokasi ke tempat tinggal baru yang lebih aman, tetapi tetap harus jadi pertimbangan bersama. Sekali lagi, duka cita kami untuk seluruh keluarga korban jiwa, tetap semangat seluruh warga pengungsi dan seluruh relawan kemanusiaan yang standby di lapangan. Allah tidak tidur,” tutup Andi di akhir keterangan persnya.(LS/MZl)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top