Panggung

Perempuan Pejuang Literasi di Pelosok Desa Purworejo

Tria Nufita Ayuni/Istimewa

PURWOREJO – Meski tinggal di pelosok Desa tak halangi Tria Nufita Ayuni (24) tingkatkan literasi di lingkungan masyarakat.

Perempuan yang lahir 28 November 1995 tersebut, ialah warga asli Dusun Tirip, Desa Rendeng, Kecamatan Gebang, Purworejo.

Anak dari pasangan bapak Dawud dan ibu Mujilah.

Tria ialah nama akrabnya, dirinya mengenyam pendidikan di SD Negeri Rendeng, SMP Negeri 22 Purworejo dan Madrasah Aliyah Negeri Purworejo. Karena sejak kecil dirinya tinggal di Desa, ia sangat mengenal lingkungan desanya.

Usai mengenyam pendidikan di tingkat MA, tahun 2013 ia mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, dengan mengambil Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan lulus tahun 2017.

Sejak lulus kuliah ia bekerja di salah satu Bimbingan belajar terkenal di Semarang. Karena permintaan orang tua untuk tinggal di Kabupaten Purworejo.

Kini dirinya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kabupaten Purworejo. Namun, kecintaannya dalam dunia pendidikan tak luntur, ia bersama dengan pemuda Dusun Tirip lainya, membangun lingkar Literasi yang bernama Gubuk Ilmu.

Baca Juga:  RS Tjirowardoyo Terima Bantuan dari Pengkaji Lingkungan Hidup Indonesia

Gubuk Ilmu

Desa Rendeng, Dusun Tirip Kecamatan Gebang, Purworejo, memiliki jarak dari Kota Purworejo sejauh 7,6 KM dan dapat ditempuh selama 20 menit menggunakan kendaraan bermotor. Meski tidak begitu jauh dari kota, Dusun Tirip tidak beda dengan desa-desa lainnya, banyak pepohonan membuat nuansa asri desa sangat terasa. Masyarakat Dusun Tirip, didominasi petani padi dan kebun.

Kehadiran Gubuk Ilmu pada tahun 2019 tidak lepas dari nama Tria Nufita Ayuni, Azhari, Yanto dan Lestari. Kepedulian anak-anak muda tersebut dalam dunia literasi muncul karena keprihatinan yang mendalam ketika banyak anak-anak kecil di desanya yang kehilangan figur yang dapat membimbing mereka dalam menghadapi masa depan, khusunya dalam dunia literasi.

Tria menyampaikan, jika hanya mengandalkan pendidikan di sekolah, sangat kurang. Karena menurutnya, anak-anak di Desa tidak hanya butuh pendidikan formal, namun juga membutuhkan interaksi sosial dan mengenal lingkungan masyarakat tempat tinggal mereka, yang kemungkinan tidak didapatkan di pendidikan formal.

Baca Juga:  Pangeran Edward Syah Pernong: Kita Dukung DKI di Lampung

Jikalau mau mendapatkan pendidikan non formal, anak-anak harus ke kota terlebih dahulu, hal itu yang membuat pemuda Desa Tirip bergerak.

Dijelaskan, Gubuk Ilmu sendiri ialah Komunitas yang beranggotakan anak-anak muda dari Dusun Tirip dan umum. Dengan agenda setiap hari Minggu menggelar bimbingan belajar.

“Konsep kami seperti les, namun gratis. Anak-anak setiap minggunya bisa hadir mulai pukul 8 pagi hingga 10 siang, dengan membawa PR mereka masing-masing, jika tidak ada PR mereka didampingi untuk belajar sesuai minat dan bakatnya,” terangnya.

Gubuk Ilmu juga memiliki beberapa program kerja yang sudah disiapkan untuk membantu anak-anak mengenal lingkungan Desanya, seperti jelajah desa, budidaya ikan, menanam dan lain sebagainya.

“Komunitas ini terbentuk dengan dasar sosial, apa yang kami lakukan, semua dari sumbangan berbagai donatur,” terangnya Tria.

Dengan berjalannya waktu Gubuk Ilmu sendiri sampai saat ini juga masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana untuk melengkapi kebutuhan belajar mengajar bagi anak-anak.

Baca Juga:  Diskusi Kebangsaan HUT PRD ke-23, Mukhlis Serukan Persatuan Indonesia,  Singgung Pendidikan-Kesehatan Gratis

“Saya percaya setiap anak itu hebat di bidangnya dan mereka butuh orang-orang yang bisa membantu menemukan passion mereka, mendampingi dan mengajari mereka banyak hal. saya ingin menciptakan image bahwa anak desa, bisa! ,” tegas Tria.(Mahestya Andi Sanjaya)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Berpikir untuk Merdeka

Arsip

Copyright © 2015 Flex Mag Theme.Powered by suluh.co

To Top