Iklan
Politik

Politik Uang, SGC Injak Harga Diri Lampung

Posko Demokrasi yang didirikan oleh masyarakat Lampung, guna menerima aduan politk uang pada pilgub 27 Juni lalu/WA

BANDAR LAMPUNG – Demi mengembalikan peradaban kebudayaan masyarakat Provinsi Lampung, yang sudah dihancurkan oleh Cukong politik uang. Posko Demokrasi akan mengelar Prosesi Ruwatan di Bumi Lado, pada Senin (2/7).

“Politik uang  yang terjadi di Pilgub Lampung telah menghancurkan peradaban Kebudayaan Lampung. Yang tercatuk pada Piil Pesenggiri,” kata Penanggung Jawab Posko Demokrasi, Abdul Rahman, di posko Demokrasi di Bundaran Gajah, Minggu (1/7).

Menurtnya, Piil Pesenggiri diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut harga diri, perilaku dan sikap yang dapat menjaga dan menegakkan nama baik dan martabat secara pribadi maupun secara berkelompok senantiasa dipertahankan.

Baca Juga:  Rakyat Nantikan Paripurna, Pansus Pilgub Lampung Harus Clean & Clear

Dalam hal-hal tertentu seseorang (Lampung) dapat mempertaruhkan apa saja termasuk nyawanya demi untuk mempertahankan piill pesenggiri tersebut.

“Harga diri masyarakat Lampung tidak bisa dibeli. Namun faktanya dalam pilgub lalu, suara masyarakat dihargai hanya dengan uang 50 hingga Rp100 ribu. Tindakan ini telah membuat tokoh adat Lampung geram, dan siap melakukan aksi untuk menyelamatkan Lampung dari cengkraman cukong,” kata dia.

Ia mendesak kapolri untuk mengungkap dan tangkap cukong politik uang. Sebab jika ini dibiarkan bisa berdampak sara.

“Jika ini terus dibiarkan. Ditakutkan masyarakat akan menggeruduk SGC, karena telah diduga menjadi aktor di balik politik uang yang terjadi di Lampung,” katanya.

Sementara kordinator posko, Rismayanti Borthon menjelaskan pemilu adalah momentum sakral yang tidak hanya Memilih pemimpin, tetapi juga solusi dari setumpuk persoalan rakyat.

Baca Juga:  Kinerja Bawaslu Amatir, Mingrum : Kurang Cakap Dapat Dihilangkan, Tidak Jujur Sulit Diperbaiki

“Tabiat-tabiat amoral dari aktivitas politik itu tidak bisa dan tidak boleh’ dimaklumkan dengan ungkapan-ungkapan wajar, namanya juga politik. Ungkapan trsebut sama saja ekpresi mengaminkan tindakan bejat yang semakin menciderai demokrasi. Terlepas itu politik atau bukan, ketika memang salah dan melanggar etika-etika dan moralitas, maka bukan kata ‘Wajar’ yang harus diucapkan, melainkan ‘Lawan!’,” kata dia.

Ia menjelaskan politik uang yang terjadi dalam realitas Pilgub Lampung hari ini adalah cerminan, betapa etika-etika politik sudah dikangkangi, demokrasi hanya sekedar lelucon dan syahwat berkuasa sudah menghalalkan berbagai cara.

“Jika Oknum2 politisi sendiri tidak mampu mencitrakan kondisi politik yang harmonis, manusiawi dan bermoral lalu pada siapa hal-hal tersebut kita sandarkan,” kata dia.(BW)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top