Pendapat

PWI & Marahnya Walikota Bandar Lampung

Oleh : Rakhmat Husein DC

Staf Ahli Wali Kota Bandarlampung Herman HN

SUASANA di dunia pers Lampung sepertinya kurang sehat. Harus ada pergantian ketua PWI.

Beberapa media dan ketua PWI bersemangat sekali ketika Walikota Bandarlampung tersulut emosi hasil cipta karya seorang jurnalis ketika wawancara di gedung dewan hari ini, Senin (9/11).

Lantas mengapa walikota tiba-tiba emosi dan marah?

Mari kita cermati seperti video yang di rekam awak media. Dalam video itu bisa dilihat, awalnya proses wawancara dengan beberapa jurnalis itu berjalan lancar sampai kemudian jurnalis Lampung TV yang siaran di YouTube bertanya soal pertanggungjawaban kepala Bappeda yang diduga berkampanye untuk paslon walikota.

Pertanyaan itu dijawab dengan santai oleh Herman HN. Rupanya si jurnalis penasaran kenapa Herman HN belum emosi juga, terus diulang lagi bertanya soal itu.

Dijawab lagi oleh Herman HN, bahwa masalah itu sudah ditangani oleh Bawaslu dan Inspektorat.

Baca Juga:  Struktur Jabatan Bakal Dirubah, Yusuf Kohar : Udah Sesuai Aturan

Saya kira, itu memang jawaban yang benar karena persoalan ASN yang diduga tidak netral memang harus diperiksa Bawaslu dan Inspektorat. Soal sanksi, ya kedua lembaga itu yang memvonis atau merekomendasikan sanksinya.

Masih kurang puas juga si wartawan yang bertanya lalu pertanyaan dialihkan menyerang seperti seorang yang sedang menginterogasi dengan menyangkutpautkan masalah itu dengan hal lain.

Karena berulang ulang, akhirnya wawancara itu sukses menyulut emosi sang walikota. Herman HN marah dan katakan akan memecahkan kepala meskipun sampai hari ini belum ada juga kepala yang di pecahin.

Tentu saja, saya tidak menutupi bahwa Pak Herman HN terpancing emosinya. Tapi selain itu, saya kira ada “motivasi lain” dari diulangnya pertanyaan itu oleh wartawan Lampung TV.

Hal yang sama seperti ketika Harian Momentum yang sudah hampir setahun ini membabi buta menyerang Walikota Herman HN dan Pemerintah Kota Bandar Lampung.

Sayang memang kebablasannya Harian Momentum tersebut tidak dikritisi oleh tokoh pers di Lampung.

Baca Juga:  PWI Lampung Bentuk Masyarakat dan Pers Pemantau Pemilu

Ada baiknya, PWI juga memeriksa kapasitas, kapabilitas, akuntabilitas, dan netralitas media dan jurnalis apalagi di masa-masa kampanye seperti ini.

Sebagai pembaca, saya dan warga lain juga bisa dan berhak menilai bahwa beberapa media di Lampung khususnya di Bandarlampung cinderung sudah tidak netral lagi.

Fungsinya bukan memberitakan segala informasi tapi cukup memberitakan sesuatu yang buruk saja dengan target menyerang, tentu media seperti ini kapasitasnya sudah level media dewa, tidak ada yang bagus dan benar kecuali mereka yang bagus dan benar.

Kondisi ini bisa jadi juga dikarenakan ketua PWI-nya saya duga terlalu terjebak dalam pilihan politik tertentu.

Semua tahu, Ketua PWI Lampung, pernah menjadi timses pada saat Pilgub dan terdaftar juga sebagai caleg Partai Golkar.

Kuat dugaan saya, bapak Supriyadi Alfian sudah terlibat jauh dalam semua urusan politik, sehingga menjebak jiwa dan kecerdasannya dikarenakan terlibat pilihan politik dan jika sudah demikian tentu saja tidak akan mampu berpikir dan bertindak obyektif atas nama media yang jujur dan independen.

Baca Juga:  Pemprov Lampung Dukung PWI Tingkatkan Kompetensi Wartawan Melalui UKW

Sudah saatnya PWI berbenah, sama-sama kita mengevaluasi diri. Tidak berlebihan jika saya juga harus sebut PWI Lampung butuh dengan penyegaran organisasi.

Agar kedepan, ketua PWI diisi oleh orang media yang mampu berdiri tegak independen dan jauh dari kepentingan politik dan tentu juga mampu tahan dari godaan.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top