Daerah

Potensi Pertanian Belum Maksimal, Tokoh Pemuda ini Maju Sebagai Kades

Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi pertanian, Desa Somongari, Kaligesing, Purworejo/Istimewa

PURWOREJO  – Belum maksimalnya pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi pertanian, mendorong tokoh pemuda dari Desa Somongari, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, Santoso Widodo, untuk maju sebagai calon kepala desa (kades) pada 31 Januari mendatang.

Desa Somongari memiliki luas seluruhnya 813.800 Ha berupa tanah perbukitan atau pegunungan yang dilalui dua sungai yaitu sungai dari desa Jatirejo dan sungai dari curuk Silangit yang bertemu jadi satu di Dusun Kranjan yang akhirnya mengalir ke Sungai Bogowonto.

Sehingga, desa ini memiliki tanah yang subur untuk meningkatkan sektor perkebunan sebagai penghasil buah-buahan tanam lindung, rempah-rempah maupun tanaman obat.

Selain itu, Desa ini juga dianugerahi destinasi wisata air terjun. Kendati demikian, kata Santoso, kekayaan alam tersebut belum dikelola secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat.

Baca Juga:  Menjalin Mimpi di Lingkar Selatan, SMK Bharasa Purworejo Makin Berjaya Dengan Karya

“Ini yang mendorong saya pulang dari rantauan melihat lambatnya pertumbuhan ekonomi di desa. Karena melihat kondisi desa dengan belum adanya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola secara maksimal kekayaan alam tersebut,” kata Santoso, Selasa (8/1).

Oleh karena itu, jika dirinya terpilih sebagai kepala desa di tanah kelahiran WR. Supratman tersebut, ada beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mewujudkan semua itu.

Pertama, adanya pembangunan pemberdayaan SDM untuk menjaga, mengelola dan mengembangkan kekayaan alam demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Ia mencontohkan, untuk sektor pariwisata, belum terpikirkannya oleh masyarakat setempat untuk berwirausaha di bidang kuliner.

Sehingga, saat ini, para pengunjung  hanya bisa menikmati keindahan panorama alam dan air terjun saja. Padahal dengan adanya destinasi wisata itu, warga desa bisa saja memanfaatkan untuk menyalurkan hobi memasak, membuat kerajinan tangan untuk oleh-oleh atau sebagainya untuk dijual ke pengunjung.

Baca Juga:  Pemkab Lampura Dukung Kegiatan Bonsaivaganza 2019,

“Dengan begitu, kedepan tentunya perekonomian warga akan meningkat. Karena selain menikmati keindahan panorama alam, para pengunjung juga akan dimanjakan dengan kulinernya ataupun hasil pertaniannya yang merupakan ciri khas dari desa kami, sebagai penghasil buah manggis dan durian,” ungkapnya.

Langkah itu juga, kata dia, untuk memutuskan monopoli penjualan ke tengkulak besar, kedepan, sistim kemandirian di setiap kampung akan terbentuk.

“Saat ini masyarakat masih kebingungan untuk menjual hasil pertaniannya. Sehingga mengharuskan warga untuk menjualnya ke para tengkulak,  dengan harga yang telah ditentukan tengkulak,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga tengah membentuk forum warga di kampung Beji untuk membangun ekonomi secara kemandirian dengan memanfaatkn potensi SDA secara maksimal.

Di kampung itu, para warga telah sepakat untuk membangkitkan kembali kejayaan sebagai penghasil surplus kopi seperti 40 tahun lalu.

Baca Juga:  Jelang Pilkada dan Pilkakam 2020, Kapolres Way Kanan ajak Insan Pers Ikut Ciptakan Kondisi Kondusif

Oleh karena itu, kampung Beji yang memiliki 28 kepala keluarga (KK) telah sepakat mencanangkan agar setiap warga menanam 100 pohon kopi dan dikelola secara bersama-sama.

“Pelan-pelan kemandirian itu bisa kita lakukan secara bersama-sama, mulai penanaman hingga mencari pembeli. Jika kemarin hasil kopi kami hampir punah, mengingat adanya permainan harga yang serendah-rendahnya oleh tengkulak sehingga  ada penebangan kopi secara besar – besaran. Tetapi, hari ini kami akan mengembalikan kejayaan itu,” pungkasnya.(LS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top