Iklan
Pendapat

Potensi Ekosistem Esensial Hutan Mangrove Margasari

Irhamuddin. DOKPRI

Oleh Irhamuddin

Rimbawan

 

HUTAN mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya di sepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung. Keberadaan hutan mangrove sangat penting bagi kehidupan. Selain sebagai penyerapan polutan, juga melindungi pantai dari abrasi, meredam ombak, serta menahan sedimen. Selainitu, hutan mangrove jugadapatmeredam air pasang yang mengakibatkanbanjirdansebagaitempatberkembangbiaknya biota laut.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki areal lahan basah terbesar di Asia dengan luas sekitar 40 juta hektar atau 20% dari luas daratannya. Dari luas lahan basah tersebut, 256 lokasi telah teridentifikasi dengan baik dan telah ditetapkan atau telah diusulkan sebagai kawasan konservasi. Masih banyak potensi lahan basah yang masih memerlukan upaya identifikasi dan inventarisasi untuk dapat dikelola secara lestari sehingga dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. Salah satunya adalah hutan mangrove di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.

Ekosistem esensial lahan basah adalah ekosistem lahan basah yang memiliki keunikan dan/atau fungsi penting dari habitat dan/atau jenis atau mempunyai populasi spesies burung air dan ikan tinggi. Lahan basah memiliki nilai ekonomi yang sangat penting bagi penduduk yang tinggal di sekitarnya, yaitu melalui produksi sumber daya alam hayati seperti ikan, padi, tanaman obat, kayu hutan, serta sebagai sarana transportasi. Dari aspek ekologi, lahan basah berfungsi sebagai pelestari system tata air sehingga dapat mencegah banjir, erosi, dan intrusi air laut, pencemaran, serta berperan sebagai pengendali iklim global, serta sebagai habitat flora dan fauna yang penting bagi kekayaan keanekaragaman plasma nutfah dunia.

Baca Juga:  Darurat Politik Uang, KAMMI Lampung Angkat “Kartu Merah Bawaslu”

Selain itu, ekosistem lahan basah juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sarana wisata alam. Salah satu jenis ekosistem lahan basah adalah hutan mangrove. Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Timur sejak 3 tahun terahir ini sangat mendukung kegiatan wisata mangrove di desa Margasari. Beberapa fasilitas fisik telah dibangun oleh Pemda Lampung Timur dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat memalui bisnis jasa wisata alam hutan mangrove.

Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte atau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin. Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu famili tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove. Ekosistem hutan mangrove sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah flora yang bersifat halophite. Sementara fauna ekosistem hutan mangrove juga sangat beragam, mulai dari hewan-hewan vertebrata seperti berbagai jenis ikan, burung, hewan amphibia, ular sampai berbagai jenis hewan invertebrate seperti insects, crustacea (udang-udangan), moluska (siput, keong, danlain-lain), dan hewan invertebrate lainnya sepert icacing, anemone dan koral.

 

Potensi dan Sejarah

Dari hasil identifikasi lahan basah yang terdapat di Desa Margasari Kecamatan Labuan Ratu Kabupaten Lampung Timur yang dilakukan oleh Tim Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Bengkulu pada tahun 2017 berupa ekosistem hutan mangrove yang merupakan hutan lahan milik desa. Luas kawasan hutan yang tertera di Profil Desa Margasari adalah seluas 700 hektar. Tetapi dari hasil pengukuran tim pelaksana kegiatan dengan menggunakan satelit luas kawasan hutan mangrove bervegetasi dengan tegakan yang sudah dewasa yang terdapat di Desa Margasari adalah sekitar 159,333 hektare, dimana 153,518 ha didominasi pohon jenis avicenia dan 5,815 ha jenis rhizopora.

Baca Juga:  Peduli Kota, Peduli Peradaban

Tahun-tahun sebelumnya hutan mangrove di Desa Margasari masih sangat jarang dan hanya berjarak 150 meter dari laut. Kemudian pada tahun 1994-2001 terjadi abrasi besar-besaran, tambak-tambak milik perorangan/masyarakat habis rata dengan tanah. Sehingga pada masa pemerintahan Kepala Desa (Alm) Sukimin, dia meminta kepada Ketua RT pada masa itu,  Subag untuk bersama-sama menggerakkan masyarakat sebanyak50 orang untuk menanam mangrove. Dan pada tahun 1997 ada kegiatan penanaman yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi. Kegiatan rutin yang masih berkelanjutan adalah penyelamatan hutan mangrove.

Padatahun 2004 atas inisiatif dari masyarakat, Kepala DesaMargasari (alm) Sukimin menyerahkan hutan mangrove kepada Universitas Lampung sebagai hutan pendidikan. Selanjutnya pada tahun 2005 dibentuk pengajuan berupa persetujaan penyerahan hutan mangrove seluas 700 ha kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Setelah semua proses administrasi selesai, dilakukan serah terima izin lokasi kepadaUniversitas Lampung dari Bupati Lampung Timur melalui Surat Keputusan Bupati Lampung Timur No. B. 303/22/SK/2005 pada tanggal 23 Desember 2005 tentang Penetapan Lokasi untuk Pengelolaan Hutan Mangrove dalam Rangka Pendidikan, Pelestarian Lingkungan, dan Pemberdayaan Masyarakat seluas 700 ha di Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai yang dilaksanakan pada tanggal 25 Januaritahun 2006.

 

TantanganMasaDepan

 

Sejatinya, lahan basah memang merupakan salah satu ekosistem yang produktif dalam mendukung kehidupan manusia. Secara ekologi ia memiliki kandungan keragaman hayati yang kaya, sementara dari tinjauan ekonomi lahan basah merupakan sumber makanan, perikanan, energi, hingga pendukung pertanian.

Baca Juga:  PDI Perjuangan: Lampung Terjadi Politik Uang Secara Terstruktur, Sistematis, Masif

Karena itu, melindungi fungsi alami lahan basah sama hakikatnya dengan melindungi mata pencaharian masyarakat. Lahan basah yang sehat pastinya akan menyediakan berbagai sumber daya alam yang dibutuhkan. Sebaliknya, lahan basah yang rusak akan sangat mengurangi kesempatan masyarakat untuk memperoleh manfaat dari sumber daya basah ini.

Namun, pada kenyataannya, kegiatan yang bertujuan untuk perbaikan kondisi mangrove yang berdampak langsung untuk masyarakat ini, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masih saja ada, pihak yang terus menggunakan jalan pintas untuk memperoleh keuntungan sesaat. Tegakan mangrove yang telah tumbuh dengan baik di beberapa tempat justru ditebang kembali untuk pembukaan tambak, atau pengembangan wilayah industry dan permukiman.

Inilah pekerjaan besar kita untuk meyakinkan masyarakat dan semua pihak bahwa mata pencaharian yang berkelanjutan di lahan basah itu harus dimulai dari sikap manusia dulu dengan memperlakukan alam secara bijaksana. Dengan memperlakukan alam secara baik maka kebaikan pula yang akan diberikan oleh alam. Kebaikan berupa jasa lingkungan yang berkelanjutan, baik dalam bentuk sumber daya yang bisa dimanfaatkan maupun dalam bentuk perlindungan wilayah lahan basah yang menjadi tempat aktivitas masyarakat. []

  • Pemenang II Lomba Rimbawan Menulis Opini 2019 yang diselenggarakan Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Lampung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top