Pendapat

Pertanian Kita Kelak?

Oleh: Iwan Nurdin

Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria

WAJAH desa dan pertanian kita tak beranjak banyak. Setidaknya tidak bergerak sebanyak harapan yang diletakkan. Dalam lima tahun terakhir, pemerintah memang gencar membangun waduk dan embung, subsidi benih dan pupuk untuk mendorong produksi pertanian pangan bergerak. Namun, tokh kita masih mengimpor pangan khususnya beras, kedelai, buah-buahan, gula, garam dan daging. Juga, tentu saja gandum, sebab tak bisa ditanam secara produktif di tanah air kita. Petani kita masih berisi lautan petani gurem alias bertanah sempit, dan jutaan buruh tani yang tertinggal dari sisi teknologi dan modal. Secara umum dari hulu hingga hilir, dari soal lahan garapan, proses produksi hingga pasar, wajah yang digambarkan puluhan tahun lalu belum berubah banyak.

Baca Juga:  Pokok Masalah Atas Rancangan Undang Undang Pertanahan

Jika pertanian rumah tangga semakin terpuruk dan membuat regenerasi petani terhambat. Bagaimana dengan perusahaan agrobisnis? Mereka tumbuh pesat, apalagi perusahaan perkebunan, bisa dikatakan kelompok ini semakin memonopoli tanah dan masih akan diperbesar porsinya ke depan.

Persoalan buruh tani dan petani gurem kita, oleh Prof. Sajogyo (IPB) pernah diusulkan ditransformasikan ke dalam institusi “agrobisnis” bernama Badan Usaha Buruh Tani. Ide ini tak pernah benar benar diwujudkan.

Ide lebih muda oleh Agus Pakpahan, juga dari IPB, yang menawarkan formula institusi ekonomi bernama Badan Usaha Milik Petani melalui praktik konsolidasi lahan, konsolidasi usaha, dan integratif farming. Ide ini juga tak ada kaki.

Ide lain untuk menaikkan produksi pangan pernah diulas oleh Prof. Mubyarto yang mengusulkan formula harga beras yang menguntungkan petani agar mendorong petani (push factor) bersungguh-sungguh menanam padi dan memiliki kemampuan melakukan reinvestasi. Memang, menaikkan daya beli populasi terbesar yakni petani pangan dengan membeli harga pertanian mereka secara baik akan membawa keuntungan lainnya yakni membuka perluasan pasar domestik yang lebih luas. Ceruk pasar yang besar akan menguntungkan industri nasional dan UMKM yang tumbuh.

Baca Juga:  Lahan PT SGC di 7 Kampung Kabupaten Tulangbawang Tumpang Tindih

Secara regulasi ada beberapa yang diupayakan untuk melindungi dan memberdayakan petani, nelayan dan petambak garam. Melindungi lahan pertanian pangan dari konversi lahan. Regulasi tersebut lemah dari sisi pelaksanaan. Bersanding dengan hal tersebut terdapat regulasi yang lemah dari sisi melindungi petani dari liberalisasi pasar pertanian.

Pada akhirnya program pembangunan pertanian kita, dengan beragam ide tersebut, yang menyedihkan oleh birokrat diterjemahkan ke dalam proyek anggaran bukan untuk menguatkan si petani. Tapi memperkuat pelaksana proyek atas nama petani dan pertanian. Berita buruk petani dan pertanian adalah lahan subur bagi proyek anggaran semacam ini berulang dan membesar.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top