Daerah

Populasi Harimau Sumatera Kritis

Tanda tangan komitmen bersama upaya pelestarian Harimau Sumatera, di Bumi Perkemahan TNBBS Kubu Perahu/FB

LAMPUNG BARAT – Pemerintah Kabupten Lampung Barat, peringati Global Tiger Day, yang dibuka oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Sudarto, di Bumi Perkemahan TNBBS Kubu Perahu, Senin (29/7).

Kegiatan diisi dengan lomba jungle tracking dan dilanjutkan diskusi serta tanda tangan komitmen bersama upaya pelestarian Harimau Sumatera.

Sudarto menjelaskan, peringatan Hari Harimau Sedunia, merupakan peringatan tahunan yang diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi harimau.

“Seluruh masyarakat wajib menyelamatkan Harimau Sumatera. Marilah ikut serta dalam rangkaian peringatan Hari Harimau Sedunia 2019, sebagai dukungan dan kepedulian kita terhadap kelestarian satwa,” ujarnya.

Kemudian, pemerintah daerah juga memberikan apresiasi terhadap TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) berkat terselenggaranya Global Tiger Day.

“Kegiatan ini sejalan dengan program pemerintah, yaitu kabupaten konservasi. Sehingga kita harus memiliki komitmen bersama untuk menjaga flora dan fauna yang ada di TNBBS ini agar tidak punah,” harap Sudarto.

Peringatan ini juga adalah sebagai kegiatan memastikan harimau mendapat perlindungan yang layak dan habitatnya semakin luas.

Hal ini hanya bisa terwujud jika semua menyadari pentingnya konservasi harimau.

Baca Juga:  TMMD Sengkuyung Tahap III di Desa Wirun Resmi Dibuka

“Populasi harimau terus menurun akibat berbagai faktor diantaranya adalah akibat dampak perubahan iklim, perburuan liar dan urbanisasi,” jelasnya lagi.

Diketahui, sejak tahun 2013, berdasarkan hasil patroli tim Balai Besar TNBBS, bersama para mitra TNBBS yang telah menjelajah sekitar 36 ribu kilometer di kawasan taman nasional, telah ditemukan sekitar 105 alat jeratan harimau dan mamalia besar.

Selain itu, BB-TNBBS juga mencatat sejak tahun 2008 hingga Juni 2019, ada sekitar 225 kasus penanganan konflik manusia dan harimau yang telah ditangani, dan hingga kini hal tersebut masih menjadi fokus BB-TNBBS beserta jajaran untuk terus berkomitmen meningkatkan populasi harimau seperti yang telah dicanangkan pemerintah pusat.

Terpisah, Kabid Taman Nasional Wilayah II, Amri, menjelaskan, berdasarkan hasil survey di site monitoring TNBBS, tren populasi Harimau Sumatera terus meningkat dari tahun 2014 sampai 2018, dengan estimasi jumlah populasi pada tahun 2014 ada sebanyak 28 individu, tahun 2015 bertambah menjadi 32 individu, tahun 2016 sebanyak 37 individu.

“Jumlahnya terus meningkat sejak tahun 2014. Namun, terhitung sejak tahun 2017 hingga 2018 populasinya tetap yakni berjumlah 40 individu. Kami terus melakukan upaya-upaya sebagai bentuk komitmen dalam rencana peningkatan populasi harimau yang telah dicanangkan pemerintah,” terang Amri.

Baca Juga:  Pelatihan Advokasi Mendorong Upaya Konservasi Harimau Sumatera

Sementara, Regional Coordinator Sumatran Tiger Project GEF-UNDP, Nani, mengaku bahwa masih ditemukan berbagai ancaman terhadap keberadaan Harimau Sumatera di kawasan TNBBS.

Seperti adanya aktivitas perburuan dan perdagangan satwa ilegal, perambahan, pembalakan liar, serta konflik dengan manusia akibat berkurangnya habitat dan jumlah satwa mangsa.

“Seperti halnya kejadian harimau yang terkena jerat di Suoh pada pada Juni 2019 lalu, kami berharap ini merupakan peristiwa terakhir. Untuk itu diperlukan operasi sapu jerat secara intensif dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar terkait perlindungan kawasan, satwa dan tumbuhan yang dilindungi, serta prosedur penggunaan senjata api, penting dilakukan dalam rangka membangun kesadaran dan mengajak masyarakat untuk turut menjaga kawasan hutan dari ancaman kerusakan,” imbuhnya.

Dilain pihak, BBS Landscape Manager, WCS-IP, Firdaus Afandi, menjelaskan, menurut data lembaga konservasi dunia, International Union For Conservation of Nature (IUCN), jumlah Harimau Sumatera hanya berkisar 400-600 ekor.

“Perburuan yang bisa merusak ini bukan hanya terhadap harimau saja, akan tapi juga perburuan terhadap satwa mangsanya seperti rusa dan babi hutan. Penggunaan jerat juga sangat berbahaya karena sifatnya tidak pandang bulu,”

Baca Juga:  Kementerian LHK Tinjau Tanaman Kopi hingga Pemukiman Penduduk di Lambar

“Satwa apapun bisa terjerat, dan sudah terbukti dapat mengakibatkan kepunahan megafauna di daratan Asia. Di Indonesia sendiri, harimau sumatera dilindungi dalam Undang-Undang No. 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya,” tegas Firdaus.

Lebih lanjut, Firdaus mengatakan, Harimau Sumatera merupakan subspesies terakhir yang tersisa di Indonesia setelah punahnya Harimau Bali dan Harimau Jawa. Sehingga tentu pihaknya tidak ingin kehilangan lagi satwa kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut

“Sebagai generasi penerus, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk berkontribusi melestarikan harimau sumatera. Hal ini bisa dimulai dari aksi kecil namun berdampak besar seperti ikut serta menyebarkan informasi pentingnya keberadaan harimau sumatera di ekosistemnya,” harapnya.(FB)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top